PUASA NPD: Meruntuhkan Ego, Meraih Fitrah
Seteguk Air untuk Sang “Aku”

PUASA NPD: Meruntuhkan Ego, Meraih Fitrah
Seteguk Air untuk Sang “Aku”
oleh: Ustzh. Badrah Uyuni, MA.
Di sebuah malam Ramadan, saat waktu berbuka tiba, seorang raja besar yang terbiasa dikelilingi punggawa dan hamba sahaya duduk sendirian di sajadahnya. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat seteguk air dingin ke bibirnya. Saat air itu membasahi kerongkongan yang telah seharian kering, ia menangis. Bukan karena haus, tetapi karena sadar: ternyata seorang “raja” sebesar dirinya tetap membutuhkan setetes air seperti budak paling hina sekalipun.
Siapakah raja itu? Beliau adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, sang penakluk Yerusalem. Dalam catatan sejarah, beliau dikenal sebagai pemimpin agung namun justru di bulan Ramadan ia merasakan kerendahan yang paling dalam. Saat itulah ia berkata dalam hati, _”Selama ini aku merasa hebat dengan pasukan dan istanaku. Tapi di hadapan rasa haus ini, aku sama sekali tidak berdaya. Laa haula walaa quwwata illa billah.”_
Kisah ini membawa kita pada pertanyaan besar: Pernahkah kita merasa paling hebat, paling benar, paling layak dipuji? Jika ya, mungkin tanpa sadar kita sedang digerogoti penyakit yang dalam psikologi modern disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD) .
*Bagian 1: Fenomena “Lapar Pengakuan” di Era Digital*
Belakangan ini, istilah NPD (Narcissistic Personality Disorder) ramai diperbincangkan. Ini adalah gangguan kepribadian di mana seseorang merasa dirinya lebih penting dari orang lain, haus akan pujian, kekaguman, dan pengakuan. Ia merasa superior, kurang empati, dan sering meremehkan orang lain .
Namun di era media sosial saat ini, kita menyaksikan fenomena yang lebih masif: *”lapar pengakuan”* dan *”haus pujian”* telah menjadi epidemi diam-diam. Berapa banyak dari kita yang gelisah jika status WhatsApp sepi respons? Berapa banyak yang sedih karena tidak dijadikan admin grup? Berapa banyak yang merasa kecil jika postingannya tidak mendapat cukup *”likes”*? .
Seorang dosen dalam obrolan virtual baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya: _”Kondisi mental seperti NPD sekarang sedang marak. Orang ingin selalu terlihat hebat, ingin didengar, ingin dihormati. Inilah penyakit kejiwaan yang lebih halus tapi lebih ganas dari sekadar lapar fisik.”_ .
Lalu, apa obatnya? Ramadan datang dengan jawabannya. Tepat melalui ibadah puasa, Allah SWT mendesain *”klinik spiritual”* gratis selama sebulan penuh untuk menyembuhkan penyakit *”Aku”* yang bersarang di hati kita.
*Bagian 2: NPD dalam Kacamata Al-Quran dan Para Ulama*
Sebelum psikologi modern menemukan istilah NPD, Al-Quran telah lebih dulu memperingatkan umat manusia tentang bahaya *”penyakit Aku”* ini. Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
_”Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”_
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghayb menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan tiga tingkatan adab: pertama, jangan memalingkan muka (tanda meremehkan), kedua, jangan berjalan dengan angkuh (tanda kesombongan fisik), dan ketiga, jangan membanggakan diri (tanda kesombongan batin). Ketiganya adalah ciri-ciri yang persis sama dengan deskripsi NPD dalam psikologi modern.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut penyakit ini sebagai *”maradhan nafs”* (penyakit jiwa) yang paling berbahaya. Beliau menulis:
_”Hati yang dipenuhi dengki dan kesombongan tidak akan mampu menerima cahaya ibadah. Orang yang sombong sejatinya sedang memakai pakaian kebesaran yang hanya layak untuk Allah. Maka tidak heran jika Allah akan menghinakannya.”_ (Ihya’ Ulumuddin, Juz 3)
Lebih dalam lagi, Imam Al-Ghazali mengupas bahwa akar dari semua penyakit hati adalah *”cinta diri”* yang berlebihan. Beliau berkata, “Sesungguhnya cinta diri itulah yang melahirkan sifat ujub (bangga diri), riya’ (ingin dipuji), dan kibr (sombong). Ia adalah induk dari segala penyakit hati.”
