Rumah Nabi Muhammad SAW sangat bersahaja. Rumahnya yang sederhana, sudah menjadi makam dan saat ini berada di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Rumahnya hanya berbentuk kotak dengan dinding kasar dan kusam dan pada bagian dalamnya jauh dari kata mewah karena hanya terdapat beberapa barang yang selalu digunakan setiap harinya.
Rasulullah menjalani hidupnya dengan cara yang sangat sederhana. Jauh dari kesan penguasa. Sebagai pemimpin umat, dia tidak tinggal di rumah wewah apalagi istana yang megah. Sebaliknya, Rasulullah tinggal di rumah yang hampir menyerupai gubuk. Sangat sederhana sekali. Rumahnya tidak terlalu rendah, tidak juga terlalu tinggi. Tidak terlalu sempit sehingga penghuninya sesak, tidak pula terlalu luas sehingga mubadzir dan sia-saia. Tidak pula banyak ruang kosong sehingga ditempati serangga. Tidak ada pintu di rumah ini. Sekadar kain atau tirai yang digunakan sebagai penutup. Seluruh dinding terbuat dari lempung (batu yang dilapisi tanah liat), dengan atap dari pelepah daun kurma. Di dinding rumah tergantung busur, anak panah, dan pedang. Tak banyak perabot pula. Hanya meja dan alas tidur, juga seperangkat alat dapur dan alat makan. Dan yang menjadi bantal penyangga kepala beliau adalah sebuah bantal yang terbuat dari kulit berisikan serabut ijuk korma. Rumah beliau juga tidak diberi wewangian yang justru mengganggu penghuninya. Namun rumah Rasulullah SAW wangi karena beliau biasa memakai minyak wangi. Desain rumah Rasulullah benar-benar ideal dan bermanfaat serta serasi dengan tubuh dan kesehatan.
Dalam kitab shohih adabul mufrod karya Imam Bukhori menyebutkan bahwa Daud Bin Qais berkata:
” Saya melihat kamar Rasulullah saw atapnya terbuat dari pelepah kurma yang terbalut dengan serabut, saya perkirakan lebar rumah ini, kira kira 6 atau 7 hasta (1 hasta sama dengan 0,45 meter), saya mengukur luas rumah dari dalam 10 hasta, dan saya kira tingginya antara 7 dan 8, saya berdiri dipintu aisyah saya dapati kamar ini menghadap Maghrib (Marocco).” Sebagai bahan peghitungan, 1 hasta sama dengan 0,45 meter. Jadi, rumah Rasulullah panjangnya tidak lebih dari 5 meter, lebarnya hanya 3 meter dan tinggi atap 2,5 meter.
Nabi Muhammad SAW hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Meski beliau adalah seorang Rasul dan pemimpin seluruh umat Islam, tapi Rasulullah lebih memilih hidup sederhana saja daripada hidup bergelimang harta yang bisa melupakan kehidupan akhirat.
Hafshah RA saat ditanya, “Apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas itulah Rasulullah SAW tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.” Manakala waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat empat. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah SAW membalas, “Kembalikan kepada asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.” (HR Tirmidzi)
Cerita tentang tempat tidur Rasulullah SAW juga pernah menyembabkan Umar b. Khatab menangis. Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah SAW. Umar mendapati Rasulullah sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras.
“Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab. Rasulullah yang mulia pun sampai bertanya kepada Umar, “Mengapa Engkau menangis, wahai Umar?”
Umar b. Khattab menjawab: ” Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membekas pada tubuhmu. Engkau adalah Rasulullah SAW, Utusan Allah SWT. kekayaanmu hanya seperti ini. sedangkan kisra dan raja-raja lainnya hidup bergelimangkan kemewahan” .
“Nabi Muhammad SAW menjawab: apakah engkau tidak rela jika kemewahan itu untuk mereka di dunia dan untuk kita di akhirat nanti?” (HR. Bukhari Muslim).
Lalu Nabi SAW berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya,” ujar Rasul SAW. Tak ada kasur dan bantal yang empuk, tak ada AC di musim panas maupun penghangat badan di kala musim dingin, tak ada sofa apalagi springbed.
Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah makan sampai kenyang, Aisyah RA menceritakan bagaimana keseharian rumah tangga Nabi SAW, “Kami, keluarga Muhammad SAW selama sebulan pernah tidak menyalakan api (memasak) dan hanya memakan kurma secukupnya dan air”. Aisyah RA juga menceritakan bahwa Nabi SAW pernah datang kepadanya dan bertanya: “Apakah engkau punya makanan? Ia menjawab tidak, kemudian Beliau SAW berkata: Kalau begitu aku berpuasa”. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA “Rasulullah SAW meninggalkan dunia ini dan beliau tidak pernah kenyang dari gandum dalam satu hari, baik makan siang maupun makan malam”.
Bahkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, baju besi yang beliau gunakan ketika berperang ketika masih hidup digadaikan kepada seorang Yahudi dengan beberapa karung gandum.
Zaid b. Tsabit pernah berkata bahwa: Anas b. Malik pelayan Rasulullah SAW pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah SAW yang terbuat dari kayu yang keras dan dipatri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku, wahai Tsabit inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu, dan susu. (HR. Tirmidzi)
Baginda Nabi Muhammad SAW. hidup dengan sangat zuhud. Seperti dituturkan oleh Aisyah, betapa Rasulullah hanya mempunyai dua baju, tidur di atas daun pelepah kurma, perutnya selalu lapar, bahkan pernah diganjal dengan batu, dan sangat sedikit tidur. Rasulullah SAW juga mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya, menambal baju sendiri, dan memerah kambingnya sendiri. Seperti itulah pekerjaan keseharian Rasululah, selalu memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri, tanpa membebani keluarga atau orang lain. Jika beliau mau tentulah sangat mudah menggantikan pekerjaan itu kepada orang lain, karena beliau adalah kepala rumah tangga sekaligus kepala negeri Arab pada saat itu.
Padahal beliau tidak hidup sendiri. Beliau adalah seorang nabi yang memiliki umat terbanyak. Memiliki banyak sahabat, lebih dari ratusan ribu, dan banyak diantara mereka yang mengadukan masalahnya pada beliau SAW, tak bisa dibayangkan, bagaimana sibuknya Nabi Muhammad SAW dalam melayani umatnya, sedangkan beliau dan keluarganya sampai sebulan tidak pernah masak.
MAKET DAN DIORAMA RUMAH RASULULLAH SAW
Saat ini ada miniatur seputar rumah Nabi Muhammad SAW di Museum Nabi Muhammad. Replikanya dibuat sepersis mungkin dengan aslinya, berdasarkan petunjuk dari sejumlah hadist dan kitab-kitab.
Nama resminya adalah Muhammad The Messenger of Allah Exhibition.
Museum ini dikelola oleh Al Madinah Al Munawwarah Research & Studies Center.
Letaknya di depan Gerbang 8 Masjid Nabawi. Museum ini buka setiap hari secara gratis dari pukul 08.00-12.00 lalu istirahat dan buka lagi pukul 16.30-20.00.
Sungguh indah nian perumpamaan Nabi SAW akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Semoga ini bisamenjadi cerminan buat kita semua.
Dari berbagai sumber
Badrah Uyuni
#fitotravel #travel #islam #nabi #haji #mekah #madinah #masjid #umroh #kabah #quran #ibadah #SHIBGHATULLAH #zawiyahjakarta #rumahnabi

