30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Ketika Seorang Badui Menarik Selendang Rasulullah ﷺ dengan Kasar

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
*Ketika Seorang Badui Menarik Selendang Rasulullah ﷺ dengan Kasar*
Ada akhlak yang mudah dilakukan ketika semua orang memperlakukan kita dengan baik.
Tetapi kualitas hati sering kali terlihat justru ketika seseorang memperlakukan kita dengan buruk.
Anas bin Mālik رضي الله عنه menceritakan bahwa suatu hari ia berjalan bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu beliau mengenakan selendang Najrān yang bagian tepinya cukup kasar.
Tiba-tiba seorang Badui mendekati beliau.
Lelaki itu menarik selendang Rasulullah ﷺ dengan sangat keras.
Anas bahkan melihat bekas tarikan itu pada bahu Rasulullah ﷺ.
Lalu orang tersebut berkata:
> يَا مُحَمَّدُ، مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ
“Wahai Muhammad, perintahkan agar aku diberi dari harta Allah yang ada padamu.”
Bayangkan sejenak.
Ia tidak meminta dengan lembut.
Tidak menggunakan bahasa yang halus.
Ia bahkan menarik pakaian Rasulullah ﷺ sampai meninggalkan bekas pada tubuh beliau.
Bagaimana Rasulullah ﷺ bereaksi?
Anas melanjutkan:
> فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ، ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ
“Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya lalu tersenyum, kemudian memerintahkan agar ia diberi.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Beliau menoleh.
Beliau tersenyum.
Lalu beliau memberi.
Betapa tinggi akhlak itu.
🌱 *Ketika kita sebenarnya punya alasan untuk marah*
Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan untuk menegur orang tersebut.
Para sahabat berada di sekitar beliau.
Tidak seorang pun akan menganggap aneh jika beliau merasa tersinggung.
Tetapi yang beliau lihat tampaknya bukan hanya cara buruk orang itu meminta.
Beliau juga melihat kebutuhan di balik permintaannya.
Inilah kemampuan yang tidak mudah:
melihat manusia lebih dalam daripada perilakunya sesaat.
Kadang seseorang berbicara kasar karena memang buruk akhlaknya.
Tetapi kadang ia sedang lapar.
Sedang takut.
Sedang tertekan.
Sedang membawa masalah yang tidak kita ketahui.
Ini tentu tidak berarti semua perilaku kasar harus dibenarkan.
Tetapi Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menjadikan satu perilaku buruk sebagai definisi seluruh manusia.
🤍 *Tidak setiap provokasi membutuhkan reaksi*
Di zaman kita, hal kecil dapat dengan cepat menjadi pertengkaran besar.
Seseorang menulis komentar yang tidak menyenangkan.
Kita membalas.
Ia membalas lagi.
Kita membuat tangkapan layar.
Kita unggah.
Orang lain ikut berkomentar.
Kemudian persoalan yang sebenarnya kecil berubah menjadi luka yang panjang.
Kadang kita merasa:
“Kalau saya diam, berarti saya kalah.”
Padahal Rasulullah ﷺ menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Tidak membalas bukan selalu tanda kelemahan.
Kadang justru orang yang paling kuat adalah orang yang mampu memilih respons ketika sebenarnya ia mampu membalas.
🌿 *Jejak Jiwa*
Ada satu kemampuan jiwa yang sangat mahal:
memberi jeda antara perlakuan orang lain dan respons kita.
Seseorang berkata kasar.
Jangan langsung menjawab.
Seseorang membuat kita tersinggung.
Jangan langsung menulis.
Seseorang mengirim pesan yang membuat darah naik.
Jangan langsung menekan send.
Berikan ruang beberapa detik.
Karena sering kali penyesalan terbesar bukan datang dari apa yang orang lain lakukan kepada kita,
tetapi dari apa yang kita lakukan ketika sedang marah.
Rasulullah ﷺ ditarik begitu keras hingga meninggalkan bekas.
Namun orang itu tidak berhasil menarik beliau keluar dari kemuliaan akhlaknya.
Ini luar biasa.
Orang lain dapat menarik selendang beliau.
Tetapi orang lain tidak dapat menarik kendali atas hati beliau.
❤️ *Hati yang Bergetar*
Barangkali inilah salah satu bentuk kemerdekaan jiwa:
suasana hati kita tidak sepenuhnya dikendalikan oleh perilaku manusia.
Jika orang memuji, kita tidak terbang terlalu tinggi.
Jika orang mencela, kita tidak langsung runtuh.
Jika orang kasar, kita tidak otomatis menjadi kasar.
Karena kalau setiap perlakuan manusia menentukan bagaimana kita bersikap,
berarti kendali atas akhlak kita sebenarnya berada di tangan mereka.
Rasulullah ﷺ mengajarkan sebaliknya.
Akhlak kita adalah pilihan kita di hadapan Allah.
🌱 *Renungan hari ini*
Cobalah mengingat satu orang yang akhir-akhir ini membuat kita kesal.
Kemudian tanyakan:
“Apakah saya sedang merespons siapa dirinya, atau hanya merespons satu perilaku buruknya?”
Dan ketika suatu hari seseorang berbicara kasar kepada kita, cobalah berhenti beberapa detik sebelum menjawab.
Tidak semua perkataan membutuhkan balasan.
Tidak semua provokasi membutuhkan pertengkaran.
Tidak semua kesalahan membutuhkan penghukuman.
Terkadang ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada memenangkan perdebatan:
memenangkan diri sendiri.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kelembutan bukanlah ketidakmampuan untuk marah.
Kelembutan adalah kemampuan untuk tidak menyerahkan kendali diri kepada kemarahan.
Orang Badui itu menarik selendang Rasulullah ﷺ hingga membekas pada tubuh beliau.
Tetapi ia tidak berhasil menarik rahmah dari hati beliau.
Dan mungkin hari ini, bentuk cinta kita kepada Rasulullah ﷺ adalah belajar satu hal sederhana:
> Jangan biarkan kekasaran orang lain menentukan kualitas akhlak kita.
Karena kita tidak selalu dapat memilih bagaimana manusia memperlakukan kita.
Tetapi kita masih dapat memilih akan menjadi manusia seperti apa ketika menghadapinya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #HatiYangBergetar #AkhlakRasulullah #mahadaly #zawiyahjakarta
