Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Atribut sakit, lapar dan haus tidak layak bagi keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Atribut-atribut tersebut menunjukkan sifat kekurangan dan kelemahan yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah Tuhan semesta alam. Allah lah yang pertama kali mengajari hamba-Nya untuk menakwilkan sifat yang tidak layak bagi-Nya kepada makna yang layak. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 

عن أبي هريرة-رضي الله عنه-قَال: قَالَ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم-: “إنَّ اللهَ -عز وجل- يَقُولُ يَومَ القِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدنِي! قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أعُودُكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمِينَ؟!، قَالَ: أمَا عَلِمْتَ أنَّ عَبْدِي فُلاَناً مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ! أمَا عَلِمْتَ أنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَني عِنْدَهُ! يَا ابْنَ آدَمَ، اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمنِي! قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أطْعِمُكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمِينَ؟! قَالَ: أمَا عَلِمْتَ أنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ! أمَا عَلِمْتَ أنَّكَ لَوْ أطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي! يَا ابْنَ آدَمَ، اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي! قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أسْقِيكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمينَ؟! قَالَ: اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ! أمَا عَلِمْتَ أنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي”.

 

Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat, ‘Wahai Anak Adam! Aku sakit, namun engkau tak menjenguk-Ku!’” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, menderita sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku di sisinya?

 

Wahai Anak Adam! Aku telah meminta makan kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku makan!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, telah meminta makan kepadamu, tapi engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku?

 

Wahai Anak Adam! Aku telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku minum!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Hamba-Ku, si fulan, telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberinya minum! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya minum, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku.” (HR. Muslim)

 

Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh dan tidak berhajat kepada makhluk-Nya. Menyantuni Allah subhanahu wa ta’ala dalam arti menyantuni penyandang atribut sakit, lapar dan haus merupakan bahasa kasih sayang dan keberpihakan-Nya kepada orang-orang yang lemah dan terpinggirkan. Ketika berpihak kepada mereka, kita pun akan mendapatkan ridha-Nya.

 

*Faedah:*

 

*Satu,* Atribut sakit, lapar dan haus tidak layak bagi keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Atribut-atribut tersebut menunjukkan sifat kekurangan dan kelemahan yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah Tuhan semesta alam.

 

*Dua,* Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh dan tidak berhajat kepada makhluk-Nya.

 

*Tiga,* Menyantuni Allah subhanahu wa ta’ala dalam arti menyantuni penyandang atribut sakit, lapar dan haus merupakan bahasa kasih sayang dan keberpihakan-Nya kepada orang-orang yang lemah dan terpinggirkan.

 

*Empat,* selain menjumpai Allah subhanahu wa ta’ala lewat shalat dan berdzikir, kita pun bisa menjumpai-Nya lewat menyantuni orang-orang lemah dan terpinggirkan. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *