
Tantangan dan Peluang Dakwah di Era Digital
Oleh: Hayat Abdul Latief
Umat Islam dikatakan sebagai umat yang terbaik selama melanjutkan estafet dakwah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Ayat ini merupakan dalil keutamaan umat Nabi Muhammad dibanding umat-umat yang lain. Diriwayatkan dari Durrah binti Abu Lahab, dia berkata,
قام رجلٌ إلى النبيِّ صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر فقال: يا رسول الله، أيُّ الناس خير؟ فقال صلى الله عليه وسلم: “خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ
“Ada seorang pria berdiri di hadapan Nabi SAW, dan saat itu beliau berada di atas mimbar. Dia bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik?” Nabi menjawab, “Manusia terbaik adalah yang paling bertaqwa kepada Allah, yang menyuruh kepada kebaikan, melarang dari kemunkaran, dan yang menjalin hubungan silaturahim.”
Strategi Dakwah Rasulullah SAW di Mekkah
Strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah terbagi menjadi dua bagian. Pertama, dakwah secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah SAW menyampaikan dakwah Islam dan memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Mekah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Meskipun saat itu banyak yang menolak agama Islam, tetapi Rasulullah SAW tetap gigih dalam berdakwah.
Dakwah secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan Rasulullah SAW telah membawa beberapa orang memeluk agama Islam, yang lebih terkenal dengan Al-Sabiqun Al-Awwalun, antara lain yakni Khadijah, ‘Ali bin Abi Talib, Abu Bakar, Usman bin ‘Affan, ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Zaid bin Harisah, Zubair.
Kedua, terang-terangan. Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah secara terang-terangan setelah menerima wahyu dari Allah SWT,
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
“Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)
Dalam berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah mendapat tantangan dari kaum kafir Quraisy. Namun, Nabi Muhammad SAW tidak putus asa dan terus mengajak seluruh lapisan masyarakat agar masuk Islam. Dakwah secara terang-terangan dilakukan Rasulullah dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut:
a. Nabi Muhammad SAW mengajak masyarakat Mekah masuk Islam dengan mengundang kerabat keturunan Bani Hasyim pada jamuan makan. Kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang menyatakan keislamannya adalah ‘Ali bin Abu Talib, Ja’far bin Abu Talib, dan Zaid bin Harisah.
b. Rasulullah Saw. mengumpulkan para penduduk kota Makkah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah. Para penduduk tersebut dikumpulkan di Bukit Safa, yang letaknya tidak jauh dari Kakbah. Rasulullah SAW kemudian memberi peringatan kepada semua penduduk yang hadir agar segera meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan hanya menyembah atau menghambakan diri kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, Pencipta dan Pemelihara alam semesta.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa jika peringatan yang disampaikannya itu dilaksanakan, tentu akan meraih rida Ilahi serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun, jika peringatan itu diabaikan, maka akan mendapat murka dari Allah SWT berupa sengsara di dunia dan di akhirat. Hamzah bin ‘Abd al-Mutallib dan ‘Umar bin Khattab masuk Islam pada periode dakwah ini.
c. Rasulullah SAW menyampaikan seruan dakwahnya kepada para penduduk di luar kota Mekah. Sejarah mencatat bahwa penduduk di luar kota Mekah yang masuk Islam yakni Abu Zar al-Gifari, seorang tokoh dari kaum Gifari. Lalu, ada juga Tufail bin Amr A-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus di wilayah Mekah bagian barat.
d. Penduduk Yasrib (Madinah) yang datang ke Mekah untuk berziarah dijadikan sasaran dakwah. Berkat cahaya hidayah Allah SWT, para penduduk Yasrib secara bergelombang telah masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW.
Korespondensi: Strategi Dakwah Rasulullah SAW di Madinah
Setelah terjadi perang badar, perang Uhud perang khandaq, dan lainnya, pada tahun 6 Hijriyah terjadi gencatan senjata antara Mekkah dan Madinah atau disebut dengan perjanjian hudaibiyah. Pada saat itulah Rasulullah SAW melakukan dakwah melalui korespondensi menyurati raja-raja atau penguasa Arab dan sekitarnya.
Setelah mengkaji korespondensi Rasulullah SAW dengan para penguasa sekitar Jazirah Arab, ternyata banyak pelajaran yang kita dapatkan. Berikut ini di antara pelajaran tersebut. Pertama, pengiriman surat ini menunjukkan bahwa Islam diturunkan untuk manusia seluruh alam. Karenanya, merupakan kewajiban Rasulullah SAW (dan para penyeru dakwah) untuk mendakwahkan Islam kepada seluruh manusia dengan memanfaatkan media yang efektif.
Kedua, penolakan sebagian penguasa terhadap Islam lebih disebabkan kecintaannya terhadap kekuasaan, kesombongan atau tertekan, bukan karena tidak terima dengan Islam itu sendiri. Setidaknya, surat-surat yang dikirimkan tersebut berhasil memantik pikiran orang-orang kafir dan membuat mereka mengenal Rasulullah SAW dan Islam.
Ketiga, sebagian penguasa yang menyatakan keislamannya diperintahkan Rasulullah SAW untuk tetap berada di wilayahnya. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mempunyai strategi dan taktik yang bagus dan sangat pandai dalam mengatur banyak urusan.
Dakwah di Era Digital
Dakwah di era digital tidak hanya menjadi tanggung jawab perorangan, tetapi juga menjadi tanggung jawab kita semua, dengan memanfaatkan peluang yang ada di dunia maya untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar, menjaga kebenaran informasi, serta menjaga akhlak dan etika dalam berinteraksi online. Kita dapat menjadi agen perubahan di tengah perkembangan informasi yang semakin cepat dan kompleks. Dakwah digital merupakan dakwah yang dilakukan oleh para dai saat ini menggunakan teknologi informasi yang canggih.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia maya telah menjadi ladang baru dalam menyebarkan dakwah Islam. Banyak tantangan dan peluang baru muncul di sini, mengingat pengaruh yang luas dari media sosial dan internet dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu tantangan utama dalam dakwah di era digital adalah keberagaman informasi yang tersebar luas di internet. Informasi yang tidak terverifikasi dengan benar dapat menyesatkan pemahaman agama dan memecah belah umat. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai umat Islam untuk menjadi pembaca yang kritis dan bijak. Sebelum menyebarkan informasi, kita perlu memastikan kebenaran dan kesahihan dari sumbernya. Selain itu, kita juga dihadapkan pada tantangan untuk menjaga akhlak dan etika dalam berinteraksi di dunia maya.
Dengan menggunakan media sosial yang memungkinkan pesan dakwah disampaikan secara luas, interaktif, dan dapat berbagi, diharapkan pesan dakwah dapat lebih mudah diakses dan dipahami oleh audiens yang lebih luas. Dakwah yang disampaikan melalui media sosial tentunya memiliki banyak keuntungan bagi para pendakwah maupun para pengguna media sosial, salah satunya akses informasi yang bebas tanpa batasan waktu dan tempat.
Ada peluang besar untuk menyebarkan dakwah Islam secara lebih efektif melalui media sosial dan platform online lainnya. Dengan kreativitas dan inovasi, kita dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam. Misalnya, melalui konten video pendek yang menarik, podcast, atau webinar yang mengangkat tema-tema keagamaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)
