Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Sarjana merupakan sebutan bagi kaum terpelajar sedangkan Sarjono merupakan sebutan bagi orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan baik formal maupun non-formal. Kaum terpelajar memiliki kedudukan yang terhormat di kalangan masyarakat. Islam sangat memuliakan kedudukan ilmu dan ahlinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا۟ الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

 

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

 

Tafsir QS. Al-Mujadalah: 11: “Yakni Allah mengangkat derajat orang yang berilmu diantara kalian dengan kemuliaan di dunia dan pahala di akhirat. Maka barangsiapa yang beriman dan memiliki ilmu maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan keimanannya itu dan mengangkat derajatnya dengan ilmunya pula; dan salah satu dari itu adalah Allah mengangkat derajat mereka dalam majelis-majelis.” (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir – Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah)

 

Allah memuji kaum terpelajar yakni ulama yang takut kepada-Nya,

 

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

 

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

 

Tafsir potongan QS. Fathir: 28: “Maka setiap orang yang lebih mengenal Allah, ia akan menjadi lebih takut kepadaNYa, dan takutnya kepada Allah menjadikannya menahan diri dari perbuatan maksiat dan selalu bersiap untuk perjumpaan dengan Tuhan yang ditakutinya. Ini merupakan satu dalil yang menunjukkan tingginya keutamaan ilmu, sebab ilmu mengajak takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepadaNYa adalah orang-orang yang dianugerahi karamah, sebagaimana FirmanNYa, “Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Al-Bayyinah:8) (Tafsir as-Sa’di – Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H)

 

Tidak boleh dinafikan, bahwa berkembangnya ilmu pengetahuan karena jasa para sarjana yang menuliskan buku-buku yang bisa dibaca oleh generasi sesudahnya. Lihatlah perpustakaan yang berisi buku-buku Islam yang begitu banyak baik dalam bidang tafsir, hadits, fiqih, tasawuf dan disiplin keilmuan Islam lainnya. Karya-karya mereka sangat bermanfaat untuk generasi sesudahnya. Mereka adalah Imam Asy-Syafi’i dan para imam fuqoha lainnya, Al Bukhari dan lain-lainnya, imam Nawawi, Imam Al Ghazali dan sederet ulama lainnya.

 

Tidak boleh dilupakan, bahwa yang memegang urusan bangsa dan negara juga dalam kendali orang-orang yang terpelajar, karena orang-orang yang tidak terpelajar tidak punya akses untuk menjadi pemimpin. Para petinggi negara kalau tidak takut kepada Allah dan tidak sayang kepada rakyatnya, niscaya terjadi kerusakan kehidupan berbangsa dan bernegara akibat kepentingan oligarki yang mencekik leher rakyat sendiri. Kerusakan yang ditimbulkan oleh kaum terpelajar apalagi yang kemudian menjadi pemimpin lebih luas jangkauannya daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh orang awam dan rakyat kecil.

 

Dalam Sirah Nabawi, kaum yang tidak terpelajar disebut Arab Badui, yang tinggal jauh dari Nabi, sehingga jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Nabawiyah. Simaklah 2 kisah Arab badui berikut:

 

Kisah 1: Suatu hari, Rasulullah dan para sahabat sedang berada di Masjid Nabawi. Mereka pun kedatangan tamu orang A’rabiy atau Arab Badui. Tiba-tiba, si Arab Badui tersebut kencing di dalam Masjid Nabawi. Seketika, sahabat mengerubungi orang itu, meneriakinya, menyebut kelewatan. Rasulullah langsung menghalau para sahabat. ” Biarkan saja dia sampai selesai,” kata Rasulullah. Setelah si Arab Badui itu menyelesaikan hajatnya lalu pergi, Rasulullah meminta sahabat untuk mengambil air satu timba. ” Siramkan air itu di atas tanah yang dikencingi tadi,” ucap Rasulullah, tanpa terlihat marah sama sekali. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tahu bahwa yang beliau hadapi adalah Arab badui alias orang yang tidak terpelajar maka harus bersikap lembut untuk mengajarinya.

 

Kisah 2: Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata; Dahulu kami pernah dilarang untuk bertanya tentang apa saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh sebab itu kami merasa senang apabila ada orang Arab Badui yang cukup berakal datang kemudian bertanya kepada beliau lantas kami pun mendengarkan jawabannya. Maka suatu ketika, datanglah seorang lelaki dari penduduk kampung pedalaman. Dia mengatakan, “Wahai Muhammad, telah datang kepada kami utusanmu. Dia mengatakan bahwasanya anda telah mengaku bahwa Allah telah mengutus anda?”. Maka Nabi menjawab, “Dia benar”. Lalu arab badui itu bertanya, “Lalu siapakah yang menciptakan langit?”. Beliau menjawab, “Allah”. Lalu dia bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”. Nabi menjawab, “Allah”. Dia bertanya lagi, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan menciptakan di atasnya segala bentuk ciptaan?”. Nabi menjawab, “Allah”. Lalu arab badui itu mengatakan, “Demi Dzat yang telah menciptakan langit dan yang menciptakan bumi serta memancangkan gunung-gunung ini, benarkah Allah telah mengutusmu?”. Maka beliau menjawab, “Iya”.

 

Lalu dia kembali bertanya, “Utusanmu pun mengatakan kepada kami bahwa kami wajib untuk melakukan shalat lima waktu selama sehari semalam yang kami lalui.” Nabi mengatakan, “Dia benar”. Lalu dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah memerintahkanmu dengan perintah ini?”. Nabi menjawab, “Iya”. Lalu dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami berkewajiban untuk membayarkan zakat dari harta-harta kami?”. Nabi mengatakan, “Dia benar”. Dia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang telah menyuruhmu untuk ini?”. Beliau menjawab, “Iya”. Dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan di setiap tahunnya.” Nabi mengatakan, “Dia benar” Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah menyuruhmu dengan perintah ini?”. Beliau menjawab, “Iya”. Dia mengatakan, “Utusanmu pun mengatakan bahwa kami wajib untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukaan perjalanan ke sana.” Nabi menjawab, “Dia benar”. Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?”. Nabi menjawab, “Iya”.

 

Anas mengatakan; Kemudian dia pun berbalik seraya mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahkan selain itu dan aku juga tidak akan menguranginya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau dia benar-benar jujur/konsisten niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, bab maa jaa’a fi qaulihi ta’ala, ‘Wa qul Rabbi zidni ‘ilman’, hadits no 63 dan HR. Muslim cet ke-4 Darul Kutub Ilmiyah 1427 H, hal. 29)

 

Sama-sama orang yang beriman, orang berilmu memang lebih tinggi derajatnya daripada orang yang tidak berilmu. Namun orang yang paling beruntung, mendapatkan kemenangan dan kesuksesan di dunia dan akhirat adalah bukanlah orang yang terpelajar ataupun sebaliknya, tapi orang yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, sesuai dengan firman Allah:

 

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخْشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

 

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52)

 

Firman Allah juga menyebutkan,

 

….وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

“….Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)

 

Beberapa faedah dari tulisan ini:

 

*Satu,* kaum terpelajar memiliki kedudukan yang terhormat di kalangan masyarakat. Islam sangat memuliakan kedudukan ilmu dan ahlinya.

 

*Dua,* kaum terpelajar, bila menjadi contoh kebaikan maka membawa manfaat untuk banyak orang. Namun bila sebaliknya, maka menjadi kerugian yang amat besar untuk masyarakat.

 

*Tiga,* orang yang paling beruntung, mendapatkan kemenangan dan kesuksesan di dunia dan akhirat adalah orang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.

 

Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *