Jangan membenci pasangan hanya karena satu kekurangannya

*Jangan membenci pasangan hanya karena satu kekurangannya*
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah; jika ia tidak menyukai satu sifatnya, ia dapat menyukai sifat lainnya.”
HR. Muslim
JANGAN MEMBENCI PASANGAN HANYA KARENA SATU KEKURANGANNYA
Tidak ada manusia yang hadir dengan seluruh kesempurnaan. Ketika kita memilih seseorang menjadi pasangan hidup, sesungguhnya kita sedang belajar mencintai manusia seutuhnya—bersama kebaikan, keterbatasan, kebiasaan, dan kekurangannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifatnya, ia dapat menyukai sifat lainnya.”
HR. Muslim
Hadis ini mengajarkan cara pandang yang adil dalam kehidupan rumah tangga. Jangan sampai satu kekurangan pasangan membuat kita melupakan begitu banyak kebaikannya.
Mungkin ada perkataannya yang kurang menyenangkan, tetapi selama ini ia telah berusaha menjaga keluarga. Mungkin ia kurang pandai mengungkapkan perasaan, tetapi diam-diam ia selalu memikirkan kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Mungkin ada kebiasaannya yang membuat kita kesal, tetapi ia juga memiliki kesetiaan, kesabaran, dan ketulusan yang tidak mudah ditemukan pada orang lain.
Sering kali masalah dalam rumah tangga membesar bukan semata-mata karena kekurangan pasangan, melainkan karena kita terlalu lama memusatkan pandangan pada kekurangan tersebut. Satu kesalahan diingat berulang-ulang, sedangkan puluhan kebaikan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal, keutuhan keluarga membutuhkan kemampuan untuk melihat dengan hati yang jernih. Jika ada sifat pasangan yang tidak kita sukai, ingatlah sifat lain yang membuat kita pernah memilih dan mencintainya. Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan kelembutan, bukan dengan penghinaan. Nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang akan lebih mudah diterima daripada kritik yang melukai harga diri.
Menerima kekurangan bukan berarti berhenti bertumbuh. Suami dan istri tetap perlu saling menasihati, memperbaiki diri, meminta maaf, dan belajar memahami kebutuhan satu sama lain. Namun, perubahan tidak semestinya dituntut dengan kebencian. Perubahan akan lebih indah apabila ditemani kesabaran, doa, dan keteladanan.
Cinta dalam pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang memiliki banyak kelebihan. Cinta juga merupakan kesediaan untuk tetap melihat kebaikan ketika kekurangan pasangan sedang tampak lebih jelas.
Namun, hadis ini tidak boleh digunakan untuk membenarkan kekerasan, penghinaan, perselingkuhan, atau kezaliman dalam rumah tangga. Kesabaran tidak berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti. Jika terjadi kekerasan atau perilaku yang membahayakan, diperlukan perlindungan, pendampingan, dan penyelesaian yang tepat.
Rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah tangga yang penghuninya tidak pernah melakukan kesalahan. Ia adalah rumah tangga yang di dalamnya terdapat dua orang yang terus belajar memaafkan, memperbaiki diri, dan mensyukuri kebaikan pasangannya.
Sebelum membenci satu kekurangannya, berhentilah sejenak. Ingat kembali kebaikannya, perjuangannya, kesetiaannya, dan doa-doa yang pernah kalian panjatkan bersama.
Barangkali pasangan kita memang tidak sempurna. Namun, boleh jadi melalui ketidaksempurnaan itulah Allah sedang mengajarkan kepada kita arti kesabaran, penerimaan, dan cinta yang sesungguhnya.
Kekurangan bukan selalu alasan untuk berhenti mencintai. Terkadang, ia adalah ruang bagi dua hati untuk bertumbuh dan semakin dewasa.
📚 PENERIMAAN MAHASANTRI BARU
MA’HAD ALY ZAWIYAH JAKARTA
Program Non-Formal
🎓 S1 Ilmu Fiqih — Durasi 4 Tahun
🎓 S2 Ilmu Fiqih & Ushul Fiqih — Durasi 2 Tahun
🗓️ Kuliah setiap Sabtu dan Ahad
⏰ Pukul 07.15–15.30 WIB
📍 Offline dan penuh interaksi di Jakarta Timur
Lokasi:
Gedung Yayasan Terpadu Shibghatullah
Jl. Budi Harapan No. 40, Cipinang Melayu, Jakarta Timur
📞 Kontak: Ci Mia — +62 812-1037-5150
