Oleh: Hayat Abdul Latief
Nabi Ibrahim dan pengikutnya disunat, “Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.” (Perjanjian Lama, Kejadian 17 : 9 – 14 )
Nabi Ishak melaksanakan khitan, “Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.” (Perjanjian Lama, Kejadian 21 : 4 )
Nabi Musa melaksanakan khitan, Tuhan berfirman kepada Musa, demikian: “Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis. Dan pada hari yang kedelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu.” (Perjanjian Lama, Imamat 12: 1-3)
Yesus melaksanakan khitan, “Dan ketika genap delapan hari dan ia harus disunatkan, ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Perjanjian Baru, Lukas 2: 21)
Sanksi Bagi yang Tidak Disunat
Bagi orang yang tidak disunat/ tidak dikerat kulit khatannya sanksinya adalah orang tersebut harus dilenyapkan karena telah mengingkari/melanggar perjanjian Ku (Perjanjian Lama, Kejadian 17: 14)
Berdasarkan ayat bibel tersebut diatas, harusnya orang kristen dikhitan, mengikuti ajaran para nabi, hukum taurat dan mencontoh nabi Isa AS.
Paulus: Agen Helenisme dan Paganisme
Perpecahan antara Yudaisme dan Kristen mengenai sunat terjadi sekitar tahun 50. Adapun tokoh utamanya adalah Paulus dan Petrus, yang berdebat seru mengenai topik tersebut.
Saat itu, Millah Ibrahim adalah satu-satunya agama monoteistik, ketika orang Yunani, Romawi, dan Mesir percaya pada banyak dewa. Bagi orang Yahudi, sunat adalah kewajiban bagi seluruh pria.
Bagi masyarakat Yunani kuno, yang suka berolahraga dan memuja ketelanjangan laki-laki, kulup adalah simbol keindahan dan sunat tidak disukai.
Di kalangan penduduk Yahudi, kesulitan mempertahankan praktik sunat menjadi masalah khusus pada periode Yunani karena pengaruh budaya Helenistik terhadap orang Yahudi yang ingin berasimilasi dengan budaya dominan. Selain itu, ada masa ketika sunat merupakan hal yang ilegal: Antiochus Epiphanes telah memerintahkan penduduk Yudea untuk tidak menyunat anak laki-laki mereka lagi. Akibatnya, beberapa pria Yahudi berusaha menyembunyikan bahwa mereka sudah bersunat.
Paulus Merusak Hukum Taurat dan Ajaran Nabi Isa AS
Paulus membatalkan khitan diganti dengan baptis. Lihatlah surat-surat kiriman Paulus kepada jemaatnya, “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak berguna bagimu.” (Galatia 5: 2)
Paulus menganggap hukum taurat adalah kutukan, “Kristus telah menyelamatkan kita dari kutukan Hukum Taurat,” kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia ketika mengacu pada hukum Musa, termasuk sunat.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

