Oleh: Hayat Abdul Latief
Bila terjadi benca alam menimpa bukan hanya orang jahat yang kena dampak buruknya tapi juga orang yang tidak berdosa atas tidak bersahabanya alam yang hanya menjalankan perintah Allah SWT Tuhan semesta alam. Meskipun tidak menyalahkan korban, saya selalu teringat hadits berikut ini sebagai pelajaran.
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda,
  إذا فعلَتْ أمتي خمسَ عشرةَ خصلةً حلَّ بها البلاءُ قيل وما هي يا رسولَ اللهِ ؟ قال إذا كان المَغنمُ دولًا والأمانةُ مغنمًا والزكاةُ مغرَمًا وأطاعَ الرجلُ زوجتَه وعقَّ أمَّه وبرَّ صديقَه وجفا أباهُ وارتفعتِ الأصواتُ في المساجدِ وكان زعيمُ القومِ أرذلُهم وأُكرِمَ الرجلُ مخافةَ شرِّه وشُرِبتِ الخمورُ ولُبِسَ الحريرُ واتُّخذتِ القِيانُ والمعازفُ ولَعن آخرُ هذِه الأمَّةِ أولَّها فليرتقِبوا عند ذلك ريحًا حمراءَ أو خسفًا أو مسخًا
(رواه السخاوي علي بن أبي طالب)
“Bila umatku melakukan 15 hal maka bala-bencana akan menimpa mereka:
1. Harta Negara hanya beredar (dinikmati) di kalangan orang-orang tertentu
2. Apabila amanah telah dijadikan sumber keuntungan
3. Apabila zakat dijadikan hutang
4. Apabila suami menurut kemauan isteri
5. Membuat sakit hati ibu (yang melahirkan)nya
6. Berbakti kepada temanya
7. Menentang ayah (yang membiayai hidup)nya
8. Suara-suara gaduh di dalam masjid
9. Pemimpin suatu kaum adalah orang yang terhina diantara mereka.(banyaknya pemimpin yang dipilih dari golonganya sendiri dengan dalih kebenaran menurut golongan mereka sendiri)
10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya
11. Khamer / arak (minuman beralkohol) sudah diminum segala tempat
12. Kain sutra banyak digunakan oleh kaum laki-laki
13. Penyanyi disanjung-sanjung
14. Musik banyak dimainkan
15. Generasi akhir umat ini melaknat / menyalahkan generasi pertama yakni para sahabat radiallahu anhum ajmain.
(Di akhir dari sabda Rasulallah SAW adalah:) “Maka ketika itu hendaklah mereka menunggu angin merah atau gempa bumi atau mereka dirubah menjadi mahluk yang lain (apabila mereka telah melakukan 15 perkara tersebut).” (HR. Sakhawi, dari Ali bin Abi Thalib)
Atas kebodohan saya untuk menjelaskan hadits yang terkait, maka saya menghibur diri dengan puisi berikut meskipun nilai estetikakanya rendah karena terkesan asal-asalan.
*Puisi Bencana Alam*
Ketika kampanye, engkau dekat dengan ulama, meminta nasehatnya. Mengangkat tema: memberdayakan rakyat jelata, mengentaskan kemiskinan, pemerataan ekonomi, keadilan dan kesejahteraan. Bersembunyi di mana kekayaan negara, keadilan dan kesejahteraan itu? Kalau hanya dinikmati segelintir orang.
Engkau disumpah di bawah Al-Qur’an. Berjanji akan amanah dalam jabatan. Di tengah perjalanan, engkau keruk keuntungan. Padahal hakikat jabatan adalah pelayanan.
Kau hamburkan uang untuk kesenangan tanpa kalkulasi biaya dan hitungan. Namun untuk derma-kebaikan, engkau anggap Tuhan mengemis meminta belas kasihan.
Tolonglah agamamu dengan seluruh kekuatan. Yang engkau miliki adalah kepunyaan Tuhan. Jangan biarkankan akalmu sungsang: agama sebagai alat untuk menumpuk hayalan.
Setelah menyembah Allah dan tidak menduakan, engkau diperintahkan bersimpuh taat kepada orang tua. Namun sayang disayang, engkau takut istri dan harus menyakiti dia yang telah melahirkan.
Orang tua mengasuh, mendidik dan membesarkan. Sesudah besar, kata-katanya tidak engkau dengarkan. Tetapi terhadap teman sepergaulan, engkau taat dan loyal.
Makmurkan masjid dan tempat kajian. Di sanalah memancar hidayah dan kekhusyuan. Alangkah sangat disayangkan, masjid mulai menggemakan pertengkaran.
*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *