Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah Shalallahu A’laihi Wasallam bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala atasnya… ” (HR. Bukhari-Muslim)

 

Mengapa Allah SWT begitu posesif terhadap ibadah puasa? Inilah 5 Penjelasan ulama terkait denganya:

 

1. Puasa merupakan ibadah yang tidak ada riya di dalamnya. Keikhlasan lahir dari kesunyian dan lari dari pujian, sedangkan riya’ mendekati kerumunan, pujian dan penghargaan.

 

2. Puasa merupakan ibadah yang paling dicintai dari sekian banyak ritualitas hamba di hadapan Allah SWT. Manusia menghendaki nafsu, kepuasan dan pelampiasan sedangkan Allah SWT menghendaki pengendalian dan tahu batasan kehidupan.

 

3. Puasa merupakan ibadah sunyi, hanya Allah yang mengetahuinya. Kebanyakan manusia gemar hiruk-pikuk keramaian duniawi, sedangkan sedikit manusia bertapa ke dalam nikmat transendental sejati.

 

4. Puasa merupakan ibadah yang dinisbatkan kepada-Nya. Segala sesuatu yang dikaitkan dengan-Nya pasti memiliki keagungan, kemuliaan dan fadhilah yang besar nilainya.

 

5. Puasa menandakan seorang hamba tidak butuh kepada makanan, minuman dan kenikmatan dunia untuk waktu yang ditentukan. Demikianlah Allah tidak butuh kepada makhluk-Nya. Bedanya seorang hamba tidak butuh kenikmatan dunia untuk waktu yang terbatas, sedangkan Allah SWT tidak butuh kepada makhluk-Nya selamanya.

 

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

 

“Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 79)

 

*Faedah:*

 

*Satu,* puasa itu dilakukan manusia, namun Allah SWT merasa memiliki (posesif).

 

*Dua,* Allah SWT merasa memiliki ibadah puasa, karena alasan yang mulia. Puasa merupakan ibadah yang tidak ada riya’, ibadah paling dicintai, ibadah yang sunyi, ibadah yang dinisbatkan kepada-Nya dan tanda seorang hamba tidak butuh kepada kenikmatan dunia.

 

*Tiga,* manusia sejati akan mengendalikan diri dan tahu batasan-batasan yang tidak boleh dilampaui.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *