
Oleh: Hayat Abdul Latief
Adzan dan Iqamah dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap shalat lima waktu. Di dalam adzan atau Iqamah, ada kalimat,
حي على الصلاة حي على الفلاح
Artinya: Mari mengerjakan shalat! Mari menuju kepada kemenangan/kejayaan/kesuksesan/keberuntungan!
Filosofi kalimat adzan dan Iqamah tersebut mengajak umat Islam agar patuh beragama dengan simbol shalat dan agar hidup sukses dunia-akhirat.
Siapakah orang yang sukses? Dan siapakah yang berhak mengatakan kesuksesan kepada seseorang? Tentu yang pertama dan paling berhak mengatakan kesuksesan seseorang adalah Allah SWT,
الٓمّٓۚ ذٰلِكَ الۡڪِتٰبُ لَا رَيۡبَۛۚۖ فِيۡهِۛۚ هُدًى لِّلۡمُتَّقِيۡنَۙ الَّذِيۡنَ يُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَيۡبِ وَ يُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَۙ وَالَّذِيۡنَ يُؤۡمِنُوۡنَ بِمَۤا اُنۡزِلَ اِلَيۡكَ وَمَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِكَۚ وَبِالۡاٰخِرَةِ هُمۡ يُوۡقِنُوۡنَؕ اُولٰٓٮِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Orang-orang yang beruntung menurut surat Al-Baqarah ayat 1 – 5 adalah orang-orang yang bertakwa, yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, berinfak, beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, dan meyakini adanya akhirat (kehidupan sesudah alam dunia).
قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَۙ الَّذِيۡنَ هُمۡ فِىۡ صَلَاتِهِمۡ خَاشِعُوۡنَ وَالَّذِيۡنَ هُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَۙ. وَالَّذِيۡنَ هُمۡ لِلزَّكٰوةِ فَاعِلُوۡنَۙ. وَالَّذِيۡنَ هُمۡ لِفُرُوۡجِهِمۡ حٰفِظُوۡنَۙ. اِلَّا عَلٰٓى اَزۡوَاجِهِمۡ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُمۡ فَاِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُوۡمِيۡنَۚ. فَمَنِ ابۡتَغٰى وَرَآءَ ذٰ لِكَ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ. وَالَّذِيۡنَ هُمۡ لِاَمٰنٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَاعُوۡنَ ۙ.وَالَّذِيۡنَ هُمۡ عَلٰى صَلَوٰتِهِمۡ يُحَافِظُوۡنَۘ. اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡوَارِثُوۡنَ ۙ. الَّذِيۡنَ يَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَؕ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ
Orang-orang beriman yang beruntung menurut QS. Al-Mu’minunun 1 – 11 adalah orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, yang menunaikan zakat, yang memelihara kemaluannya, yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
Orang yang beruntung menurut QS. Al-A’la: 14-15 adalah yang membersihkan diri (dengan beriman), ingat nama Allah Tuhannya, dan shalat.
Orang yang beruntung menurut Rasulullah SAW,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash)
Sedangkan orang yang beruntung menurut‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz,
قد أفلحَ مَنْ عُصِمَ من الهوى ، والغضب ، والطمع
“Sungguh beruntung orang yang terjaga dari hawa nafsu, marah, rakus.” (Hilyatul Auliyaa)
Tulisan ini tidak merangkum semua penyebab keberuntungan seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an, hadits dan kalam para ulama. Hanya sedikit yang Al-Fakir kutip darinya. Wallahu a’lam
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)
