ZAWIYAH JAKARTA KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN Seri 3: Dakwah dan Transformasi Dunia

ZAWIYAH JAKARTA
KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN
Seri 3: Dakwah dan Transformasi Dunia

ZAWIYAH JAKARTA
KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN
Seri 3: Dakwah dan Transformasi Dunia

๐ŸŒ *AMERIKA, TIONGKOK, RUSIA, DAN DUNIA MULTIPOLAR: APA ARTINYA BAGI UMAT ISLAM?*

Memahami perubahan kekuatan dunia, persaingan negara-negara besar, posisi Indonesia, dan masa depan dakwah Islam dalam tatanan global.

Pernahkah kita bertanya mengapa keputusan politik di Washington, Beijing, atau Moskow dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di Indonesia?

Mengapa konflik di suatu negara dapat menyebabkan harga energi meningkat, perdagangan terganggu, dan jutaan manusia kehilangan tempat tinggal?

Mengapa negara-negara besar berlomba menguasai kecerdasan buatan, teknologi semikonduktor, energi, dan jalur perdagangan internasional?

Jawabannya berkaitan dengan perubahan tatanan dunia.

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat memiliki pengaruh yang sangat dominan. Namun, kebangkitan Tiongkok, peran Rusia, perkembangan India, serta meningkatnya kerja sama negara-negara berkembang mulai mengubah hubungan kekuatan internasional.

Dunia sedang bergerak menuju tatanan yang lebih kompleks.

Pertanyaannya, di manakah posisi umat Islam dalam perubahan tersebut?

1. DARI DUNIA DUA KUTUB MENUJU PERSAINGAN BANYAK KEKUATAN

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, dunia memasuki masa Perang Dingin.

Ketika itu, dua kekuatan besar mendominasi politik internasional:

โ€ข Amerika Serikat dengan sistem politik dan ekonomi kapitalisnya.

โ€ข Uni Soviet dengan sistem politik komunis dan pengaruh geopolitiknya.

Keadaan tersebut dikenal sebagai bipolaritas, yaitu tatanan internasional yang didominasi dua pusat kekuatan.

Ketika Uni Soviet bubar pada 1991, Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan yang sangat dominan.

Periode ini sering disebut sebagai unipolar moment atau masa dominasi satu kekuatan utama.

Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung tanpa perubahan.

Tiongkok berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi global. Rusia mempertahankan pengaruh militer dan geopolitiknya. India semakin penting dalam ekonomi dan hubungan internasional.

Sementara itu, negara-negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin berusaha memperluas pengaruhnya.

Perubahan inilah yang melahirkan pembahasan mengenai multipolaritas.

Multipolaritas berarti adanya beberapa pusat kekuatan yang memengaruhi hubungan internasional.

Namun, perlu dipahami bahwa dunia saat ini belum sepenuhnya menjadi multipolar dalam semua bidang.

Amerika Serikat masih memiliki keunggulan besar dalam sejumlah bidang, sedangkan Tiongkok menjadi pesaing utama dalam ekonomi dan teknologi. Rusia memiliki kekuatan militer strategis, tetapi ukuran ekonominya jauh lebih kecil.

Artinya, dunia sedang mengalami perubahan distribusi kekuatan, bukan sekadar pergantian satu negara penguasa dengan negara lainnya.

2. AMERIKA SERIKAT: KEKUATAN EKONOMI, MILITER, DAN TEKNOLOGI

Amerika Serikat masih menjadi salah satu pusat utama kekuatan dunia.

Pengaruhnya terlihat melalui beberapa bidang.

Pertama, ekonomi dan keuangan internasional.

Dolar Amerika Serikat memiliki peran sangat penting dalam perdagangan, cadangan devisa, dan transaksi keuangan global.

Kedua, kekuatan militer.

Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pengeluaran militer Amerika Serikat pada 2025 mencapai sekitar US$954 miliar.

Angka tersebut merupakan sekitar 33 persen dari total pengeluaran militer dunia.

Ketiga, teknologi.

Perusahaan-perusahaan Amerika memainkan peran besar dalam pengembangan kecerdasan buatan, perangkat lunak, komputasi awan, dan teknologi digital.

