Oleh: Hayat Abdul Latief
Masjid adalah tempat yang paling baik di muka bumi. Masjid adalah rumah Allah subhanahu wa ta’ala, tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk kegiatan ibadah umat Islam seperti sholat, berdzikir, bersholawat, dan majlis ta’lim. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala begitu sangat mencintai masjid dan orang orang yang berjalan menuju masjid untuk beribadah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Selain itu, dalam hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إذَا رأيتُمُ الرجلَ يعتادُ المسجِدَ فاشْهَدُوا لَهُ بالإيمانِ قالَ اللهُ عزَّ وجَلَّ { إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ } الآية
”Apabila kamu melihat seseorang biasa pergi ke masjid maka saksikanlah ia benar-benar beriman, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR. Ibnu Hibban dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu)
Secara fisik, bangunan mesjid yang berdiri sekarang sudah dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap dan memadai, dari tempat sholat yang nyaman dengan karpet sajadah yang bagus, penerangan lampu listrik yang bagus bahkan terkesan mewah bila malam hari, sirkulasi udara yang menyejukkan jama’ah dengan kipas angin dan AC. Tidak hanya itu saja, di masjid juga dilengkapi dengan tempat wudhu dan toilet yang nyaman, lahan parkir yang cukup luas untuk pengunjung kendaraan bermotor dan mobil. Secara fungsional, masjid juga difasilitasi dengan adanya petugas pemakmur masjid, seperti imam shalat fardhu dan bilal atau muadzin, petugas kebersihan, dan lainnya. Kemudian juga dicanangkan sejumlah program keagamaan, seperti pembelajaran baca tulis dan tahfizh al-Qur’an, majelis taklim, majelis shalawat dan dzikir, peringatan hari besar Islam, sehingga masjid pun dapat terjalankan fungsinya dan dapat ditakmirkan sebagaimana mestinya.
Seperti apapun bentuknya, masjid harus dirawat dan dihidupkan usaha untuk memakmurkanya. Menggiatkan berbagai aktivitas keagamaan yang didasari semangat penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, akan menjadi sentra pemberdayaan dan pembinaan umat, yang pada akhirnya masjid tersebut akan memainkan fungsinya sebagai salah satu pilar kebangkitan umat. Maka memakmurkan masjid bagi kaum muslimin, tentunya tidak hanya di bulan Ramadhan dan Jum’at saja, namun mengusahakannya di setiap waktu, terutama sholat fardhu yang lima. Dengan begitu berarti kita juga melatih diri untuk sholat tepat waktu, dengan berjama’ah atau bersama saudara seagama, dan semakin mempererat ukhuwah islamiyah atau persaudaraan dengan sesama saudara muslim. Dalam shalat berjama’ah tidak akan ada lagi perbedaan pangkat dan jabatan, kaya ataupun miskin. Sudah sekarang saatnya umat Islam, baik anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua untuk memakmurkan masjid sebagai jalan menggapai surga dunia dan akhirat.
Berkenaan dengan orang yang hanya membanggakan bangunan fisik masjid, namun tidak ada upaya untuk memakmurkanya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
لا تقوم السَّاعة حتى يَتَبَاهَى النَّاس في المسَاجد
“Tidak akan terjadi hari kimat hingga manusia berbanga-bangga dengan (kemegahan) masjid.” (HR. Abu Daud 449; An-Nasa’i 689; Ibnu Majah 739)
Komentar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang masjid yang hanya mementingkan fisik bangunanya,
يَتَبَاهَوْنَ بِهَا ، ثُمَّ لاَ يَعْمُرُونَهَا إِلاَّ قَلِيلاً
“Mereka saling membanggakannya, kemudian tidak ada yang memakmurkan melainkan sedikit.” (HR Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, 1:309)
Masjid Nabawi di masa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam merupakan masjid percontohan sepanjang zaman. Masjid Nabawi di kala itu hidup amalan 24 jam dan melayani umat 24 jam. Rumah Sakit, SPBU, klinik, apotek hari ini buka 24 jam, eh masjidnya tidak buka 24 jam, padahal umat ini telah banyak yang sakit imanya, perlu perawatan dan pengobatan iman di masjid-masjid. Masjid Nabawi di zaman nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam hidup 4 amalan yang harus dicontoh semua masjid sampai hari kiamat. 4 amalan tersebut sebagai berikut:
1. Dakwah. Dakwah merupakan amalan yang utama masjid. Dakwah bukan hanya sekedar pengajian atau ceramah agama saja, tetapi juga nasihat harian untuk umat, targhib atau memberi semangat dan juga mengajak umat untuk berdakwah dan berusaha untuk membentuk rombongan-rombongan yang mau berdakwah keliling kampung untuk mengajak orang-orang memakmurkan masjid dan mengamalkan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
2. Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM). Kegiatan ini menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan madrasah yang murah untuk umat. Dengan menjadikan sebagai pusat tempat belajar dan mengajar, dari masjid akan mengeluarkan dai-dai dan ulama-ulama yang menyebarkan Islam ke seluruh alam tanpa meminta imbalan material atau komersialisasi pendidikan agama.
3. Dzikir dan ibadah. Sudah semestinya menjadikan masjid sebagai tempat untuk dzikir ibadah umat dan tidak menjadikan masjid sebagai pusat politik praktis atau untuk kepentingan golongan tertentu saja.
4. Pelayanan masyarakat. Masih juga sebagai tempat pelayanan masyarakat. Orang-orang yang punya masalah ekonomi ataupun masalah agama bisa datang ke masjid. Jika setiap umat yang ada masalah selalu ke masjid dan di masjid ada orang yang melayaninya, maka umat ini akan bertambah baik dan semakin taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Beberapa faedah dari tulisan ini:
*Satu,* masjid merupakan tempat yang paling baik di muka bumi. Masjid adalah rumah Allah subhanahu wa ta’ala, tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk kegiatan ibadah umat Islam seperti sholat, berdzikir, bersholawat, dan majlis ta’lim. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala begitu sangat mencintai masjid dan orang orang yang berjalan menuju masjid untuk beribadah.
*Dua,* dilarang hanya membanggakan bangunan fisik masjid, namun tidak ada upaya untuk memakmurkanya.
*Tiga,* amalan- amalan masjid Nabawi di zaman Rasulullah: Dakwah, Kegiatan Belajar dan Mengajar, Dzikir-Ibadah dan Pelayanan Masyarakat. Wallahu a’lam.
Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

