30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Hari ke-9_Rasulullah ﷺ Menangis: Air Mata Tidak Mengurangi Keteguhan

30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Hari ke-9_Rasulullah ﷺ Menangis: Air Mata Tidak Mengurangi Keteguhan

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*

*Hari ke-9_Rasulullah ﷺ Menangis: Air Mata Tidak Mengurangi Keteguhan*

Ada saat ketika Rasulullah ﷺ menggendong putranya yang sedang menghadapi sakaratul maut.

Namanya Ibrāhīm.

Seorang putra yang tentu dicintai seorang ayah.

Ketika Ibrāhīm berada dalam detik-detik terakhir kehidupannya, Rasulullah ﷺ melihatnya, lalu kedua mata beliau mengalirkan air mata.

‘Abdurraḥmān bin ‘Auf رضي الله عنه sampai bertanya:

> وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

“Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?”

 

Seakan ada keheranan.

Bukankah beliau seorang Nabi?

Bukankah beliau manusia yang paling kuat imannya kepada Allah?

Mengapa beliau menangis?

Rasulullah ﷺ menjawab:

> يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ

“Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah kasih sayang.”

 

Kemudian beliau mengucapkan kalimat yang sangat indah:

> إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami. Dan sungguh, karena berpisah denganmu, wahai Ibrāhīm, kami benar-benar bersedih.”
(HR. al-Bukhārī)

 

Kalimat ini seperti membuka jendela ke dalam hati Rasulullah ﷺ.

**Mata menangis.

Hati bersedih.
Lisan tetap menjaga ridha Allah.**

Ketiganya dapat berada dalam satu hati yang sama.

 

🌱 *Ternyata ridha tidak berarti tidak menangis*

Kadang kita salah memahami keteguhan.

Kita mengira orang yang benar-benar beriman harus selalu terlihat kuat.

Tidak boleh menangis.

Tidak boleh terlihat rapuh.

Tidak boleh mengatakan bahwa dirinya sedang sedih.

Padahal Rasulullah ﷺ sendiri menangis.

Air mata beliau tidak mengurangi tawakal.

Kesedihan beliau tidak membatalkan ridha.

Dan rasa kehilangan beliau tidak mengurangi iman kepada takdir Allah.

Beliau bersedih sebagai seorang ayah, sekaligus tetap berserah sebagai seorang hamba.

Inilah keseimbangan yang sangat indah.

Islam tidak meminta manusia mematikan perasaannya.

Islam mengajarkan manusia bagaimana membawa perasaannya kepada Allah.

 

🤍 *Ada perbedaan antara bersedih dan berputus asa*

Rasulullah ﷺ tidak berkata:

“Aku tidak boleh sedih karena ini takdir Allah.”

Beliau justru mengakui:

> وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ

“Hati bersedih.”

 

Tetapi beliau memberikan batas:

> وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami.”

 

Di sinilah kedewasaan iman.

Perasaan boleh hadir, tetapi ia tidak harus menguasai seluruh diri.

Kita boleh menangis tanpa menyalahkan Allah.

Kita boleh kecewa tanpa kehilangan adab kepada-Nya.

Kita boleh merindukan seseorang yang telah pergi tanpa menolak ketetapan-Nya.

 

🌿 *Jejak Jiwa*

Ada orang yang sudah terlalu lama menahan tangis karena merasa harus selalu kuat.

Seorang ayah merasa tidak boleh menangis di depan keluarganya.

Seorang ibu menyimpan semua kesedihan agar anak-anaknya tidak mengetahui bahwa dirinya lelah.

Seorang pemimpin merasa harus selalu tampak kokoh.

Seorang guru menjadi tempat orang lain bercerita, tetapi tidak tahu kepada siapa ia dapat menceritakan kesedihannya sendiri.

Padahal manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi ini pernah menangis di hadapan orang lain.

Maka jangan malu karena air mata.

Ada tangisan yang lahir bukan karena iman sedang lemah.

Ada air mata yang justru lahir karena hati masih hidup.

Rasulullah ﷺ menyebutnya:

> إِنَّهَا رَحْمَةٌ

“Sesungguhnya itu adalah rahmah.”

 

❤️ *Hati yang Bergetar*

Barangkali yang perlu kita pelajari bukan bagaimana tidak menangis.

Tetapi bagaimana menangis tanpa kehilangan Allah.

Ketika kehilangan datang, katakan:

“Ya Allah, aku menerima ketetapan-Mu, tetapi Engkau mengetahui bahwa hatiku sedang sakit.”

Ketika seseorang yang kita cintai pergi:

“Ya Allah, aku ridha kepada-Mu, tetapi izinkan aku merindukannya.”

Ketika hidup terasa berat:

“Ya Allah, aku tetap percaya kepada-Mu, meskipun hari ini aku belum mampu tersenyum.”

Tidak ada pertentangan di sana.

Karena iman bukan berarti hati berubah menjadi batu.

Justru semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin halus hatinya.

 

🌱 *Renungan hari ini*

Adakah kesedihan yang selama ini kita sembunyikan karena takut dianggap lemah?

Mungkin hari ini kita tidak perlu melawannya.

Duduklah sebentar di hadapan Allah.

Ceritakan.

Jika air mata datang, biarkan.

Tidak semua air mata harus segera dihentikan.

Ada air mata yang perlu jatuh agar sesuatu yang berat di dalam dada perlahan dapat dilepaskan.

Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepada kita:

> إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ

 

Mata boleh menangis.
Hati boleh bersedih.

Yang kita jaga adalah satu hal:

> وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

 

Jangan sampai kesedihan memutus hubungan kita dengan Allah.

Karena ternyata menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis.

Menjadi kuat adalah tetap menemukan Allah di antara air mata.

Dan dari Rasulullah ﷺ kita belajar:

air mata bukan selalu tanda kelemahan.
Kadang ia adalah bukti bahwa di dalam dada kita masih ada rahmah.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #HatiYangBergetar #Rahmah #mahadaly #zawiyahjakarta

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *