Oleh: Hayat Abdul Latief
Ketaatan terbagi dua yakni ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya dan ketaatan yang bersyarat selain kepada Allah dan Rasul-Nya.. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Ra-sul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa:59)
*Sababun Nuzul Ayat di atas:*
روى البخاري في صحيحه عن ابن عباس قال: نزلتْ في عبدالله بن حُذافة بن قيس الأنصاري البدري، وكان به دعابة؛ إذ بعثه رسول الله صلى الله عليه وسلم على سرية، فأمرهم يومًا أن يجمعوا حطبًا ويوقدوا نارًا ففعلوا، ثم أمرهم أن يدخلوها محتجًّا عليهم بقوله صلى الله عليه وسلم: ((مَن أطاع أميري فقد أطاعني، ومَن عصى أميري فقد عصاني))، فلم يستجيبوا له، وقالوا له: إنما آمنا وأسلمنا لننجوَ من النار، فكيف نُعذِّب أنفسنا بها؟! وذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: ((لو دخلوها ما خرجوا منها؛ إنما الطاعة في المعروف))
“Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat, “Athii’ullah wa athii’urrasuula wa ulil amri minkum,” ia berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya dalam suatu sariyyah (pasukan kecil).” Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan sariyyah dan mengangkat seorang Anshar sebagai pimpinannya dan memerintahkan mereka untuk menaatinya. Suatu ketika pimpinan itu marah dan berkata, “Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kamu menaatiku?” Mereka menjawab, “Ya.” Pimpinan itu berkata, “Kalau begitu, kumpulkanlah kepadaku kayu bakar.” Mereka pun mengumpulkannya. Pimpinan itu berkata, “Nyalakanlah api.” Maka mereka menyalakan, lalu pimpinan itu berkata, “Masuklah kamu ke dalamnya.” Mereka pun hampir mau melakukannya, namun sebagian mereka menahan sebagian yang lain, dan mereka berkata, “(Sesungguhnya) kami melarikan diri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari api (neraka).” Mereka tetap seperti itu hingga api itu padam sehingga hilanglah kemarahan pimpinan itu, lalu disampaikanlah berita itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau bersabda, “Jika sekiranya mereka masuk ke dalamnya, tentu mereka tidak akan keluar sampai hari kiamat. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf (wajar).”
*Ayat dan Hadits di atas membagi ketaatan kepada 2 bagian*
*a. Ketaatan Mutlak,* yakni ketaatan yang tidak bisa ditawar yaitu ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan ketaatan kepada keduanya maka orang beriman akan mendapatkan kemenangan agung.
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).
*b. Ketaatan bersyarat,* yaitu ketaatan kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.” (HR. Ahmad, shahih)
*Taat Kepada Pemimpin*
Sebagai warga yang tinggal di suatu wilayah teritorial tertentu, wajib mentaati pemimpinnya, selamat tidak disuruh melanggar batasan Islam. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
السمعُ والطاعةُ على المرءِ المسلمِ فيما أحبَّ وكرهَ ، ما لم يُؤمَرُ بمعصيةٍ ، فإذا أُمِرَ بمعصيةٍ فلا سمع ولا طاعةَ
“Wajib mendengar dan ta’at (kepada penguasa) bagi setiap Muslim, dalam perkara yang ia setujui ataupun yang ia benci (dari pemimpinnya). Jika pemimpinnya memerintahkan untuk bermaksiat, tidak boleh mendengar dan tidak boleh ta’at” (HR. Bukhari no. 2955, 7144).
Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:
أجمع العلماء على وجوب طاعة الأمراء في غير معصية
“Para ulama ijma akan wajibnya taat kepada ulil amri selama bukan dalam perkara maksiat” (Syarah Shahih Muslim, 12/222).
*Taat kepada Orang Tua*
Anak wajib berbakti kepada kedua orang tuanya dalam kebaikan. Apabila anak disuruh melakukan perbuatan maksiat maka tidak wajib taat kepada mereka, namun tetap harus tetap memperlakukan mereka berdua dengan baik dalam urusan dunia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“ (Luqman : 15)
*Tunduk kepada Istri, Mendurhakai Ibunya – Loyal kepada Teman, Melawan Ayahnya: Tanda Musibah akan Melanda*
Jika seorang anak lebih mementingkan istrinya dari pada ibunya, lalu ibunya tersinggung dengan perlakuan itu, maka ia termasuk anak durhaka. Demikian juga apabila taat kepada temannya namun melawan kepada ayahnya.
إذا فعلتْ أُمّتي خمْس عشرة خصْلةً حلّ بها البلاء: إذا كان المغنم دولا, والاّ مغْنما والزكاة مغرما وأطاع الرجل زوجته وعقّ امّه وبرّ صديقه وجفا أباه وارتفعت الأصوات فى المساجد وكلن زعيم القوم أرذلهم واكرم الرجل فخافة شرّه وشربة الخمور ولُبس الحرير واتُّخذت القينات والمعازف ولعن أخر هذه الأمة أوّلها فاليرتقبوا عندذلك ريحا حمراء او خسفا او مسخا
Jika ummatku telah melakukan lima belas macam, maka pasti tiba bala’ atas mereka:
Jika kekuasaan dianggap sebagai keuntungan
dan amanah dianggap seperti ghonimah
dan zakat dianggap kerugian
dan orang laki tunduk pada istrinya
dan durhaka terhadap ibunya
dan taat (menurut) pada temannya
dan membenci pada ayahnya
dan bersuara keras (menjerit-jerit) di masjid.
dan pimpinan kaum itu orang yang rendah budinya
orang ditakuti karena kejahatannya
dan merajalela minuman khamr (mabuk-mabukan)
dan umum pakaian sutra
dan umum penari-penari wanita
dan merata permainan musik
dan yang akhir dari umat ini telah mengutuk pada ummat-ummat yang permulaan, maka ketika itu hanya turunnya azab berupa angin merah, atau gempa longsor atau kemusnahan. (HR. Tirmidzi, dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu)
*Kesimpulan:*
*Satu,* ketaatan terbagi dua yakni ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya dan ketaatan yang bersyarat selain kepada Allah dan Rasul-Nya..
*Dua,* siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendapatkan kemenangan yang besar di dunia dan di akhirat.
*Tiga,* sebagai warga yang tinggal di suatu wilayah teritorial tertentu, wajib mentaati pemimpinnya, selamat tidak disuruh melanggar batasan Islam.
*Empat,* anak wajib berbakti kepada kedua orang tuanya dalam kebaikan. Apabila anak disuruh melakukan perbuatan maksiat maka tidak wajib taat kepada mereka, namun tetap harus tetap memperlakukan mereka berdua dengan baik dalam urusan dunia.
*Lima,* jika para lelaki tunduk kepada istri, mendurhakai Ibunya, loyal kepada teman, melawan ayahnya – sesuai dengan hadits nab i- pasti musibah akan melanda mereka. Wallahu alam
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

