Oleh: Hayat Abdul Latief
Foto close up untuk profile diri di medsos ataupun juga sebagai foto profile diri yang di sematkan pada curriculum vitae, lumrahnya diambil dari jarak terdekat dan yang diambil gambarnya adalah bagian wajah. Demikian demikian wajah merupakan icon manusia, bukan anggota tubuh lainnya. Dalam pembuatan KTP, Ijazah, Piagam dan surat-surat lain foto close up dengan mengambil gambar wajah dan setengah badan atau cukup bagian wajah saja.
Dalam ajaran Islam, ketika berwudhu atau tayammum wajah merupakan bagian penting di samping yang lainnya untuk dibasuh atau diusap. Wajah disebut icon manusia, karena normal orang waras akan ceria wajahnya bila mendapatkan kabar gembira dan murung bersedih bila mendapatkan kabar sebaliknya. Bila berprestasi, wajah ceria, bila bersalah malu menanggung rasa malu.
Manusia dianggap normal bila memiliki rasa malu, bahkan dalam Islam malu merupakan bagian dari iman. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35)
Seorang yang memiliki rasa malu akan terbentengi dari kemaksiatan karena dia malu kepada Allah yang telah memberinya begitu banyak kenikmatan. Demikian pula dia akan malu jika meninggalkan ketaatan karena malu kepada Allah yang telah memberinya begitu banyak kemudahan. Dalam hadits di atas Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutkan malu secara khusus padahal amalan hati itu sangat banyak. Sebagian ulama mengatakan,
لِأَنَّ الْحَيَاءَ هُوَ السَّبَبُ الْأَقْوَى فِي قِيَامِ الْعَبْدِ بِجَمِيْعِ شُعَبِ الْإِيْمَانِ
“Hal ini disebabkan karena rasa malu merupakan sebab terkuat bagi seorang hamba untuk bisa melaksanakan seluruh cabang-cabang keimanan yang lain.”(Fathul Bari, 1/75)
Hilangnya rasa malu atau dengan istilah lain putus urat malu merupakan pertanda hilangnya marwah sebagai manusia. Sumber malapetaka yang menimpa setiap orang adalah hilangnya rasa malu. Orang yang tidak mempunyai rasa malu biasanya mudah sekali melakukan hal-hal bersifat negatif menurut kacamata agama. Munculnya korupsi, perselingkuhan, perzinaan, pencurian, pelecehan seksual, dan perbuatan jahat lainnya yang terjadi di republik ini diakibatkan hilangnya rasa malu.
Berkaitan dengan wajah, dalam Al-Qur’an, keadaan manusia di akhirat bisa dilihat dari wajahnya. Allah subhanahu wa taala berfirman,
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri. tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. Abasa: 38-42)
Allah subhanahu wa taala juga berfirman,
وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ٢٣ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۢ بَاسِرَةٞ ٢٤ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ٢٥
“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah pada hari itu muram. Mereka yakin akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat.” (QS al-Qiyamah: 22-25).
Meringkas dari komentar para mufassir: ada orang-orang yang berwajah indah, cerah, berseri-seri dan riang gembira itulah wajah ahli takwa (Ya Allah! Jadikanlah kami dalam golongan mereka!) dan ada orang-orang yang berwajah muram, murung, cemberut dan semacamnya yang menunjukkan kesedihan dan ketakutan. Mereka adalah kaum kafir atau kaum fajir (Wal Iyadz Billah)
Faedah:
Satu, wajah sebagai icon manusia.
Dua, malu merupakan bagian dari iman. Seorang yang memiliki rasa malu akan terbentengi dari kemaksiatan.
Tiga, sumber malapetaka yang menimpa setiap orang adalah hilangnya rasa malu.
Empat, di dalam Al-Qur’an, keadaan manusia di akhirat bisa dilihat dari wajahnya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