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menambahkan bahwa kesombongan adalah dosa pertama di alam semesta, yang dilakukan Iblis ketika ia berkata, _”Ana khairun minhu”_ (Aku lebih baik darinya). Dari sini kita belajar bahwa rasa superioritas adalah bencana tertua dalam sejarah penciptaan .
*Bagian 3: Tiga Tingkatan Puasa: Dari Menahan Lapar hingga Meruntuhkan Ego*
Lalu, bagaimana puasa bisa menjadi terapi bagi penyakit *”Aku”* ini? Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang monumental Ihya Ulumuddin membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Pembagian ini bukan sekadar kategori, melainkan cermin bagi kita untuk bercermin: di tingkatan mana puasa kita saat ini?
*Tingkat Pertama: Puasa Awam (Puasa Orang Biasa)*
Puasa pada tingkatan ini hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Perut lapar, tenggorokan haus, tapi hati belum tersentuh.
Inilah puasa yang hanya menghasilkan lapar dan haus, seperti sabda Nabi: _”Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”_ (HR. Nasa’i).
Bagi penderita NPD, puasa level ini tidak akan menyembuhkan. Ia tetap lapar pujian meski perutnya lapar. Ia tetap haus pengakuan meski tenggorokannya kering.
*Tingkat Kedua: Puasa Khusus (Puasa Orang Shalih)*
Pada tingkatan ini, seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Mata menjaga pandangan, telinga menjaga pendengaran, lisan menjaga perkataan, tangan dan kaki menjaga perbuatan.
Rasulullah SAW bersabda: _”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”_ (HR. Bukhari) .
Di sinilah proses penyembuhan NPD dimulai. Ketika lisan dilatih untuk tidak memuji diri sendiri, ketika mata dilatih untuk tidak mencari perhatian, ketika telinga dilatih untuk tidak mendengar pujian—maka ego perlahan-lahan mulai runtuh.
*Tingkat Ketiga: Puasa Khususnya Khusus (Puasa Para Nabi dan Shiddiqin)*
Inilah puncak spiritualitas puasa. Pada tingkatan ini, seseorang menyucikan hati dari segala penyakit batin dan pikiran-pikiran duniawi yang melalaikan Allah. Hatinya puasa dari segala sesuatu selain Allah .
Imam Al-Ghazali menjelaskan, _”Puasa orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kaki dari perbuatan dosa. Adapun puasa orang yang paling khusus adalah puasa hati dari keinginan-keinginan hina dan pikiran-pikiran duniawi yang melalaikan Allah.”_ .
Pada level inilah seseorang benar-benar terbebas dari belenggu NPD. Ia tidak lagi butuh pujian manusia karena hatinya telah dipenuhi cahaya Ilahi. Ia tidak lagi haus pengakuan karena jiwanya telah disirami ma’rifatullah.
*Bagian 4: Para Nabi dan Sahabat: Teladan Tawadhu’ nan Menggetarkan*
Untuk memahami bagaimana puasa meruntuhkan ego, mari kita tadabburi kehidupan orang-orang yang hatinya telah disucikan Allah.
*1. Rasulullah SAW: Pemimpin yang Membawa Sendal dan Menambal Baju*
Meski beliau adalah pemimpin tertinggi umat, kepala negara, panglima perang, dan utusan Allah, beliau justru menunjukkan ketawadhu’an yang luar biasa .
Suatu ketika, para sahabat meminta Rasulullah tak usah repot ikut mencari kayu bakar. Namun dengan tenang beliau menjawab, _”Aku tak ingin berbeda sendiri dibandingkan sahabat-sahabatku. Allah tak senang melihat seseorang berbeda dari sahabat-sahabatnya.”_ .
Dalam riwayat lain, Jabir bin Abdillah pernah duduk di bibir pintu masjid. Rasulullah mengetahuinya, lalu mengambil kain bajunya, melipatnya, dan memberikan lipatan itu kepada Jabir untuk duduk di atasnya. Jabir tidak menggunakan kain itu sebagai alas, tetapi mengusapkannya ke wajahnya seraya berkata dengan mata berkaca-kaca, _”Semoga engkau selalu dimuliakan Allah sebagaimana engkau memuliakan aku.”_ .
Abu Hurairah RA memberi kesaksian: _”Saya tidak pernah tahu ada orang yang paling sering meminta masukan dan musyawarah selain Rasulullah bersama para sahabatnya.”_ .
*Coba renungkan:* Mampukah kita, sebagai manusia biasa, melakukan hal yang sama? Atau justru kita selalu merasa paling benar dan enggan menerima masukan dari orang lain?
*2. Umar bin Khattab: Khalifah yang Memikul Air Sendiri*
Suatu hari Umar bin Khattab RA terlihat memikul sendiri tempat air minumnya (qirbah). Seorang sahabat berkata kepadanya, _”Wahai Amirul Mu’minin, ini tidak pantas bagimu!”_ Umar menjawab dengan jawaban yang sangat dalam:
_”Ketika utusan-utusan dari berbagai negeri datang kepadaku dengan penuh semangat mendengar dan taat kepadaku, terbetik dalam hatiku rasa kagum terhadap diriku. Maka aku lebih senang menghancurkan rasa kagum itu dengan memikul air ini.”_ .
Subhanallah. Umar memahami bahwa kekaguman orang lain bisa menjadi racun bagi jiwa. Maka ia sengaja melakukan hal-hal yang merendahkan ego untuk membunuh bibit-bibit kesombongan dalam hatinya.
*3. Salman Al-Farisi: Sahabat yang Dianggap “Bukan Arab”*
Siapa sangka, dalam perang Khandaq, strategi cemerlang yang menyelamatkan Madinah justru datang dari Salman Al-Farisi, seorang sahabat yang baru masuk Islam dan berasal dari negeri Persia. Saat para sahabat lain bingung menghadapi 10.000 pasukan Quraisy, Salman mengusulkan untuk menggali parit, strategi yang biasa dilakukan di negerinya.
Rasulullah tidak meremehkan Salman meskipun ia “hanya” mantan penyembah api dari Persia. Beliau langsung menerima usulan itu, dan Madinah pun selamat .
*Renungan:* Seberapa sering kita meremehkan ide orang lain karena latar belakangnya? Seberapa sering kita merasa paling pintar sendiri?
*Bagian 5: Renungan Sufi: Saat Nafas Menjadi Tasbih dan Lapar Menjadi Tangga*
Para sufi memiliki pandangan yang sangat mendalam tentang puasa. Bagi mereka, puasa bukan sekadar ibadah, tetapi juga ilmu jiwa yang membersihkan ego lapis demi lapis.
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam karyanya menjelaskan bahwa akar dari sifat sombong dan narsistik adalah lemahnya fondasi spiritual. Seseorang terperangkap dalam cinta dunia dan pujian, yang membuat hatinya keras dan lupa pada Allah.
Dalam tradisi tasawuf, puasa adalah latihan *”mematikan ego”* (fana’). Saat kita lapar, kita merasakan betapa lemahnya diri ini. Saat kita haus, kita sadar betapa kita sangat bergantung pada Allah. Rasa lapar sejatinya adalah pengingat bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan-Nya.
Seorang sufi besar, Junaid Al-Baghdadi, berkata: _”Tawadhu’ adalah merendahkan hati kepada siapa pun yang kau jumpai, tanpa memandang statusnya. Sedangkan sombong adalah merasa bahwa dirimu lebih besar dari semua orang.”_
Abu Yazid Al-Busthami bahkan pernah berkata: _”Aku tidak pernah melihat makhluk yang lebih buruk dari nafsuku sendiri. Jika aku mentaatinya, ia durhaka padaku. Jika aku memuliakannya, ia menghinakanku.”_
Pernyataan para sufi ini mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri: seberapa besar *”aku”* dalam diri kita?
*Bagian 6: Puasa NPD: Lima Langkah Praktis Menyembuhkan Jiwa*
Berdasarkan panduan Al-Quran, Hadis, dan nasihat ulama, berikut adalah langkah-langkah praktis untuk menjalani *”Puasa NPD”* selama Ramadan:
*1. Meluruskan Niat: Puasa Karena Allah, Bukan Karena Ingin Dipuji*
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa niat adalah ruh ibadah. Tanpa niat yang benar, puasa hanya menjadi aktivitas fisik yang sia-sia. Beliau menulis:
_”Ketahuilah bahwa niat adalah ruh amal, dan amal tanpa niat adalah kelelahan yang sia-sia.”_ (Ihya’ Ulumuddin, Juz 1) .
Mulailah setiap hari dengan niat yang tulus: _”Ya Allah, aku berpuasa hari ini hanya untuk-Mu, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dilihat orang.”_
*2. Memperbanyak Ibadah Tersembunyi*
Nabi SAW bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah *”orang yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.”*
Lakukan amal-amal rahasia: sedekah diam-diam, shalat malam yang tak diketahui orang lain, puasa sunah yang tak diceritakan. Semakin tersembunyi, semakin besar efek terapeutiknya bagi penyakit NPD.
*3. Melatih Empati Melalui Zakat dan Sedekah*
Penelitian Nashori (2023) menemukan bahwa spiritualitas yang tinggi dapat mendukung individu dalam mengatur diri dan meningkatkan kesejahteraan subjektif. Melalui zakat dan sedekah, kita dilatih untuk memperhatikan kesulitan orang lain dan tidak hanya berfokus pada diri sendiri .
*4. Muhasabah Harian: Jujur pada Diri Sendiri*
Luangkan waktu setiap hari untuk introspeksi: _”Hari ini, apakah aku masih ingin dipuji? Apakah aku merasa tersinggung jika pendapatku tidak diterima? Apakah aku masih meremehkan orang lain?”_ .
Imam Al-Ghazali menganjurkan untuk melakukan muhasabah setiap malam, menghitung kelebihan dan kekurangan hari itu, sebelum akhirnya bertaubat dan bertekad untuk lebih baik esok hari .
*5. Membaca Kisah-Kisah Para Salaf*
Membaca riwayat para ulama saleh yang dikenal dengan kerendahan hatinya akan menyuntikkan “vaksin” ketawadhu’an ke dalam jiwa. Kisah Imam Ahmad yang tetap rendah hati meski ilmunya setinggi langit, atau kisah Imam Syafii yang tetap menghormati murid-muridnya, akan mengingatkan kita bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya .
*Bagian 7: Penutup – Kemenangan Sejati Adalah Merdeka dari Ego*
Di penghujung Ramadan, umat Islam merayakan Idul Fitri. Secara harfiah, Idul Fitri berarti _”kembali kepada fitrah”_ atau kesucian awal. Pertanyaannya: fitrah seperti apa yang kita raih?
Kemenangan sejati bukanlah sekadar mampu menahan lapar dan haus selama sebulan penuh. Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil merdeka dari belenggu ego. Ketika kita tidak lagi gelisah karena tidak dipuji. Ketika kita tidak lagi marah karena diremehkan. Ketika kita bisa duduk setara dengan orang miskin, makan bersama pembantu, dan menerima masukan dari siapa pun tanpa merasa terancam.
Imam Al-Ghazali berkata, _”Tawadhu’ bukanlah merendahkan diri di hadapan orang kaya karena kekayaannya. Tawadhu’ adalah merendahkan hati kepada semua orang karena Allah.”_
Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
_”Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”_ (HR. Muslim)
Marilah kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk menjalani *”Puasa NPD”* —puasa dari keinginan selalu menjadi pusat perhatian, puasa dari kebutuhan akan pujian, puasa dari rasa superioritas palsu.
Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang merdeka—merdeka dari belenggu *”Aku”* yang menyesatkan. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa kita, dan mengembalikan kita kepada fitrah dalam keadaan suci.
اللهم إنا نسألك قلبًا سليمًا، ولسانًا صادقًا، ونفسًا مطمئنة، وعملاً متقبلاً
_”Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hati yang selamat, lisan yang jujur, jiwa yang tenang, dan amal yang diterima.”_
Ramadan Kareem. Selamat menjalani Puasa NPD. Semoga kita semua kembali ke fitrah. 🤲
*Referensi:* Al-Quran dan Terjemahannya, Ihya’ Ulumuddin Imam Al-Ghazali, Madarijus Salikin Ibnu Qayyim, Tafsir Mafatih Al-Ghayb Imam Ar-Razi, serta penelitian kontemporer tentang NPD dan spiritualitas .
_Zawiyah Jakarta_
_Membangun Peradaban Jiwa, Merajut Kembali Fitrah_
#zawiyahjakarta
#jejakjiwa
#puasa
#NPD
#ramadhankareem
