Oleh: Hayat Abdul Latief

zawiyahjakarta.or.id – Kita harus bersyukur atas nikmat pendengaran. Sedikit sekali orang yang mensyukurinya. Sedangkan orang tuna rungu telah diambil darinya nikmat pendengaran.

قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

“Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk: 23)

Dari ayat ini kita tahu dan juga dibuktikan secara ilmiah, bahwa alat indra yang pertama kali berfungsi adalah telinga kemudian mata dan hati atau akal pikiran.

Banyak informasi yang berseliweran di antara kita di era digital ini, kita harus bijak menyikapinya dengan memilih informasi yang terbaik lalu mengikuti atau melaksanakannya.

Ada berita dusta (hoaks) yang karena diulang-ulang kemudian seolah-olah menjadi berita benar atau di satu sisi ada berita benar yang karena media tidak mendukungnya seolah menjadi berita hoaks. Ada informasi yang disnformasi dan ada dusta yang dibungkus dengan kemasan kamuflase sehingga bercampur antara hak dan batil. Al-Qur’an memberikan arahan bagi Ulul Albab:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah golongan ulul albâb.” (QS. Az-Zumar: 18)

Informasi yang paling akurat yang tidak ada kedustaan darinya adalah bersumber Al-Qur’an, berkumpul di dalamnya nasehat penuh hikmah, ilmu orang yang terdahulu dan terkemudian, serta menjadi panduan umat manusia yang ingin selamat dunia-akhirat.

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf: 204)

Baca juga : varian muslim

Ada 2 nasehat yang berguna untuk kita:

1. Nasehat yang diam yaitu kematian. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HSR. Tirmidzi)

Imam Abu Nu’aim dalam “Ma’rifatus Shohabah” (no. 195) meriwayatkan dengan sanadnya : Akhbaronaa Sulaiman bin Ahmad haddatsanaa Ishaq Al Khuzaa’iiy, haddatsanaa Az-Zubair bin Bakaar,

وكان نقش خاتمه رضي الله عنه كفى بالموت واعظا يا عمر

Adalah ukiran cincinnya Umar tertulis: “Cukuplah kematian sebagai nasehat’.

2. Nasehat yang berbicara yaitu Al-Qur’an.

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)

Berakibat fatal kalau kita tidak menggunakan pendengaran dengan sebaik-baiknya untuk menerima nasehat yang benar. Di antara penyesalan penduduk neraka yaitu karena di dunia tidak mau mendengar dan tidak mau menggunakan akal pikiran – wal ‘iyadz billah. Al-Qur’an menyebutkan:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: ‘Seandainya dulu kami di dunia mau mendengarkan dan mau menggunakan akal kami untuk memahami petunjuk Allah, maka mestinya sekarang kami tidak termasuk kedalam penghuni neraka yang menyala-nyala.’” (QS. Al-Mulk: 10)

Faedah:

Satu, kita harus bersyukur atas nikmat pendengaran. Orang tuna rungu telah diambil darinya nikmat pendengaran.

Dua, alat indra yang pertama kali berfungsi adalah telinga kemudian mata dan hati atau akal pikiran.

Tiga, banyak informasi yang berseliweran di antara kita di era digital ini, kita harus bijak menyikapinya dengan memilih informasi yang terbaik lalu mengikuti atau melaksanakannya.

Empat, ada 2 nasehat yang berguna untuk kita. Nasehat yang diam yaitu kematian dan nasehat yang berbicara yaitu Al-Qur’an.

Lima, diantara penyesalan penduduk neraka yaitu karena di dunia tidak mau mendengar dan tidak mau menggunakan akal pikiran – wal’iyadz billah. Wallahu a’lam.

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *