Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Sepanjang kehidupannya, Rasulullah memiliki 7 orang anak, 4 Putri dan 3 putra. (Putri-putri beliau: Zainab (W. 8 H), Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Ummu Kultsum (W. 9 H), dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra (W. 11 H), dan putra-putra beliau: Sayyid Al-Qasim, Sayyid Abdullah, dan Sayyid Ibrahim, yang ketiganya wafat ketika belia). Semua anak beliau ini lahir dari rahim Sayyidah Khadijah Al-Kubra binti Khuwailid kecuali Ibrahim dari Maria Qibthiyah.

 

Berdasarkan tradisi masyarakat Arab pra-Islam, memiliki anak laki-laki adalah simbol kebaikan, kehormatan dan kemuliaan. Karena dengan memiliki anak laki-laki, bagi mereka, berarti melestarikan garis keturunan sang ayah. Sebaliknya, anak perempuan adalah lambang kelemahan, keterbelakangan dam beban masyarakat. Maka tak heran, dikisahkan banyak anak perempuan yang dikubur hidup-hidup karena malu ataupun takut kemiskinan.

 

Menurut Ibnu ‘Abbas, surat Al-Kautsar turun tak lama setelah Al-‘Ash bin Wa’il, seorang yang getol menentang dakwah Islam dan merupakan saudara ipar Abu Jahal, berpapasan dengan nabi Muhammad di sebuah pintu masjid. Dalam kesempatan itu, keduanya sempat berbicara sejenak dengan berkaitan beberapa hal. Namun ketika keduanya berpisah, tepatnya ketika Al-Ash masuk ke dalam masjid, ia ditanya oleh beberapa orang dengan nada mengejek tentang siapa orang yang telah dia ajak bicara sebelumnya. Al-‘Ash bin Wa’il menjawab dengan pongah bahwa lawan bicaranya adalah “orang yang terputus (Al-Abtar) itu.” Sebutan ini ditujukan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Al-Abtar merupakan suatu istilah yang diucapkan kaum Quraisy Mekah pada waktu itu, untuk mengartikan seseorang yang tidak memiliki anak laki-laki. Berkenaan hal tersebut, memang Rasulullah saw baru saja kehilangan putranya yang bernama Abdullah atau Al-Qasim di riwayat lain. Dengan kewafatan putranya ini, maka beliau disebut-sebut sebagai al-abtar, yakni orang yang terputus keturunannya. Untuk menghibur beliau, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan surat Al-Kautsar:

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

 

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

 

Jadi, hakikat abtar bukankah Rasulullah yang tidak mendapatkan keturunan dari anak laki-lakinya. Beliau selalu mendapatkan limpahan rahmat dari Allah bahkan beliau selalu mendapatkan kiriman shalawat dari umatnya sepanjang langit dan bumi masih tegak. Abtar sejati adalah orang yang terputus dari rahmat Allah karena membenci Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang datang membawa amanat Islam dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Berkenan dengan mandul, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

 

مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ؟ قَالَ قُلْنَا: الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ، قَالَ: «لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا

 

Baginda Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah engkau siapakah yang Mandul?” Para sahabat menjawab :

“Orang yang Mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”. Lalu Baginda Rasulullah saw Bersabda:

“Orang yang Mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia Meninggal Dunia”.

(HR. Ahmad).

 

Pengertian Mandul (tidak mempunyai Keturunan) itu kurang tepat. Seorang yang mandul adalah orang tua yang hanya mempunyai anak-anak biologis dan tidak memiliki anak-anak Ideologis. Para orangtua yang gagal mencetak anaknya untuk menjadi shalih/ah dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya, merekalah orang tua yang mandul berdasarkan Hadits di atas.

 

Disinilah kita mengerti betapa banyak diantara kita yang Mandul. Kita tidak mampu mempengaruhi anak, sebab anak-anak lebih banyak dipengaruhi oleh kawan, televisi, Gadget, dan lingkungannya, sehingga anak-anak tersebut bertumbuh kembang tidak menjadi hamba Allah yang bemanfaat untuk bangsa, negara dan agama, namun mereka tumbuh menjadi hamba dunia dan diperbudak olehnya. Na’udzu Billah Min Dzalik.

 

*Faedah:*

 

*Satu,* hakikat abtar bukankah Rasulullah atau siapapun yang tidak mendapatkan keturunan dari anak laki-lakinya. Abtar sejati adalah orang yang terputus dari rahmat Allah karena membenci Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang datang membawa amanat Islam dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 

*Dua,* betapa banyak diantara kita punya anak namun disebut mandul. Kita tidak mampu mempengaruhi anak dan menjadi tauladan bagi mereka, sebab anak-anak lebih banyak dipengaruhi oleh kawan, televisi, Gadget, dan lingkungannya, sehingga anak-anak tersebut bertumbuh kembang tidak menjadi hamba Allah yang bemanfaat untuk bangsa, negara dan agama. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *