Oleh: Hayat Abdul Latief
zawiyahjakarta.or.id – Allah membagi umat manusia dalam penerimaannya terhadap risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjadi 3 golongan: mu’min, kafir dan munafik. Pembagian ini berlaku dari zaman beliau atau dari nabi sebelumnya sampai hari kiamat.
Secara singkat seorang mu’min berpihak kepada Allah, rasul-Nya dan umat Islam. Kafir berarti bersebrangan dan menolak Allah subhanahu wata’ala, rasul-Nya dan umat Islam. Sedangkan munafik dzahirnya mukmin tetapi batin dan keberpihakannya kepada orang kafir.
Menjadi muslim merupakan anugerah Allah subhanahu wa ta’ala yang terbesar – yang wajib kita syukuri. Ada yang menjadi muslim dengan mudah dan ada yang dengan susah. Dengan mudah karena terlahir dari rahim ibu muslimah. Adapun menjadi muslim dengan dengan susah, terjal dan mendaki karena terlahir dan tumbuh dari keluarga dan lingkungan non-muslim.
Saya tidak latah dan tidak setuju dengan Clifford Geertz telah mengajukan tesis tentang ekspresi keberagamaan muslim Jawa khususnya dan masyarakat muslim Indonesia pada umumnya, dibagi terdiri dari Santri, Abangan, dan Priyayi
Santri identik dengan pesantren, sarung dan kitab kuning dalam arti mereka muslim secara keilmuan dan perilaku. Abangan identik dengan kaum buruh dan akar rumput. Sedangkan priayi identik dengan ningrat dan darah biru.
Baca juga : derajat seseorang karena amalnya bukan karena nasabnya
Saya lebih cenderung pembagian muslim seperti apa yang diutarakan oleh banyak da’i yang lebih membumi dan realistis bahwa Muslim di Indonesia khususnya dan Muslim di dunia pada umumnya, terbagi menjadi: Muslim Mu’minin, Muslim Musiman dan Muslim Musingin.
- Muslim Mu’minin merupakan muslim ideal, yang dikehendaki oleh Allah dan rasulnya, seperti yang digambarkan di dalam awal surat al-baqarah beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menginfakan sebagian rizki dan yakin terhadap hari akhirat. Seorang muslim yang mencerminkan keindahan Islam.
- Muslim Musiman mengerjakan kewajiban agama hanya pada musimnya saja, seperti puasa dan tarawih hanya sehari-dua hari, shalat Iedul fitri dan Iedul adha padahal keduanya adalah sunnah dibanding dengan salat lima waktu dan seterusnya. Kadang-kadang muslim semacam ini ini baik hubungannya dengan sesama namun di sisi lain tidak baik hubungannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
- Muslim Musingin dalam artian seorang muslim yang tidak menjalankan agama dengan baik juga memiliki perilaku yang merugikan agama bangsa dan negara alias bikin pusing banyak pihak – melanggar norma agama dan norma negara. Dengar kata lain sangat buruk hubungannya dengan Allah dan sangat buruk hubungannya dengan sesama. Lebih bahaya lagi kalau seorang muslim semacam ini menjadi pejabat atau figur publik.
Keberadaan muslim semacam ini, persis seperti yang digambarkan oleh para ulama termasuk Muhammad Abduh bahwa :
الإسلام محجوب بالمسلمين
“(Cahaya, ketinggian, Keindahan, keagungan keuniversalan) Islam tertutupi (oleh perilaku) kaum muslimin (yang tidak islami).
Kesimpulan:
Satu, Menjadi muslim merupakan anugerah Allah subhanahu wa ta’ala yang terbesar – yang harus kita syukuri.
Dua, para orientalis dan kalangan islamophobia dalam mempelajari, menganalisis, termasuk pembagian muslim dengan berbagai macam variannya terkadang memiliki tujuan tertentu seperti mengerdilkan makna Islam dan memandang sebelah mata terhadap kaum muslimin juga ada indikasi adu domba di dalamnya.
Tiga, Muslim Mu’minin merupakan muslim ideal seperti yang dikehendaki oleh Allah dan rasulnya.
Empat, Muslim musiman hanya mengerjakan kewajiban agama seperti shalat idul Fitri dan idul Adha, padahal keduanya adalah sunnah dibanding dengan salat lima waktu dan seterusnya.
Lima, Muslim Musingin dalam artian seorang muslim yang tidak menjalankan agama dengan baik juga memiliki perilaku yang merugikan agama bangsa dan negara dan ini bukan hanya dari kalangan umat Islam tetapi juga dari umat-umat lainnya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)


[…] Baca juga : varian muslim […]