Maqam Ibrahim, bangunan yang sepintas mirip seperti sangkar dan letaknya cukup dekat dengan Ka’bah. Di dalamnya, terdapat sepasang pijakan kaki.
Awalnya, banyak orang menduga bahwa Maqam Ibrahim merupakan kuburan Nabi Ibrahim. Hal itu karena pengunaan kata maqam dalam penamaannya. Dugaan tersebut tentu saja keliru.
Dari sudut bahasa, kata maqam dalam Maqam Ibrahim berasal dari kata al-maqam. Artinya, tempat kaki berpijak. Adapun yang dipijak Nabi Ibrahim adalah sebuah batu surga pemberian Allah SWT guna memudahkannya membangun Ka’bah.
Kemudian di tengah proses pembangunan itu (atas izin Allah) permukaan batu itu menjadi lunak sehingga telapak kaki Nabi Ibrahim tercetak di atasnya.
Dahulu batu pijakan Nabi Ibrahim ini letaknya menempel tepat di samping ka’bah. Orang-orang terdahulu sengaja mendiamkannya karena batu ini bersejarah, namun mereka tidak meyakini keutamaan tertentu dari batu ini.
*Menjadi Tempat Shalat
Suatu saat setelah Rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam selesai melakukan thawaf, Umar Bin Khattab menyampaikan kepada Rasulullah tentang suatu gagasan,
يا رسول الله لو صلينا خلف المقام
“Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita shalat di belakang Maqam Ibrahim” (HR Tirmidzi)
Maka tidak lama setelah itu turunlah wahyu kepada Rasulullah sebagai jawaban dari gagasan Umar Bin Khattab,
واتخذوا من مقامإبراهيم مصلى
“dan hendaknya kalian menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat untuk shalat” (QS Al-Baqarah: 125)
Setelah itu pun Rasulullah selalu melakukan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim setelah Thawaf, bahkan para ulama pun mengatakan bahwa shalat dua rakaat setelah thawaf adalah salah satu sunnah yang tidak boleh ditinggalkan dalam rangkaian thawaf baik qudum, ifadhah, wada’ ataupun thawaf sunnah.
Maqam Ibrahim merupakan saksi bisu perjuangan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah. Al-Azraqy meriwayatkan dari Ibnu Juraij, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Ibrahim AS melangkah diiringi malaikat, awan, dan burung. Mereka adalah petunjuk jalan, hingga Ibrahim AS menempati Baitul Haram, sebagaimana laba-laba menempati rumahnya. Dia melakukan penggalian dan memunculkan fondasi dasarnya sebesar punggung unta. Batu itu hanya dapat digerakkan oleh tiga puluh orang laki-laki.”
Kemudian, Allah SWT berfirman kepada Nabi Ibrahim. Isi firman tersebut tak lain adalah agar Nabi Ibrahim mendirikan sebuah rumah untuk-Nya. Namun, Nabi Ibrahim belum mengetahui di mana letak tepatnya Allah SWT menginginkan bangunan tersebut didirikan.
Nabi Ibrahim lantas bertanya kepada Allah SWT di mana dia harus membangun rumah itu untuk-Nya. Allah SWT pun berfirman dan menunjukan tempatnya kepada Nabi Ibrahim.
Setelah mengetahui tempatnya, Nabi Ibrahim mendatangi anaknya, Nabi Ismail, dengan maksud meminta bantuannya. Ketika keduanya telah bertemu, Nabi Ibrahim pun menceritakan kepada anaknya bahwa dia diperintahkan Allah SWT untuk membangunkan rumah untuk-Nya.
Perpindahan Tempat Maqam Ibrahim
Selanjutnya pada saat Umar Bin Khattab diangkat menjadi khalifah, jumlah umat Islam ketika itu pun semakin bertambah dan para jamaah yang thawaf pun semakin banyak.
Para sahabat ketika itu mulai merasakan posisi Maqam Ibrahim yang terletak di sisi Ka’bah semakin mengganggu lalulintas para jamaaj yang thawaf. Maka Umar pun memutuskan agar Maqam Ibrahim letaknya ditarik mundur sejauh lebih kurang 18 meter agar para jamaah lebih merasa nyaman dalam thawaf.
Para ulama dari kalangan sahabat ketika melihat kebijakan Umar ini tidak ada yang menentang. Mereka justru mengatakan bahwa Umar-lah orang yang paling berhak memindahkan letak Maqam Ibrahim. Karena melalui gagasan beliau Allah meridhainya sehingga turunlah wahyu dalam surat Al-Baqarah: 125.
*Bentuk Telapak Kaki Nabi Ibrahim
Lalu bagaimana bentuk dan seberapa besar telapak kaki Nabi Ibrahim yang tercetak dalam Maqam?
Allahu a’lam seberapa ukuran yang pasti, karena sesungguhnya bekas cetakan telapak kaki Nabi Ibrahim pun kini telah hilang.
Seiring banyaknya orang yang thawaf dengan memegang/mengelus Maqam Ibrahim, cetakan telapak kaki beliau pun menjadi hilang tidak berbekas. Karenanya jika kini kita melihat ke dalam kurungan kaca pun tidak kita jumpai cetakan kaki beliau secara jelas.
Namun pada sisi lain, sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Maqam Ibrahim adalah tempat atau lokasi di mana Nabi Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah. Maka tak heran jika ada ulama yang berpendapat bahwa Maqam Ibrahim itu adalah seluruh area Masjidil haram yang tidak terbatas pada letak prasasti tapak kaki beliau yang berada di sebelah Ka’bah. Namun pendapat ini tidak kuat, karena kebanyakan ulama lebih menegaskan bahwa Maqam Ibrahim itu adalah tempat atau posisi berdirinya Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah.
Maqam Ibrahim Saat Ini
Pada awalnya Maqam Ibrahim hanyalah sebuah batu yang di permukaannya terdapat bekas pijakan tapak kaki, panjangnya 27 cm dan lebar 14 cm. Dua tapak kaki yang membekas di permukaan batu tersebut memiliki kedalaman yang berbeda, ada yang 10 cm dan sebelahnya lagi 9 cm. Prasasti ini masih terus dijaga oleh umat belasan abad lamanya, batu bekas pijakan Nabi Ibrahim ini, pernah diletakkan di dalam lemari terbuat dari perak yang panjangnya 6 m dan lebar 3 meter.
Saat ini Maqam Ibrahim telah diletakkan dalam suatu wadah yang tebuat dari batu marmer dengan panjang tiap sisinya 1 m dan tingginya 36 cm. Pada tahun 1418 H Maqam Ibrahim ditutup dengan kaca anti panas setebal 1 cm, pembangunan ini diinisiasi oleh Raja Fahd.
Tempat ini diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Tak cuma itu, di sini pula para jemaah haji juga merenungkan kembali perjuangan yang dilakukan Nabi Ibrahim. Sebab itu banyak jemaah yang rela antre dan berdesakan untuk dapat melaksanakan salat dan berdoa di Maqam Ibrahim.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan, di lokasi maqam, Nabi Ibrahim berdoa tiada henti. Ia memohon agar Mekah dijadikan tempat yang aman serta menjadikan keturunannya sosok-sosok yang berbakti kepada-Nya untuk kemaslahatan manusia. Doa tersebut terdapat dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 126.
“Ya Tuhan, jadikan kota ini negeri yang aman dan anugerahilah rezeki kepada penduduknya, diantaranya buah-buahan bagi mereka yang beriman kepada Tuhan, Hari Kemudian”
Dari berbagai sumber
Badrah Uyuni

