Oleh: Hayat Abdul Latief
Tertulis dalam kitab Aisarut Tafasir/Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi: Diriwayatkan bahwa tatkala diturunkan ayat berikut:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً
(“Katakanlah, wahai hamba-hambaku yang berlebihan terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa.” {QS. Az-Zumar: 53}) bedirilah seorang laki-laki dan berkata, “Bagaimana dengan syirik, wahai Rasulullah?”, Nabi tidak suka hal itu dan turunlah ayat,
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Allah disekutukan dan mengampuni yang selain syirik untuk yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)
Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang dirinya yang tidak mengampuni dosa syirik. Adapun dosa-dosa selainnya, baik dosa besar ataupun dosa kecil, maka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki untuk mengampuni pelaku dosa, tidak akan disiksa karena dosa-dosa itu. Dan apabila mau, Dia akan menganyiksa pelaku dosa itu.
Siapa saja yang telah melakukan kesyirikan, maka dia telah melakukan kedustaan yang sangat besar karena telah beribadah kepada suatu hal yang tidak berhak untuk disembah dan tidak berhak untuk dianggap mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Oleh karenanya, pelaku kesyirikan serupa dengan penutur persaksian palsu dan praktisi kebatilan, dari sinilah nyata bahwa dosa syirik termasuk dosa paling besar.
Berkenaan dengan larangan mensekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, dalam hadits Qudsi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
قالَ اللَّهُ تَبارَكَ وتَعالَى: أنا أغْنَى الشُّرَكاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَن عَمِلَ عَمَلًا أشْرَكَ فيه مَعِي غيرِي، تَرَكْتُهُ وشِرْكَهُ
“Allah tabaaraka wa ta’aalaa berfirman: “Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Maka siapa yang beramal lalu dia mempersekutukan Aku dengan yang lain dalam amalan tersebut, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim – Shahih Muslim 2985 dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu).
Hadits Qudsi adalah hadits redaksinya dari Rasulullah, namun matan (kandungan haditsnya) dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka beliau selalu mengatakan: Allah berfirman, “………” Hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah, adakalanya dinisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian disebut Hadis Qudsi dan adakalanya dinisbatkan kepada beliau sendiri, kemudian disebut hadits Nabawi.
Dalam hadits ini Rasulullah menginformasikan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Allah tidak butuh kepada sekutu, Allah Maha Kaya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Tiga statement berkaitan dengan narasi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh sekutu:
*Satu,* kalau ada orang beramal ketaatan karena Allah dan karena selain-Nya, maka Allah akan meninggalkannya.
*Dua,* kalau ada orang yang melakukan shalat karena Allah dan karena manusia, maka Allah tidak menerima shalatnya, karena memang Allah tidak butuh sekutu.
*Tiga,* kalau ada orang beramal dan dia membagikan niat dari amalnya untuk Allah dan selain-Nya, maka Allah tidak akan menerimanya. Dalam arti ibadah yang disertai dengan Riya Allah tidak akan menerimanya. Sesuai dengan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Khulashatul qaul, segala jenis ketaatan, ibadah serta amal sholeh yang disertai dengan riya maka pelakunya tergolong sebagai orang yang celaka, amalnya tidak diterima, karena Allah tidak butuh sekutu di sisi-Nya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