Keempat, pengaruh budaya dan pendidikan.

Universitas, industri hiburan, media, dan platform digital Amerika memiliki jangkauan internasional yang sangat luas.

Karena itu, kekuatan Amerika tidak hanya terletak pada persenjataan.

Pengaruhnya juga dibangun melalui ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, diplomasi, dan budaya.

Dalam kajian hubungan internasional, kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan kebijakan sering disebut soft power.

Konsep ini banyak dikembangkan oleh Joseph S. Nye Jr.

Pelajaran bagi umat Islam: kekuatan suatu peradaban tidak cukup dibangun melalui kekayaan dan kekuasaan, tetapi juga melalui pendidikan, pengetahuan, teknologi, dan kemampuan memengaruhi dunia secara positif.

3. TIONGKOK: KEBANGKITAN EKONOMI DAN PERSAINGAN TEKNOLOGI

Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok mengalami transformasi ekonomi yang sangat besar.

Sejak reformasi ekonomi yang dimulai pada akhir 1970-an, Tiongkok berkembang menjadi pusat manufaktur, perdagangan, dan teknologi dunia.

Negara ini memiliki posisi penting dalam rantai pasok industri, kendaraan listrik, energi terbarukan, telekomunikasi, dan berbagai teknologi strategis.

Tiongkok juga mengembangkan Belt and Road Initiative (BRI), yang diumumkan pada 2013.

Inisiatif tersebut mencakup kerja sama pembangunan infrastruktur, transportasi, perdagangan, dan konektivitas internasional.

Bagi sejumlah negara berkembang, kerja sama ini membuka peluang investasi dan pembangunan.

Namun, proyek-proyek tersebut juga menimbulkan perdebatan mengenai keberlanjutan utang, dampak lingkungan, transparansi, dan ketergantungan ekonomi.

Dalam bidang militer, SIPRI memperkirakan pengeluaran Tiongkok pada 2025 mencapai sekitar US$336 miliar, menjadikannya negara dengan pengeluaran militer terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Persaingan Amerika dan Tiongkok saat ini tidak hanya berlangsung melalui perdagangan.

Keduanya juga bersaing dalam kecerdasan buatan, semikonduktor, keamanan siber, teknologi komunikasi, dan pengaruh geopolitik.

Bagi negara-negara Muslim, keadaan ini menghadirkan pilihan kerja sama yang semakin beragam.

Namun, peluang tersebut harus diimbangi kemampuan menjaga kepentingan nasional, kedaulatan, dan kesejahteraan masyarakat.

4. RUSIA: KEKUATAN MILITER DAN PENGARUH GEOPOLITIK

Rusia memiliki kedudukan penting dalam politik internasional karena kekuatan militer, persenjataan nuklir, sumber daya energi, serta statusnya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejak invasi skala penuh Rusia terhadap Ukraina pada Februari 2022, hubungan Rusia dengan banyak negara Barat mengalami ketegangan besar.

Konflik tersebut memengaruhi keamanan Eropa, perdagangan energi, pangan, dan hubungan diplomatik internasional.

Menurut SIPRI, pengeluaran militer Rusia pada 2025 diperkirakan mencapai US$190 miliar, setara dengan sekitar 7,5 persen produk domestik brutonya.

Angka tersebut menunjukkan besarnya sumber daya ekonomi yang digunakan untuk kepentingan militer.

Namun, pengaruh geopolitik tidak selalu identik dengan besarnya ekonomi.

Rusia menunjukkan bahwa kemampuan militer, energi, diplomasi, dan posisi strategis dapat memberikan pengaruh internasional yang besar.

Bagi dunia Islam, hubungan dengan Rusia juga memiliki dimensi tersendiri.

Rusia memiliki komunitas Muslim yang besar serta hubungan diplomatik dan ekonomi dengan berbagai negara Muslim.

Karena itu, hubungan internasional tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai persaingan antara dunia Barat dan dunia Islam.

Kepentingan negara sering kali melintasi batas agama, budaya, dan ideologi.

