Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Di dalam surat Al-Fatihah, ada ayat yang berbunyi,

 

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْن

 

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” ( QS. Al-Fatihah: 5)

 

Kata ‘اِيَّاكَ’ yang didahulukan penyebutannya dan berulang menunjukkan hanya kepada Allah semata tempat beribadah, tidaklah kami bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu. Kalimat “Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah” mengandung makna berlepas diri dari syirik. Kalimat kedua “Hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan” tidak mengandalkan usaha sendiri dan hanya kepada Allah lah manusia berlindung dan meminta pertolongan dunia dan akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Manusia sangatlah lemah, tak bisa berbuat apa-apa saat mungkin ia dalam suatu kondisi yang akan mencelakakan dirinya. Pada titik nadir itulah kita menyadari betapa lemahnya kita. Pada ketika kita lemah dan seolah berada di ujung tanduk kesulitan. Hanya ada satu yang bisa menyelamatkan kita, yaitu Allah Maha Penolong.

 

Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah shallAllahu waalaihi wa sallam menggandeng tangannya dan berkata: “Wahai Muadz, demi Allah, aku mencintaimu.” Kemudian beliau berkata: “Aku wasiatkan kepadamu wahai Muadz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan,

 

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

 

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.” (HR. Abu Daud)

 

Di antara hal yang kita mintakan pertolongan kepada Allah sesuai dengan hadits di atas adalah meminta pertolongan atas tiga hal:

 

1. Berdzikir. Allah subhanahu wata’ala memerintahkan muslim untuk selalu berzikir setiap saat dalam kondisi apapun. diantara perintah dzikir dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

 

Komentar Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili: Wahai orang-orang yang beriman, sebut-sebutlah asma Allah dengan hati dan lisan di setiap waktu dengan sepenuh hati. Sucikanlah nama-Nya dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan-Nya baik awal siang maupun akhirnya. (Tafsir Al-Wajiz)

 

Manfaat berdzikir selain membuat hati tenang yang dengannya manusia stabil secara kejiwaan, juga membuat kita diingat oleh Allah subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

 

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

 

Ayat di atas ditafsirkan oleh hadis berikut dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW.

 

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم 2675

 

”Sesungguhnya Allah berfirman, “Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Berdzikir bisa juga dikatakan sebagai ajaran paling penting dalam Islam. Rasulullah pernah bersabda,

 

ألا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخيركم من إنفاق الذهاب والورق، وخيركم من أن تلقوا عدوكم فتضربوا أعناقهم، قالوا: بلى، قال: ذكر الله تعالى

 

“Maukah kuceritakan kepada kalian tentang amal perbuatan yang paling baik buat kalian, paling suci (berharga) di sisi kalian, dan paling banyak mengangkat derajat (pahala) kalian; dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada perang menghadapi musuh kalian, lalu kalian memukul leher mereka dan mereka memukul leher kalian?” Mereka menjawab, “Tentu saja kami mau.” Nabi Saw bersabda, “Berzikir kepada Allah ta’ala.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

2. Bersyukur. Manfaat bersyukur atas nikmat Allah subhanahu wata’ala di samping akan diberikan tambahan rezeki oleh-Nya, juga Allah tidak akan mengazabnya. Firman-Nya,

 

مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا ۔

 

“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. (QS. An-Nisa: 147)

 

Di bawah 3 cara bersyukur:

A. Dengan lisan. Minimal yang harus kita lakukan sebagai wujud syukur melalui lisan adalah dengan ucapan alhamdulillah.

B. Ungkapan syukur melalui perbuatan dapat pula diapresiasi dengan meningkatkan ibadah kepada Allah dan juga bisa dengan cara berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan, berbagi ilmu dan kebahagiaan.

C. Cara bersyukur melalui hati adalah dengan diwujudkan dalam bentuk perasaan senang, ikhlas dan rela dengan apa yang sudah diterima. Kita yang bersyukur tentu lebih mudah mencapai bahagia dalam hidup, memiliki jiwa yang ikhlas dalam melakukan dan menerima sesuatu. Orang yang bersyukur tidak suka mengeluh atas takdir yang kurang menyenangkan.

 

3. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Salah satu tujuan penciptaan jin dan manusia adalah beribadah. Firman-Nya,

 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

Pemahaman ibadah dalam Islam merupakan pemahaman yang umum, universal, dan mencakup semua jenis kebaikan. Baik itu untuk urusan agama maupun urusan dunia. Maka hakikat ibadah adalah nama untuk semua bentuk perkataan, perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala. Al-Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai amalan yang berkualitas dalam firman Allah pada QS. Al-Mulk: 2,

 

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

 

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

 

Beliau mengatakan, “ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ (Amalan berkualitas) adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar.”

 

Para ulama sepakat menyatakan bahwa secara umum suatu ibadah akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala apabila memenuhi dua syarat mutlak yaitu niat ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala dan yang kedua adalah mutaba’ah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua syarat ini mesti ada dan tidak bisa dipisahkan. Bila hanya ikhlas saja, namun tidak sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ibadah kita tidak akan diterima. Begitupula sebaliknya, amalan ibadah sesuai petunjuk namun tanpa dibarengi niat ikhlas, maka amalan menjadi sia-sia. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Dai An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *