Oleh Hayat Abdul Latief
Bisa saja saya mengucapkan kata-kata puitis, misalnya begini:
“Bagaimana mungkin engkau mendoakan kematian kepadaku sedangkan aku adalah hayat (hidup)”
Kata-kata tersebut sudah pasti salah besar menurut tinjauan akidah dan kenyataan, karena saya, suatu saat, pasti mati dan yang tidak pernah mati hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Mungkin yang harus tetap saya jaga adalah agar semangat dan karya saya tetap hidup.
Gula pasti manis, garam pati asin dan asam sesuai dengan namanya itu rasanya asam. Tidak mungkin gula tidak manis, garam tidak asin dan seterusnya. Itulah nama yang sesuai dengan kenyataan. Maka nama sesungguhnya adalah branding. Meskipun tidak sedikit nama dan fungsi menipu yang tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya namanya Sholeh namun kelakuannya salah, fungsi sosialnya unit keamanan, kenyataannya pembuat keonaran, rakyat mempercayakan fungsi mensejahterakan kepadanya, faktanya menyengsarakan dan contoh lainnya.
Dua nama atau branding di bawah ini sesuai dengan kenyataan, yaitu Allah subhanahu wata’ala dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
*Allah subhanahu wata’ala*
Allah merupakan nama yang Dia sematkan untuk Diri-Nya, sesuai dengan Firman-Nya:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Taha: 14)
Kalangan ahli ushul dan beberapa ulama berpendapat bahwa kata Allah [الله] adalah kata jamid (kata yang tidak memiliki kata asal). Karena kata ‘Allah’ tidak memiliki asal-usul, maka tidak perlu dicari kata dasarnya dan tidak boleh dihilangkan alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله]. Mereka beralasan, nama Allah tidak memiliki kata asal, karena jika memiliki kata dasar berarti kata ini turunan. Sementara nama Allah itu qadiim (ada sejak awal), sementara sesuatu yang qadiim tidak memiliki asal.
Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa kata Allah adalah kata musytaq (kata turunan yang memiliki kata dasar). Jika kata Allah adalah kata turunan, lalu apa asal usul dari kata Allah? Ulama ahli bahasa berbeda pendapat dalam masalah ini:
1. Kata Allah berasal dari kata al-Ilaah (الإِلَـه) yang itu merupakan turunan dari kata Aliha – Ya’lahu [أَلِـهَ – يَـأْلَـهُ] yang artinya menyembah atau beribadah. Kata ilaah adalah bentuk masdar (kata dasar) yang bisa bermakna sebagai isim maf’ul yang berarti menjadi al-Ma’luh [الـمـألوه] yang artinya Tuhan Yang disembah.
2. Kata Allah berasal dari kata laaha – yaliihu [لاه – يليه] yang artinya tersembunyi. Yang ini mengisyaratkan bahwa diberi nama Allah karena Dia yang tersembunyi dari semua makhluk-Nya. (I’rab al-Quran wa Bayanuhu, Muhyiddin Darwisy, 1/9)
Menurut makna ini Allah merupakan Tuhan yang harus kita disembah. Selain dari-Nya, bukan tuhan dan tidak boleh disembah.
لا اله ألا الله
“Tidak ada yang (berhak) disembah kecuali Allah.”
Sebuah kalimat yang didakwahkan oleh para nabi kepada umatnya. Siapa yang mengambil kalimat ini beruntung dan mulia, dan siapa yang menolaknya rugi dan terhina.
*Al-Qur’an Membatalkan Ketuhanan Fir’aun*
Meskipun mengaku dirinya sebagai Tuhan Lantas apakah Firaun betul-betul Tuhan?
فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلاخِرَةِ وَٱلْأُولَىٰٓ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَىٰٓ
(Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 24-26)
Firaun mengaku dirinya sebagai Tuhan, tidak ada Tuhan selain dirinya. Pada kenyataannya dia mendapatkan azab di dunia (mati tenggelam di laut) dan azab di akhirat. Apakah pantas Fir’aun sebagai Tuhan mendapatkan azab? Tentu saja tidak. Karena Tuhan harus berdaulat atas dirinya dan berkuasa atas segala sesuatu. Kalau tidak punya kedaulatan atas dirinya dan kekuasaan atas segala sesuatu, maka sudah dapat dipastikan bukanlah Tuhan.
*Nabi Isa: Hamba dan Utusan Allah subhanahu wata’ala*
Nabi Isa tidak pernah mengumumkan dan mengaku diri dan ibunya sebagai Tuhan. Al-Qur’an menyebutkan:
وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗقَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗاِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (QS. Al-Ma’idah: 116)
Ajaran trinitas atau menyematkan divinity (ketuhanan) kepada nabi Isa merupakan ajaran yang tidak sesuai dengan Bible itu sendiri. Ada versi Bible yang tulisannya berwarna merah (menunjukan kata-kata nabi Isa) dan lainnya (itu bukan kata-kata nabi Isa). Ternyata tidak ada kata-kata yang berwarna merah yang menunjukkan bahwa dia mengaku sebagai Tuhan. Trinitas atau menyematkan ketuhanan kepada nabi Isa adalah bukan ajaran beliau sendiri melainkan tambahan atau sisipan yang tidak boleh dinisbatkan kepadanya.
*Muhammad shalallahu’alaihi wasallam*
Setiap zaman, baik ketika masih hidup atau sepeninggalnya, tidak kosong dari orang yang yang membenci, dengki dan ‘membunuh karakter Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dengan berbagai cacian, fitnah dan tuduhan. Apakah kemudian beliau menjadi terhina oleh karenanya. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam:
أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ
“Tidakkah engkau merasa takjub bagaimana Allah memalingkan dariku (menyelamatkanku) cacian dan kutukan orang-orang Quraisy terhadapku. Mereka biasa mencaci seorang yang tercela dan mengutuk seorang yang tercela sedangkan saya adalah Muhammad (orang yang banyak mendapatkan pujian). (HR. Al-Bukhari 3269 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sesuai dengan namanya Muhammad, beliau akan selalu terpuji sepanjang masa. Allah telah memberikan garansi kemuliaan kepadanya:
وَرَفَعْنَالَكَذِكْرَكَۗ
“Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu”
Denmark boleh membuat kartun penghinaan terhadap Rasulullah, Prancis boleh mengutuk beliau, pengusung islamofobia boleh memburuk-burukkan namanya dan media Barat boleh menyematkan namanya sebagai pemicu terorisme, namun faktanya agama Islam merupakan agama yang paling pesat pertumbuhannya di Eropa, Australia dan Amerika (Barat) di banding agama lainnya. Konversi menjadi muslim berarti menjadi pengikut nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.
*Faedah:*
*Satu,* nama merupakan branding yang harus sesuai dengan kenyataan.
*Dua,* Allah merupakan nama yang Dia sematkan untuk Diri-Nya.
*Tiga,* Tuhan harus berdaulat atas dirinya dan berkuasa atas segala sesuatu. Kalau tidak punya kedaulatan atas dirinya dan kekuasaan atas segala sesuatu, maka sudah dapat dipastikan bukanlah Tuhan.
*Empat,* ajaran trinitas atau menyematkan divinity (ketuhanan) kepala nabi Isa merupakan ajaran yang tidak sesuai dengan Bible itu sendiri.
*Lima,* sesuai dengan namanya Muhammad, beliau akan selalu terpuji sepanjang masa. Allah telah memberikan garansi kemuliaan kepadanya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