5. DUNIA MENGELUARKAN TRILIUNAN DOLAR UNTUK PERSENJATAAN

Salah satu fakta penting dalam perubahan dunia adalah meningkatnya pengeluaran militer.

Laporan SIPRI yang diterbitkan pada April 2026 mencatat bahwa pengeluaran militer global pada 2025 mencapai sekitar:

US$2,887 triliun.

Angka tersebut meningkat 2,9 persen secara riil dibandingkan tahun sebelumnya.

Tiga negara dengan pengeluaran terbesar adalah:

โ€ข Amerika Serikat: US$954 miliar.

โ€ข Tiongkok: sekitar US$336 miliar.

โ€ข Rusia: sekitar US$190 miliar.

Ketiganya menyumbang sekitar 51 persen pengeluaran militer dunia.

Data ini menunjukkan besarnya perhatian negara-negara terhadap keamanan dan pertahanan.

Namun, di balik angka tersebut terdapat persoalan kemanusiaan yang tidak kalah penting.

Laporan UNHCR mencatat sekitar 123,2 juta manusia mengalami pengungsian paksa pada akhir 2024 akibat konflik, kekerasan, persekusi, pelanggaran hak asasi manusia, dan gangguan serius terhadap ketertiban umum.

Mereka bukan sekadar angka statistik.

Di antara mereka terdapat anak-anak yang kehilangan sekolah, keluarga yang terpisah, orang tua yang kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat yang harus membangun kembali kehidupannya.

Di sinilah persoalan geopolitik bertemu dengan tanggung jawab moral dan kemanusiaan.

6. BRICS DAN BANGKITNYA NEGARA-NEGARA BERKEMBANG

Selain persaingan negara-negara besar, perkembangan penting lainnya adalah meningkatnya kerja sama negara-negara yang sering disebut Global South.

Istilah ini umumnya merujuk pada negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lainnya, meskipun bukan kelompok yang sepenuhnya seragam.

Salah satu forum yang semakin memperoleh perhatian adalah BRICS.

BRICS pada awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok. Afrika Selatan kemudian bergabung pada 2011.

Keanggotaannya berkembang dengan masuknya sejumlah negara lain.

Pada 6 Januari 2025, Indonesia secara resmi diumumkan sebagai anggota penuh BRICS.

Keanggotaan Indonesia memperlihatkan semakin pentingnya posisi negara-negara berkembang dalam pembahasan tata kelola ekonomi dan politik internasional.

BRICS berupaya memperluas kerja sama ekonomi, keuangan, pembangunan, dan reformasi tata kelola global.

Namun, BRICS bukan aliansi militer dan bukan pula organisasi yang seluruh anggotanya memiliki kepentingan politik yang sama.

Anggotanya mempunyai sistem pemerintahan, orientasi ekonomi, dan kepentingan geopolitik yang berbeda.

Karena itu, perkembangan BRICS perlu dipahami sebagai peluang memperluas kerja sama, bukan jaminan terbentuknya satu kekuatan politik yang sepenuhnya bersatu.

7. DI MANA POSISI DUNIA ISLAM?

Dunia Islam memiliki posisi yang sangat penting dalam perubahan geopolitik global.

Sebagian negara Muslim memiliki cadangan energi besar.

Sebagian lainnya berada di jalur perdagangan strategis yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa.

Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan kedudukan penting di Asia Tenggara.

Arab Saudi mempunyai peran strategis dalam energi dan kedudukannya sebagai tempat dua kota suci.

Turki berada pada posisi geografis yang menghubungkan Eropa dan Asia.

Mesir memiliki arti penting karena Terusan Suez dan pengaruh sejarah serta intelektualnya.

Sementara itu, negara-negara seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, Qatar, dan lainnya mengembangkan peran dalam perdagangan, pendidikan, investasi, dan teknologi.

Namun, dunia Islam bukan satu kekuatan politik yang seragam.

Negara-negara Muslim mempunyai kepentingan nasional, sistem pemerintahan, tingkat pembangunan, dan hubungan internasional yang berbeda.

Karena itu, besarnya potensi dunia Islam tidak otomatis menghasilkan kesatuan pengaruh geopolitik.

Tantangan utamanya adalah bagaimana memperkuat kerja sama dalam bidang yang memberikan manfaat bersama.

Misalnya pendidikan tinggi, riset, perdagangan, ketahanan pangan, kesehatan, teknologi, serta bantuan kemanusiaan.

Persatuan umat tidak harus berarti keseragaman politik, tetapi dapat diwujudkan melalui kerja sama yang nyata untuk membangun kemaslahatan.

8. APA HUBUNGAN MULTIPOLARITAS DENGAN DAKWAH?

Sekilas, geopolitik mungkin terlihat jauh dari kegiatan dakwah.

Padahal, perubahan kekuatan dunia memengaruhi kehidupan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

Ketika terjadi konflik, masyarakat membutuhkan perlindungan, bantuan, dan pendampingan.

Ketika muncul ketimpangan ekonomi, dakwah perlu menghadirkan perhatian terhadap keadilan sosial.

Ketika teknologi berkembang, umat membutuhkan literasi digital dan bimbingan etika.

Ketika hubungan antarnegara mengalami ketegangan, dakwah dapat memperkuat dialog, perdamaian, dan solidaritas kemanusiaan.

Karena itu, dakwah dalam dunia multipolar memerlukan wawasan yang lebih luas.

Dakwah tidak cukup hanya memahami persoalan keagamaan pada tingkat individu.

Ia juga perlu memahami bagaimana kebijakan ekonomi, perkembangan teknologi, hubungan internasional, dan perubahan sosial memengaruhi kehidupan manusia.

Bagi perguruan tinggi Islam, hal ini membuka ruang pengembangan kajian dakwah global.

Bagi pesantren, perubahan dunia menuntut penguatan literasi internasional tanpa kehilangan tradisi keilmuan Islam.

Bagi organisasi Islam, perkembangan geopolitik membuka peluang kerja sama pendidikan, pelayanan sosial, dan diplomasi kemanusiaan.

9. AL-QUR’AN DAN ETIKA HUBUNGAN ANTARBANGSA

Islam memberikan landasan penting mengenai hubungan manusia dan bangsa-bangsa.

Allah Swt. berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู… ู…ู‘ูู† ุฐูŽูƒูŽุฑู ูˆูŽุฃูู†ุซูŽู‰ูฐ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุดูุนููˆุจู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุจูŽุงุฆูู„ูŽ ู„ูุชูŽุนูŽุงุฑูŽูููˆุง

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

(QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman bangsa merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Perbedaan tidak harus menjadi alasan permusuhan.

Sebaliknya, perbedaan dapat membuka ruang saling mengenal, bekerja sama, dan membangun kehidupan bersama.

Allah Swt. juga berfirman:

ูˆูŽุฅูู† ุฌูŽู†ูŽุญููˆุง ู„ูู„ุณู‘ูŽู„ู’ู…ู ููŽุงุฌู’ู†ูŽุญู’ ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah.”

(QS. Al-Anfal [8]: 61)

Ayat ini menunjukkan pentingnya perdamaian dalam hubungan antarkelompok yang berkonflik, dengan tetap memperhatikan konteks dan ketentuan yang menyertainya.

Dalam konteks hubungan internasional, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan etis bagi dakwah yang mengutamakan keadilan, dialog, penghormatan martabat manusia, dan penyelesaian konflik secara damai.

10. DARI OBJEK GEOPOLITIK MENJADI SUBJEK PERADABAN

Salah satu tantangan terbesar umat Islam adalah bagaimana meningkatkan kemampuan untuk ikut menentukan arah perubahan dunia.

Selama ini, pembahasan tentang dunia Islam sering berpusat pada konflik, kemiskinan, ketertinggalan teknologi, atau persaingan politik.

Padahal, umat Islam juga memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan perdamaian.

Agar potensi tersebut berkembang, diperlukan beberapa langkah penting.

Pertama, memperkuat pendidikan dan tradisi penelitian.

Kedua, meningkatkan penguasaan teknologi dan kemampuan inovasi.

Ketiga, membangun tata kelola yang adil, amanah, dan profesional.

Keempat, memperluas kerja sama antarnegara dan lembaga Islam.

Kelima, mengembangkan dakwah yang mampu menjawab persoalan global dengan pendekatan ilmiah, etis, dan kemanusiaan.

Dunia multipolar tidak otomatis menguntungkan umat Islam.

Namun, perubahan tersebut dapat membuka kesempatan apabila umat mampu membangun kapasitas dan menentukan prioritasnya sendiri.

PENUTUP: UMAT ISLAM PERLU MEMAHAMI DUNIA, BUKAN HANYA MERESPONSNYA

Perubahan tatanan dunia merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari.

Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, India, dan berbagai kekuatan lainnya akan terus memengaruhi hubungan internasional.

Negara-negara Muslim perlu memahami perubahan tersebut secara cermat, tanpa terjebak pada anggapan bahwa satu kekuatan selalu benar dan kekuatan lainnya selalu salah.

Kepentingan politik negara harus dianalisis berdasarkan fakta, sedangkan sikap moral perlu berpijak pada prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, dakwah memiliki tanggung jawab yang semakin luas.

Dakwah perlu membangun umat yang memahami agama sekaligus mampu membaca perubahan zaman.

Umat yang tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menghasilkan pengetahuan.

Umat yang tidak hanya membicarakan perdamaian, tetapi turut membangun kehidupan yang lebih adil.

Umat yang tidak hanya bangga dengan sejarah peradabannya, tetapi juga bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Karena masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuatan terbesar, tetapi juga oleh siapa yang mampu menggunakan kekuatannya untuk menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.

Dan bagi umat Islam, pertanyaan terpentingnya adalah:

“Apakah kita akan terus menjadi penonton dalam perubahan dunia, atau mulai mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi nyata bagi masa depan peradaban?”

REFERENSI DAN BACAAN LANJUTAN

1. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). (2026). Trends in World Military Expenditure, 2025.
https://www.sipri.org/publications/2026/sipri-fact-sheets/trends-world-military-expenditure-2025

2. International Monetary Fund. (2026). World Economic Outlook Database, October 2026.
https://data.imf.org/datasets/WEO

3. UNHCR. (2025). Global Trends 2024.
https://www.unhcr.org/publications/global-trends-2024

4. BRICS Brazil. (2025). Brazil Announces Indonesia as Full Member of BRICS.
https://brics.br/en/news/brazil-announces-indonesia-as-full-member-of-brics

5. Joseph S. Nye Jr. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics.

6. John J. Mearsheimer (2001). The Tragedy of Great Power Politics.

7. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat [49]: 13 dan QS. Al-Anfal [8]: 61.

ZAWIYAH JAKARTA
Kajian Islam, Dakwah, dan Peradaban

Bersambung ke Seri 4:
DUA MILIAR MUSLIM DI DUNIA: BESAR DALAM JUMLAH, SEBERAPA KUAT DALAM PERADABAN?

Memahami kekuatan demografi umat Islam, ketimpangan ekonomi, pendidikan, penelitian, dan tantangan membangun peradaban yang berpengaruh.

Semoga tulisan ini memperluas wawasan kita tentang dunia dan menguatkan kesadaran bahwa dakwah juga memiliki tanggung jawab dalam membangun masa depan kemanusiaan.

========
Maโ€™had Aly Zawiyah Jakarta kembali membuka Penerimaan Mahasantri Baru untuk Program Non-Formal:
S1 Ilmu Fiqih โ€“ Durasi 4 Tahun
S2 Ilmu Fiqih & Ushul Fiqih โ€“ Durasi 2 Tahun
Kuliah setiap Sabtu & Ahad
Pukul 07.15 โ€“ 15.30 WIB
Jakarta Timur (offline & full interaksi)
—
Lokasi: Gedung Yayasan Terpadu Shibghatullah
Jl. Budi Harapan No. 40, Cipinang Melayu, Jakarta Timur
Kontak: Ci Mia โ€“ +62 812-1037-5150

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *