Oleh: Hayat Abdul Latief
Sebagaimana hari tidak selamanya siang juga tak selamanya malam. Dalam pergantian siang dan malam sudah tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Allah menetapkan waktu malam untuk beristirahat dari aktivitas sehari-hari. Sedangkan di waktu siang, Allah tetapkan untuk manusia menjalani berbagai aktivitas dan memenuhi kebutuhannya. Jika tidak ada regulasi demikian, manusia bisa bekerja tanpa batas. Demikianlah Allah menunjukkan hikmah dengan adanya pengaturan siang dan malam.
….
Kondisi badan kita tak selamanya sehat, adakalanya sakit. Ketika kita sehat, hendaknya kita selalu bersyukur kepada Allah karena dengan nikmat sehat. Dengan kesehatan yang ada pada diri kita, banyak sekali nikmat lainnya yang dapat kita rasakan. Dengan sehat, kita dapat menikmati makan dan minum, ibadah, serta aktivitas hidup lainnya.
Sebaliknya, ketika kita sedang sakit, hendaknya kita bersabar atas sakit yang menimpa diri kita. Selain itu, dengan sakit ini, tentunya kita sadar bahwa nikmat sehat begitu sangat berharga dan sehat merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Sebagai seorang yang beriman, sudah selayaknya kita meyakini bahwa ada hikmah di balik musibah sakit yang kita alami.
…
Episode hidup seseorang ada yang senang dan adakalanya susah. Orang beriman akan selalu mendekatkan dirinya pada Allah dalam keadaan susah maupun senang hatinya. Ketika senang kita tidak boleh lupa diri maka dianjurkan untuk selalu mengingat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda;
تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
“Kenalilah Allah saat lapang; niscaya Dia akan mengenalimu ketika engkau susah”. (HR. Al-Hakim dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Dan sesulit apapun dan seberat apapun masalah yang kita hadapi, yakinlah bahwa Allah SWT pasti akan memberikan pertolongan kepada kita apabila kita menjalaninya dengan ikhlas sabar, serta selalu bertawakal kepada-Nya. Allah tidak akan memberi cobaan yang hamba-Nya takkan mampu untuk menghadapinya, baik itu membebani dengan ujian maupun dengan kewajiban-kewajiban. Firman-Nya;
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا …
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya….” (QS Al Baqarah: 286)
…..
Kita tak selamanya muda, bila berusia panjang pasti mengalami masa tua. Masa muda merupakan waktu utama kita untuk beramal sholeh. Allah SWT berfirman;
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)
Ibnu Katsir menjelaskan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim)
Ketika masih muda, janganlah seorang mengatakan; Aku akan beramal ketika tua. Karena masa muda merupakan masa yang sangat fit dan semangat untuk beramal karena kekuatan tubuh dan kesempurnaan akal. Sedangkan badan terasa lemah dan kurang bergairah apabila memasuki usia tua.
…..
Setiap pendosa punya masa depan dan punya kesempatan memperbaiki diri. Allah SWT berfirman;
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS Az-Zumar: 53-54)
Kalau setiap pendosa punya masa depan. Sebaliknya, setiap orang baik punya masa lalu. Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan Agama Allah pun akhirnya menjadi pedang Allah, yaitu Khalid bin Walid radhiallahu’anhu – beliau memiliki julukan Saifullah, yang artinya Pedang Allah. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

