Oleh: Hayat Abdul Latief
Nama di samping memiliki arti doa juga sebagai tanda. Tanda sebagai identitas dan panggilan. Seseorang apabila dipanggil namanya maka dia menengok baik dengan kepala atau menyahut dalam hatinya.
Tetapi apakah tahu bahwa nama yang disematkan kepada kita adalah dulunya tidak ada. Firman-nya,
هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Al-Insan: 1)
Ketika itu nama kita tidak ada di KTP, tidak ada di kartu keluarga, tidak ada di Surat izin mengemudi, tidak ada di surat akta tanah akta nikah dan seterusnya.
Diawali dari ketiadaan Lalu Allah mengadakan kita. Di surat al-insan ayat selanjutnya Allah berbicara demikian,
إِنَّا خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan mendengar.” (QS. Al-Insan: 2)
Keadaan dimana kita tidak ada di dunia maka disebut kematian baik sebelum kita lahir atau setelah kita meninggal dunia.
*Manusia mati dua kali dan hidup dua kali.*
Allah SWT berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ, قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir”. Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Al Mu’min; 11)
Komentar ulama tentang hal itu adalah Kematian pertama adalah ketika dalam bentuk nuthfah (air mani), ‘alaqoh (segumpal darah) dan mudgoh (sekerat daging). Selanjutnya adalah dihidupkan dalam rahim. Lalu dimatikan lagi setelah hidup di dunia. Lalu akan dihidupkan lagi ketika dibangkitkan pada hari kiamat.
*Sebuah pertanyaan besar*:
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al-Baqarah Ayat 28)
Ayat di atas adalah sebuah pertanyaan yang Allah sampaikan kepada manusia apakah kita tetap mengingkarinya?
Pesan hadis nabi yang sesuai dengan ayat diatas adalah agar kita menggunakan waktu sebaik-baiknya.
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Jagalah 5 hal sebelum datangnya 5 hal. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Waktu kayamu sebelum datang waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu dan waktu hidupmu sebelum waktu matimu. (HR. Al Hakim) Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat
*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

