7 Perintah & 7 Larangan Rasulullah ﷺ
Jejak Jiwa – Tadabbur Hadis Shahih Bukhari 1163

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin ‘Azib RA, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh perintah dan tujuh larangan yang menjadi pedoman hidup penuh kasih, adab, dan kesederhanaan:

Tujuh Perintah Rasulullah ﷺ:

1. Mengiringi jenazah
2. Menjenguk orang sakit
3. Memenuhi undangan
4. Menolong orang yang dizalimi
5. Berlaku adil dalam pembagian
6. Menjawab salam
7. Mendoakan orang yang bersin

Tujuh amalan ini adalah cermin hidup yang menjalin hubungan sosial yang lembut dan bernilai ibadah.

✨ maka ingatlah
Nabi Ibrahim AS, saat kedatangan tamu malaikat, segera menyambut dan menyembelih anak sapi gemuk (QS. Adz-Dzariyat: 26). Ia mengajarkan kita bahwa memuliakan tamu dan memenuhi undangan adalah bagian dari adab keimanan.
Nabi Musa AS, berdiri tegar menolong kaum tertindas Bani Israil dari kezaliman Fir’aun—sebuah teladan nyata dari menolong orang yang dizalimi dengan pengorbanan dan kesabaran.
Imam Ahmad bin Hanbal selalu keluar rumah untuk mengiringi jenazah kaum Muslimin, meski ia sedang sakit. Ia berkata, “Ini hak mereka atas kita.”

Tujuh Larangan Rasulullah ﷺ:

1. Menggunakan bejana dari perak
2. Memakai cincin emas
3. Memakai kain sutera kasar
4. Memakai kain sutera halus
5. Memakai baju dari sutera
6. Memakai baju bersulam sutera
7. Memakai baju dari sutera tebal

Larangan ini mengajarkan kita untuk hidup sederhana, menghindari kemewahan yang mengikis kepekaan batin.

✨ maka ingatlah
Umar bin Khattab RA, Khalifah agung, hidup begitu sederhana. Ia pernah menangis saat melihat Nabi ﷺ tidur di atas tikar kasar, hingga punggung beliau berbekas. Ketika ditanya, Nabi menjawab, “Apa urusanku dengan dunia?” (HR. Bukhari).
Hasan al-Bashri pernah berkata, “Sungguh aku telah menjumpai suatu kaum (sahabat Nabi) yang tidak bangga dengan pakaian atau makanan mereka, tetapi dengan ketakwaan dan akhlak mereka.”
Imam Malik enggan memakai pakaian mewah ketika mengajar hadis, meskipun beliau mampu. Ia berkata, “Hikmah tidak bisa masuk ke hati yang dipenuhi kemewahan dunia.”

Islam adalah agama keseimbangan: antara ruh dan jasad, antara hak Allah dan hak sesama. Amalan sosial bukan hanya etika, tetapi bentuk ketundukan pada perintah Ilahi.

Renungkanlah, sahabat Jejak Jiwa,
Apakah kita sudah menjadikan amalan-amalan ini sebagai jalan harian kita?
Dan adakah yang masih harus kita tinggalkan demi menjaga kemurnian jiwa?

Jejak Jiwa
Menapak hikmah, menelusuri makna

#jejakjiwa #hijrah #motivasiislam

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *