30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ_Hari ke-8; Thaif: Ketika Rasulullah ﷺ Terluka, tetapi Tidak Berhenti Mencintai Manusia

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
*Hari ke-8; Thaif: Ketika Rasulullah ﷺ Terluka, tetapi Tidak Berhenti Mencintai Manusia*
Tidak semua kebaikan akan langsung diterima dengan kebaikan.
Setelah kehilangan Khadijah رضي الله عنها dan Abu Ṭālib, Rasulullah ﷺ menghadapi tekanan Quraisy yang semakin berat. Dalam keadaan seperti itu, beliau pergi ke Ṭā’if, berharap ada hati yang terbuka untuk menerima dakwah.
Namun yang beliau dapatkan bukan sambutan.
Beliau ditolak.
Dalam riwayat ‘Āisyah رضي الله عنها yang sahih, Rasulullah ﷺ bahkan menyebut hari ‘Aqabah di Ṭā’if sebagai salah satu hari paling berat dalam hidup beliau.
‘Āisyah pernah bertanya:
> هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟
“Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”
Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau telah mengalami perlakuan berat dari kaumnya, dan yang paling berat adalah Yaum al-‘Aqabah, ketika beliau menawarkan dakwah kepada Ibn ‘Abd Yālīl ibn ‘Abd Kulāl tetapi tidak memperoleh apa yang diharapkan.
Beliau kemudian pergi dalam keadaan sangat berduka.
> فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي
“Aku pun pergi dalam keadaan sangat berduka.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Kalimat itu terasa begitu manusiawi.
وَأَنَا مَهْمُومٌ
“Dalam keadaan aku diliputi kesedihan.”
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dicintai Allah.
Namun beliau pun pernah berjalan meninggalkan sebuah tempat dengan hati yang sangat berat.
🌱 Tidak semua penolakan berarti Allah menolak kita
Ini bagian yang penting.
Kadang kita sudah datang dengan niat baik.
Berbicara dengan baik.
Berusaha memberikan yang terbaik.
Tetapi tetap ditolak.
Tidak dihargai.
Disalahpahami.
Bahkan mungkin disakiti.
Pada saat seperti itu, kita mudah bertanya:
“Mengapa Allah membiarkan ini terjadi, padahal niatku baik?”
Thaif mengajarkan:
ditolak manusia tidak sama dengan ditolak Allah.
Ada pintu yang tertutup bukan karena perjalanan kita selesai.
Boleh jadi Allah hanya sedang mengarahkan kita menuju pintu yang lain.
🤍 Lalu datang tawaran yang luar biasa
Setelah peristiwa itu, Malaikat Jibril عليه السلام datang bersama Malaikat Penjaga Gunung.
Malaikat itu menawarkan kepada Rasulullah ﷺ:
Jika beliau menghendaki, dua gunung dapat ditimpakan kepada mereka.
Bayangkan.
Orang-orang yang menolak beliau dapat menerima balasan.
Rasulullah ﷺ memiliki kesempatan untuk berkata:
“Ya.”
Tetapi beliau tidak memilih itu.
Beliau justru berkata:
> بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Justru aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Inilah yang membuat hati bergetar.
Beliau baru saja terluka.
Tetapi yang dipikirkan bukan:
“Bagaimana mereka merasakan apa yang kurasakan?”
Melainkan:
“Semoga suatu hari dari mereka lahir orang yang mengenal Allah.”
🌿 Jejak Jiwa
Kita mungkin tidak pernah mengalami Thaif.
Tetapi kita memiliki “Thaif-Thaif kecil” dalam kehidupan.
Ada kebaikan yang dibalas dengan prasangka.
Ada pengorbanan yang tidak dihargai.
Ada orang yang pernah kita bantu tetapi kemudian menyakiti kita.
Ada perkataan yang terus teringat karena datang dari orang yang kita percaya.
Dan ketika terluka, ada godaan yang sangat manusiawi:
ingin orang yang menyakiti kita ikut merasakan sakit.
Di sinilah akhlak Rasulullah ﷺ terasa begitu tinggi.
Beliau mengajarkan bahwa memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa perbuatan buruk itu benar.
Kezaliman tetaplah kezaliman.
Kesalahan tetaplah kesalahan.
Kita juga boleh menjaga jarak dan membuat batas agar tidak terus disakiti.
Tetapi ada perbedaan besar antara melindungi diri dan memelihara keinginan membalas dendam.
Rasulullah ﷺ mampu memisahkan luka yang beliau rasakan dari harapan baik bagi masa depan orang yang melukainya.
Itulah rahmah.
❤️ Hati yang Bergetar
Barangkali salah satu tanda hati mulai sembuh adalah ketika kita dapat mengatakan:
> “Ya Allah, aku tidak membenarkan apa yang mereka lakukan kepadaku.
Tetapi aku juga tidak ingin luka ini mengubahku menjadi orang yang penuh kebencian.”
Karena terkadang orang yang menyakiti kita sudah pergi,
tetapi kita masih membawa mereka ke mana-mana melalui kemarahan di dalam hati.
Memaafkan bukan selalu berarti kembali dekat.
Memaafkan terkadang berarti:
aku memilih agar perbuatanmu tidak menentukan seperti apa hatiku setelah ini.
🌱 Renungan hari ini
Adakah seseorang yang sampai hari ini masih kita bawa dalam kemarahan?
Kita tidak harus memaksakan diri melupakan.
Tidak pula harus kembali kepada hubungan yang membahayakan.
Tetapi mungkin kita dapat mulai berdoa:
> “Ya Allah, sembuhkan hatiku tanpa menjadikannya keras.”
Sebab Rasulullah ﷺ keluar dari Thaif dengan hati terluka,
tetapi luka itu tidak berhasil mengubah beliau menjadi manusia yang suka membalas.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ yang paling sulit:
bukan sekadar bershalawat ketika hati sedang tenang,
tetapi berusaha mengikuti akhlaknya ketika hati sedang terluka.
Jangan biarkan perlakuan buruk seseorang mengubah kebaikan yang ada dalam diri kita.
Karena Rasulullah ﷺ mengajarkan:
kita boleh terluka,
tetapi kita tidak harus berubah menjadi orang yang melukai.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #HatiYangBergetar #Thaif #mahadaly #zawiyahjakarta
