Yajuj Majuj adalah dua suku yang akan muncul pada hari kiamat. Mereka adalah penghuni neraka, penyebab kehancuran dan kerusakan yang datang bergerombol. Hal tersebut menjadi ciri yang khas dari mereka. Bahkan mereka juga tidak ada waktu untuk menjalankan ibadah. Waktu mereka digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Mereka selalu mengumpulkan kekayaan, buruk dalam bersosialisasi, tidak pandai dalam ilmu pengetahuan, serta merusak sumber daya alam. Mereka adalah para pembunuh yang jumlahnya sangat banyak. Berikut akan kami berikan ulasan singkat tentang Yajuj Majuj menurut Al-Qur’an dan Hadits:

 

 

Dzul Qarnain

 

Allah Ta’ala berfirman di dalam kisah-Nya tentang Dzul Qarnain:

ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا ٩٢حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًاۙ لَّا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا ٩٣ قَالُوْا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِنَّ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلٰٓى اَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا ٩٤ قَالَ مَا مَكَّنِّيْ فِيْهِ رَبِّيْ خَيْرٌ فَاَعِيْنُوْنِيْ بِقُوَّةٍ اَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا ۙ ٩٥ اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ ٩٦ فَمَا اسْطَاعُوْٓا اَنْ يَّظْهَرُوْهُ وَمَا اسْتَطَاعُوْا لَهٗ نَقْبًا ٩٧ قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَۚ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا ۗ ٩٨ وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ يَّمُوْجُ فِيْ بَعْضٍ وَّنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَجَمَعْنٰهُمْ جَمْعًا ۙ

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain). Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapati di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, ‘Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’-juj dan Ma’-juj itu (makhluk yang berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?’ Dzul Qarnain berkata, ‘Apa yang telah dianugerahkan Rabb-ku kepadaku lebih baik (dari-pada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Dzul Qarnain) berkata, ‘Tiuplah (api itu).’ Ketika besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).’ Maka mereka (Ya’-juj dan Ma’-juj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya. Dia (Dzul Qarnain) berkata, ‘(Dinding) ini adalah rahmat dari Rabb-ku, maka apabila janji Rabb-ku sudah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabb-ku itu adalah benar.’ Kami biarkan mereka (Ya’-juj dan Ma’-juj) di hari itu berbaur antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sang-kakala, lalu Kami kumpulkan mereka semuanya.” (Al-Kahfi/18: 92-99)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah memudahkan Dzul Qarnain, seorang raja shalih, untuk membangun sebuah dinding besar agar menjadi penghalang bagi Ya’-juj dan Ma’-juj yang telah melakukan kerusakan di muka bumi dan di tengah-tengah manusia. Apabila telah datang waktu yang ditentu-kan, dan Kiamat telah dekat, maka dinding tersebut akan terbuka dan Ya’-juj Ma’-juj akan keluar dengan sangat cepat, dalam jumlah yang sangat banyak, tidak ada seorang pun yang mampu menghadapinya, mereka berbaur di tengah-tengah manusia dan menyebarkan kerusakan di muka bumi.

Ini adalah salah satu tanda dekatnya tiupan sangkakala, hancurnya dunia, dan tegaknya Kiamat, sebagaimana akan dijelaskan dalam beberapa hadits shahih.

Tentang Dzul Qarnain, para ulama berbeda pendapat tentang nama aslinya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma bahwa namanya adalah ‘Abdullah bin adh-Dhahhak bin Ma’d. Ada juga yang mengatakan Mush’ab bin ‘Abdillah bin Qinan bin al-Uzd, kemudian dari Qahthan ada juga yang mengatakan tidak demikian.

Dinamakan Dzul Qarnain karena dia telah mencapai daerah timur dan barat, yaitu daerah muncul dan terbenamnya tanduk syaitan, ada juga yang mengatakan tidak demikian. Dia adalah seorang hamba yang beriman lagi shalih, dia bukanlah Dzul Qarnain al-Iskandari al-Maqduni al-Misri yang kafir, dia datang lebih akhir setelah Dzul Qarnain yang diungkapkan dalam al-Qur-an, jarak waktu di antara keduanya lebih dari 2000 tahun.

 

 

Bentuk Yajuj Majuj

 

Secara terminologi, Ya’juj dan Ma’juj dibentuk dari akar kata yang bisa berarti nyala api, sesuatu yang sangat panas, atau air yang sangat asin. Selain itu, ia juga bisa berarti berjalan dengan cepat layaknya sedang menyerang musuh (Ibn Mandzur: 30-31). Sedangkan posisinya sebagaimana dimaksud dalam al-Quran, ia bermakna dua umat atau dua qabilah yang hidup di belakang tembok penghalang yang dibangun Dzul Qarnain (Ath-Thabari: 388).

Pada dasarnya, pendapat tersebut masih bersifat problematis. Belum ada kesepakatan final. Misalnya, ada juga yang berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj mempunyai akar kata bahasa China, yakni “Ya Jou” (Ya: Asia, Jou: Benua) dan “Ma Jou” (Ma: Kuda, Jou: Benua). Pendapat ini diungkapkan oleh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid. Perbedaan pendapat ini bisa dibilang wajar, sebab al-Quran sendiri tidak pernah menjelaskan secara spesifik.

Akan tetapi, di balik ragam pendapat itu, ada kesepahaman bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari bangsa manusia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj merupakan anak keturunan Nabi Nuh dari jalur Yafits. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa argumentasi mufasir yang menyebutkan ciri Ya’juj seperti bangsa Turki, atau seperti bangsa Tatar dan Mongol.

Keterangan tersebut jelas memperkuat klaim kemanusiaan Ya’juj dan Ma’juj, dan menolak penisbatan karakteristik Ya’juj dan Ma’juj yang digambarkan layaknya monster. Penggambaran Ya’juj dan Ma’juj layaknya monster di antaranya dibahas dalam Jewish Encyclopedia yang ditulis Emil G. Harch dan Mary W. Montgomery.

Dalam ensiklopedia tersebut disebut Ya’juj dan Ma’juj memiliki tubuh yang ‘berbeda’ dengan manusia normal lainnya. Misalnya disebutkan bahwa saking lebarnya daun telinga mereka, satu sisinya bisa dijadikan alas, sementara sisi yang lain bisa dijadikan selimut. Terkesan berlebihan, tetapi nyatanya memang terdapat pendapat yang demikian.

 

Mengenai tampang Ya’juj dan Ma’juj, dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits nabi riwayat Imam Ahmad:

“Khalid bin Abdillah ibn Harmalah menyampaikan dari bibinya yang memaparkan, suatu ketika Rasulullah menyampaikan khutbah. Saat itu keadaan jari beliau terbalut perban karena tersengat kalajengking. Beliau bersabda: “Kalian mengatakan tidak ada musuh. Sungguh, kalian akan terus berperang hingga Ya’juj dan Ma’juj keluar. Mereka berwajah lebar, bermata kecil, dan berambut hitam kemerah-merahan. Mereka turun dengan sangat cepat dari seluruh tempat yang tinggi, dan wajah mereka seperti perisai cembung yang tebal.” (HR Ahmad 5: 271).

Dari banyak yang menyebutkan ciri-ciri mereka dari yang berambut hitam kemerah-merahan (pirang), bermata kecil (sipit), berhidung pesek, bahkan telinganya sangat panjang sampai bisa dijadikan selimut. Apakah Yajuj Majuj serupa atau sebangsa manusia? Wallahu A’lam

 

 

Binasanya Yajuj Majuj

 

Ketika keluar, Ya’juj dan Ma’juj tidaklah melewati sesuatu kecuali dirusaknya. Tidaklah melewati danau kecuali mereka meminumnya hingga habis. Tidaklah mendapati manusia kecuali dibunuhnya. Sampai ketika mereka merasa menang membantai seluruh penduduk bumi, mereka menantang penduduk langit. Inilah kesombongan yang luar biasa dari Ya’juj dan Ma’juj.

ثُمَّ يَسِيرُونَ حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى جَبَلِ الْخُمَرِ وَهُوَ جَبَلُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ قَتَلْنَا مَنْ فِي الْأَرْضِ هَلُمَّ فَلْنَقْتُلْ مَنْ فِي السَّمَاءِ. فَيَرْمُونَ بِنُشَّابِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرُدُّ اللهُ عَلَيْهِمْ نُشَّابَهُمْ مَخْضُوبَةً دَمًا

Kemudian mereka berjalan dan berakhir di gunung Khumar, yaitu salah satu gunung di Baitul Maqdis. Mereka berkata, ‘Kita telah membantai penduduk bumi. Mari kita membantai penduduk langit.’ Lalu mereka melemparkan panah-panah dan tombak-tombak mereka ke langit. Kemudian Allah kembalikan panah dan tombak-tombak mereka dalam keadaan berlumuran darah.” (HR. Muslim dalam “Kitab al-Fitan wa Asyrathus Sa’ah”)

Maksudnya, mereka mengira bahwa darah tersebut adalah bukti kemenangan mereka melawan penduduk langit. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala membinasakan mereka seluruhnya saat puncak kesombongan mereka dalam waktu yang hampir bersamaan.

Dalam hadits nabi lainnya, diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an disebutkan bahwa Allah memberitahukan kepada Nabi Isa akan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj yang tidak ada seorang pun mampu memerangi mereka.

Lalu Allah memerintahkan Nabi Isa untuk menjauhkan kaum mukminin dari jalan yang dilalui Yajuj Majuj.

Diriwayatkan dari an-Nawwas bin Sam’an dalam hadits yang panjang, di antaranya sebagai berikut;

إِذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى: إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ.

Allah SWT mewahyukan kepada Isa a.s; “Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Biarkanlah mereka hamba-hamba-Ku menuju Thur.”

يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ. فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ.

Ketika itu terkepunglah Nabi Allah Isa a.s dan para sahabatnya. Sampai-sampai kepala sapi ketika itu lebih berharga untuk mereka daripada seratus dinar kalian sekarang ini. Kemudian Isa dan para sahabatnya berharap kepada Allah SWT. Allah SWT  pun mengirim sejenis ulat yang muncul di leher mereka. Pada pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan.

ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الْأَرْضِ فَلَا يَجِدُونَ فِي الْأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلَّا مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ. فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ

Kemudian turunlah (dari Gunung Thur) Nabi Allah Isa dan para sahabatnya. Tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali dipenuhi oleh bangkai dan bau busuk mereka. Kemudian Nabi Isa alaihis salam berharap (berdoa) kepada Allah. Allah SWT lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka kemudian dilemparkan di tempat yang kehendaki.

ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ مَطَرًا لَا يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ فَيَغْسِلُ الْأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْأَرْضِ أَنْبِتِي ثَمَرَتَكِ وَرُدِّي بَرَكَتَكِ….

Kemudian Allah mengirimkan hujan yang tidak menyisakan satu rumah ataupun kemah, lalu membasahi bumi hingga menjadi licin. Dikatakan kepada bumi, ‘Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalilah berkahmu…’.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lam, semoga bermanfaat!

 

 

 

Oleh, Agung Santri Ma’had Aly Zawiyah Jakarta
Dikutip dari berbagai sumber.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *