Tidak Ada Sombong di antara Kita

Oleh : Hayat Abdul Latief

Ada hukum kausalitas permanen dari Nabi SAW yang sebenarannya datang dari Allah SWT, beliau bersabda,

مَنْ تَوَاضَعَ لِلّٰهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ

“Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya; dan siapa sombong, maka Allah merendahkanya.” (HR Abu Nu‘aim)

Inilah beberapa faktok yang membuat seseorang menjadi sombong:

*1. Sombong Karena Kekuasaan*

Pada Hari Ulang Tahun cina yang ke 70, Xi Jinping (presiden Cina) berkata dengan sombong dalam pidatonya, “Tidak ada satu kekuatan yang mengguncang Cina.” Dengan maksud yang jelas (explisit) bahwa kekuatan Cina paling unggul di antara kekuatan-kekuatan internasional yang tidak mungkin ada yang mengalahkannya.

Dan hari ini yang mengguncang Cina bukan pasukan Salahuddin Al Ayyubi atau Muhammad Al Fatih. Bukan Tsunami, gempa bumi atau angin puting beliung. Tetapi virus Corona cukup membuat mereka masygul, kewalahan dan kalang kabut.

*2. Sombong Karena Ilmu*

Mengutip dari an-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi. Hal : 185-186, Masruq Rahmatullah ‘Alaih berkata : “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah azza wa jalla. Sebaliknya, cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya.”

  1. Ibnu Abdil Barr Rahmatullah’Alaih berkata : “Diantara adab seorang alim yang paling utama adalah bersikap rendah hati (tawadhu’) dan tidak ujub, yakni merasa sombong, bangga, dan terkagum-kagum terhadap ilmu yang dimilikinya. Adab berikutnya, ia berusaha menjauhi kecintaan akan kepemimpinan dengan sebab ilmunya.”

*3. Sombong Karena Keturunan*

Orang yang punya nasab keturunan yang tinggi kadang menganggap hina orang yang tidak memiliki nasab tersebut, sekalipun ia lebih tinggi ilmu dan amalnya.

Kadang sebagian mereka menyombongkan diri lalu menganggap orang lain sebagai pengikut dan budaknya, sehingga ia enggan bergaul dan duduk bersama mereka. Rasulullah bersabda “Hendaklah orang meninggalkan kebanggan terhadap nenek moyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka.”(HR. Abu Daud)

*4. Sombong Karena Kesempurnaan Fisik (Tampan/Cantik)*

Sangatlah naif orang yang sombong karena fisiknya. Fisik ini akan menjadi makanan binatang tanah ketika mati dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak memandang manusia karena tampang dan hartanya. Yang dipandang oleh-Nya adalah hati (Keikhlasan) dan amal (shalih)nya. Dari Abu Hurairah, ia berkata:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

*5. Sombong Karena Harta (Kekayaan)*

Allah SWT menceritakan kisah Qarun dalam surat Al Qashas ayat 79-80,

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ, وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلا الصَّابِرُونَ

“Maka keluarlah dia (Karun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.”

Harta yang kita punya hanya titipan dari Allah. Harta yang kita miliki saat ini, sebagian adalah milik orang-orang yang membutuhkan. Tidak ada yang perlu disombongkan karena semuanya hanya titipan dari Allah semata. Bahkan harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang kita abadikan lewat sedekah, infak, wakaf dan sejenisnya. Wallahu a’lam.

*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *