
Oleh: Hayat Abdul Latief
Tentu agar dikenal oleh Allah SWT, kita terlebih dahulu harus mengenal-Nya.
Di bawah ini, beberapa ikhtiar agar kita mengenal Allah SWT dan dikenal oleh-Nya:
*Pertama,* mengenal karakter dan atribut-Nya atau yang dikenal dengan _Asmaaul Husna_ nama-nama-Nya yang penuh dengan keindahan, yang terbebas dari kekurangan, kehinaan dan kerendahan. Dan kita dilarang memberikan atribut yang tidak pantas untuk disematkan kepada-Nya. Firman-Nya,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Araf : 180)
*Kedua,* Mengingat, mengagungkan dan menyebut kebesaran Allah SWT atau yang disebut dzikirullah. Firman-Nya,
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Mafhumnya, kalau kita mengingat-Nya tentu Dia menguat kita. Kalau kita diingat, berarti Dia mengenal kita.
*Ketiga,* membaca dan melaksanakan pesan-pesan-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an, kitab suci yang dijaga kemurnianya. Firman-Nya,
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS.Al-Isra: 9)
*Keempat,* siapapun yang mengenal Allah SWT (dekat dengan-Nya) di saat senang, maka Dia mengenalnya disaat susah. Sabda Rasulullah SAW,
ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ
“Kenalilah (ingatlah) Allah di waktu senang pasti Allah akan mengenalimu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)
Sabdanya lagi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ”. اخرجه الترمذي
“Sesiapa yang ingin agar Tuhan mengabulkan permohonannya pada waktu susah dan sempit, maka hendaklah ia memperbanyak doa pada waktu senang-senang.”
Bacalah syair Arab di bawah ini,
لا تجعل الدعاء كالدواء
لا تستعمله إلا عند المرض
والمصيبة فقط
بل اجعل الدعاء كالهواء
ادع ربك في كل وقت
في السراء والضراء
– فنصيحتي لك,
تعرف إلى الله في { الرخاء }
يعرفك في { الشدة }
Janganlah engkau jadikan do’a seperti obat.
Engkau tidak menggunakannya kecuali ketika sedang sakit.
Dan ketika tertimpa musibah saja.
Tetapi jadikanlah do’a seperti udara.
Berdo’alah kepada Tuhan-Mu setiap waktu.
Baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Nasehatku untukmu:
Kenalilah Allah dikala senang.
Niscaya Dia akan mengenalimu di kala susah. Wallahu A’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
“(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*
