Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Ungkapan yang sejenis dengan istilah di atas: kalau ada air dari sungai menuju ke atas gunung, kalau ada bebek yang bertanduk, atau kalau ada garam yang rasanya manis. Sebuah ungkapan yang menyatakan impossible atau mustahil.

 

Benarkah unta tidak bisa masuk ke dalam lobang jarum? Merupakan sebuah pertanyaan yang bisa dijawab “ya” dan bisa dijawab “tidak”. Dijawab ya bahwa unta tidak bisa masuk ke dalam lubang jarum, karena lubang jarum lebih kecil daripada unta tersebut.

 

Dijawab tidak bahwa unta bisa masuk ke dalam lubang jarum, tentu kalau jarumnya lebih besar dari unta tersebut. Namun ini bukan kelaziman dan tidak termasuk dalam pertanyaan di atas.

 

Berkenaan dengan itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’raf: 40)

 

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk ruh-ruh mereka yang keluar dari jasad mereka. Perkataan dan perbuatan dalam kehidupan mereka tidak akan naik menuju Allah Azza wa Jalla, karena perbuatan-perbuatan mereka itu buruk. Sedangkan yang akan diangkat keharibaan Allah hanyalah perkataan yang baik dan perbuatan yang saleh, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

 

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. (QS. Fathir: 10”. (Tafsir ath-Thabari, 12/421)

 

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah mereka tidak akan masuk Surga selamanya. Karena, jika (penetapan) sesuatu disyaratkan dengan perkara yang mustahil terjadi, maka itu menunjukkan adanya penekanan pada kemustahianya.

 

Komentar Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah terhadap الْمُجْرِمِينَ : “Yaitu orang-orang yang banyak kejahatannya dan sikapnya yang melewati batas”. (Taisir Karimir-Rahman)

 

*Kekal di neraka*

 

Kesepakatan ahlussunnah Wal jamaah: Orang yang mati dalam keadaan kafir, musyrik dan mengingkari Allah subhanahu wata’ala dan risalah Nabi Muhammad akan kekal masuk ke dalam neraka. Sedangkan mu’min ‘ashin (seorang mukmin yang bermaksiat selain menyekutukan Allah) boleh jadi diampuni oleh Allah, boleh jadi dihukum terlebih dahulu lalu kemudian diampuni. Yang jelas orang yang dalam hatinya ada keimanan pasti akan dikeluarkan dari neraka alias tidak kekal di dalamnya.

 

*Renungan Ayat:*

 

*Satu,* Mendustakan ayat Allah dan bersikap arogan terhadapnya merupakan kekafiran yang terbesar. Wal ‘iyadz billah.

 

*Dua,* Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuk untuk ruh-ruh orang-orang kafir ketika mereka mati. Allah menolak kehadiran ruh-ruh tersebut. Wal ‘iyadz billah.

 

*Tiga,* Perkataan dan perbuatan orang-orang kafir tidak diterima oleh Allah, karena di antara syarat diterima amal adalah iman.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *