Oleh: Hayat Abdul Latief
Ditengah-tengah kejadian anti rasialisme di berbagai belahan dunia, cobalah tengok ajaran Islam dan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang merupakan contoh yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan anti rasialisme.
Mari kita telaah QS. Al-Hujurat Ayat 13:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Disebutkan dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah: “Allah menyampaikan kepada manusia: Kami -dengan keagungan dan kekuasaan Kami yang sempurna- menciptakan kalian dari satu orang laki-laki yaitu Adam, dan satu orang perempuan yaitu Hawa, maka janganlah kalian saling merasa unggul dalam hal nasab. Dan Kami menjadikan kalian berbagai bangsa melalui perkembangbiakan, dan dari bangsa-bangsa itu menjadi berbagai kabilah dan suku; agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling baik derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Allah Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya dan keadaan serta urusan mereka.
Dalam Islam sendiri, menurut prof. Nasaruddin Umar Imam Besar masjid Istiqlal Jakarta, sudah ditegaskan bahwa keberadaan multi etnik dan agama tidak mesti difahami sebagai sebuah ancaman. Sebaliknya Islam menganggapnya sebagai sebuah kekayaan yang bisa mendatangkan berbagai berkah. Al-Qur’an pernah menegaskan:
وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنۡ فِى الۡاَرۡضِ كُلُّهُمۡ جَمِيۡعًا ؕ اَفَاَنۡتَ تُكۡرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِيۡنَ
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Q.S. Yunus:99).
Dalam khotbah terakhir Rasulullah di Arafah pada tahun 632 M silam, beliau juga memberikan nasihat untuk menjunjung tinggi kesetaraan antar-etnis bahwa yang membedakan manusia di mata Allah hanya ketakwaan,
“أيها الناس إن ربكم واحد وإن أباكم واحد.. كلكم لآدم وآدم من تراب، وأكرمكم عند الله اتقاكم”
“Hai manusia, sungguh Tuhanmu hanya satu, bapakmu hanya satu, maka tiada kemuliaan orang Arab atas orang asing, orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan takwa.” (HR. Ahmad)
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam merupakan sosok yang menolak adanya rasisme dan menjunjung tinggi keadilan sesama manusia. Terbukti bahwa para sahabat beliau merupakan multietnis. Dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, disebutkan ada tiga orang sahabat yang berasal dari kalangan non-Arab. Mereka adalah Suhaib Ar Rumi, Bilal bin Rabah, dan Salman Al Farisi.
Tentang ketiga sahabat ini, Nabi SAW pernah mengatakan, ”Aku adalah sabiq (orang yang paling dahulu masuk Islam dari) bangsa Arab, Shuhaib adalah sabiq bangsa Romawi, Salman adalah sabiq bangsa Persia, dan Bilal adalah sabiq bangsa Habasyah.”
Ditambah lagi Tamim Ad Dari mantan pendeta Nasrani dan Abdullah bin Salam anak pembesar Yahudi yang menerima Islam dan menjadi shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Istri-istri Rasulullah multi etnis. Ada dari Arab Quraisy, dari Arab non-Quresy, dari Qibthi (Koptik) Mesir dan ada pula bangsa Yahudi. Wallahu alam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

