Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Dalam khasanah sosiologi Islam, Menurut Akhmad Mujahidin Guru Besar Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau, Ibnu Khaldun dikenal sebagai peletak dasar teori solidaritas masyarakat atau dikenal dengan teori ‘Ashâbiyat (نظرية العصبية). Teori ini merupakan pengejawantahan dari teori harmoni kal-jasadil wahid (كالجسد الواحد) dalam ajaran Islam, yang menggambarkan kelaziman saling melindungi dan mengembangkan potensi serta saling mengisi dan membantu di antara sesama.

 

Melalui teori harmoni kal-jasadil wahid dimisalkan kehidupan komunitas muslim itu dengan ka al-bunyan yasuddu ba’duhu ba’dla (كالبنيان يشد بعضه بعضا) bagaikan sebuah bangunan, yang antara elemen bangunan yang satu dengan yang lainnya saling memperkokoh, memperkuat Teori ‘Ashâbiyat, solidaritas kelompok dan konsep ta’âwun al-ihsan (تعاون الاحسان) itu didasarkan atas pemikiran ajaran Islam, yang di dalamnya terkandung norma akidah dan syari’at.

 

Dasar-dasar kepemimpinan dalam Islam:

 

1. Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim karena bagaimanapun akan mempengaruhi kualitas keberagamaan rakyat yang dipimpinnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?” (QS. An-Nisaa: 144)

 

2. Tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan Agama Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ اَوْلِيَاۤءَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.”(QS. Al-Maidah: 57)

 

3. Pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya, pemberian tugas atau wewenang kepada yang tidak berkompeten akan mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab pertanyaan bagaimana amanah disia-siakan:

 

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

 

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (HR. Bukhori dan Muslim).

 

4. Pemimpin harus bisa diterima (acceptable), mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan dan didoakan oleh umatnya. Sebagaimana Sabda Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

خِيَارُ أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم، وتُصَلُّون عليهم ويصلون عليكم. وشِرَارُ أئمتكم الذين تبُغضونهم ويبغضونكم، وتلعنونهم ويلعنونكم!»، قال: قلنا: يا رسول الله، أفلا نُنَابِذُهُم؟ قال: «لا، ما أقاموا فيكم الصلاة. لا، ما أقاموا فيكم الصلاة (رواه مسلم)

 

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Ia) berkata, “Kami pun bertanya: ‘Apakah kami boleh melawan mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, selama mereka menegakkan salat di tengah kalian. Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian.”(HR. Muslim dari ‘Auf bin Malik raḍiyallahu ‘anhu secara marfu’)

 

“Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR Muslim).

 

5. Pemimpin harus mengutamakan, membela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksanakan syari’at, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah Ayat 8)

 

6. Pemimpin harus memiliki bayangan sifat-sifat Allah yang terkumpul dalam Asmaul Husna dan sifat-sifat Rasul-rasul-Nya.

 

Allah Sebaik-baik Pembuat Makar

 

Makar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna akal busuk; tipu muslihat. Makar juga disebut sebagai perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ

 

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran:54)

 

Ayat ini bicara dalam konteks kisah Nabi Isa alaihis salam yang merasakan banyaknya orang ingkar di antara Bani Israil. Jika musuh-musuh Nabi Isa ‘alaihis salam melakukan makar, Allah pun melakukan makar. Namun, tujuannya baik. Yakni menghalangi rencana makar mereka. Karena itu, Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya. Dia yang Maha Perkasa tak pernah terkalahkan. Allah mengulur para penipu dan membiarkan mereka melanjutkan rencananya. Namun, ketika tiba masa pelaksanaan, Dia membatalkan maksud mereka. Pada akhirnya, Allah pun memenangkan rasul-Nya dan menyiksa musuh-musuh-Nya.

 

Manusia-manusia gagah perkasa, menurut Said Quthub dalam kitab Fi Dzilalil Qur’an, hanyalah makhluk lemah dibandingkan kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dialah Yang memberlakukan urusan-Nya tanpa ada yang mampu menghalangi karena Dia Maha meliputi segala sesuatu. Makar pun dikatakan hingga tiga kali di beberapa surah dalam Al-Qur’an. Tidak lain sebagai penegasan bahwa Allah merupakan sebaik-baik pengatur makar.

 

Bumi secara keseluruhan pantas dipimpin oleh orang-orang saleh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَلَقَد كَتَبنا فِي الزَّبورِ مِن بَعدِ الذِّكرِ أَنَّ الأَرضَ يَرِثُها عِبادِيَ الصّالِحونَ

 

“Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur setelah Adz-Dzikr (Taurat): “Bahwasanya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)

 

Pada ayat ini Allah menerangkan ketetapan-Nya tentang orang-orang yang mewarisi bumi. Dan sungguh, telah kami tulis sebagai suatu ketetapan di dalam Zabur, yang diturunkan kepada nabi Dawud dan Sulaiman, setelah tertulis di dalam Adz-Dzikr, yaitu di Lauh Mahfudz, bahwa bumi ini milik-Ku dan akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh, yaitu sanggup mengelola bumi dan memakmurkannya, mengambil manfaat dari kekayaan alamnya, serta sanggup memimpin masyarakat dan membangunnya dengan mengikuti petunjuk-Ku. (Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI – Surat Al-Anbiya Ayat 105)

 

Al-Qur’an menjelaskan bahwa bumi ini akan diwariskan pada orang-orang pilihan. Orang-orang pilihan tersebut adalah manusia yang saleh. Menurut TGB saat memberi tausiah dalam acara Kampus Ramadhan di Masjid Mujahidin UNY seperti yang dilansir republika Senin , 19 Jun 2017, 08:30 WIB, keshalehan tidak hanya berkaitan dengan ketaatan dalam melaksanakan ibadah mahdhah. Pasalnya, kata shaleh sendiri berarti orang-orang yang mempunyai sifat shalah, yaitu sesuatu yang mempunyai fungsi dan nilai sesuai penciptaannya.

 

Manusia sendiri dapat dikatakan shaleh jika mampu menjalankan amanah kekhilafahan, yakni memelihara bumi dan mengelola alam. Di sisi lain, orang shaleh juga identik dengan mereka yang memiliki ilmu dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan bersama. Hal ini sesuai dengan hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس

 

“Orang beriman itu bersikap dekat dan mudah didekati (ramah: red). dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

 

Faedah:

 

Satu, konsep (نظرية العصبية) atau teori solidaritasnya Ibnu Khaldun merupakan pengejawantahan dari teori harmoni kal-jasadil wahid (كالجسد الواحد) dalam ajaran Islam, yang menggambarkan kelaziman saling melindungi dan mengembangkan potensi serta saling mengisi dan membantu di antara sesama.

 

Dua, dasar-dasar kepemimpinan dalam Islam; tidak mengambil orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim, tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan agama Islam, pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya, Pemimpin harus bisa diterima mencintai dan dicintai oleh rakyatnya, pemimpin harus mengutamakan kepentingan rakyat dan menegakkan keadilan, pemimpin harus memiliki bayangan sifat-sifat Allah yang terkumpul dalam Asmaul Husna dan sifat-sifat rasul-rasul-Nya.

 

Tiga, sebagian manusia mempunyai konspirasi jahat atau yang disebut sebagai makar, namun Allah subhanahu wa ta’ala sebaik-baik pembuat makar – dalam arti menggagalkan makar jahat mereka.

 

Empat, Al-Qur’an menjelaskan bahwa bumi ini akan diwariskan pada orang-orang pilihan.

 

Lima, manusia sendiri dapat dikatakan shaleh jika mampu menjalankan amanah kekhilafahan, yakni memelihara bumi dan mengelola alam. Di sisi lain, orang shaleh juga identik dengan mereka yang memiliki ilmu dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan bersama. Wallahu A’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *