Rasulullah SAW: Hadiah Allah SWT Terindah Untuk Umat Manusia

 

Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Saya awali tulisan ini dengan mengutip surrat Ali ‘Imran Ayat 164,

 

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

 

Akhir-akhir ini lagi booming lantunan syair,

 

من أنا من أنا # من أنا لو لا كم

كيف ما حبكم # كيف ما اهواكم

 

Yang arti bebasnya,

Apalah artinya saya, kalau tanpa (bimbingan)mu. Tidak terbayangkan cinta dan perhatianmu (terhadapku)…

 

Biasanya yang dituju dari lantunan syair ini guru, kiayi, syeikh atau murabbinya. Dan itu tidak salah. Sebab mereka juga anak-anak tangga menuju puncak ketinggian yang diharapkan.

 

Tetapi kalau bicara lebih jauh lagi, kita bukan murid dari guru A, bukan santri dari kiayi B, bukan binaan dari murabbi C. Kita merupakan murid, santri dan binaan Rasulullah SAW. Karena guru, kiayi dan syeikh kita mengambil air pengetahuan dari telaga ilmu Rasulullah SAW yang mata airnya langsung dari Allah SWT. Guru-guru kita merupakan mata rantai sanad keilmuan menuju Rasulullah SAW.

 

Tugas Rasulullah untuk umat manusia menurut ayat di at sebagai berikut,

 

*Satu,* يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ, membacakan ayat-ayat Allah atau Al Qur’an, yang Qur’an sendiri berfungsi sebagai petunjuk, penjelas dan sebagai _furqan_, pembeda yang asli dari yang palsu.

 

*Dua,* وَيُزَكِّيهِمْ, membersihkan kotoran-kotoran jiwa manusia dari syirik, nifak, takabur, hasad, buruk sangka, cinta dunia, pesimis dan seterusnya.

 

*Tiga,*

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

mengajarkan Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

 

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

 

Ayat di atas ditutup dengan kalimat

 

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 

(Dan sebelum datangnya Nabi, mereka dalam kesesatan yang nyata). Bukankah kita membaca keadaan masyarakat jahiliah baik di jazirah Arab, Persia, Romawi, Yunani, dan belahan bumi lainnya, mereka menyembah batu, pohon dan kayu, degradasi moral memenuhi kehidupan, barbarisme, pelecehan terhadap wanita merajalela dan seterusnya.

 

Kalau Allah SWT tidak memberi kita kado istimewa berupa nabi Muhammad SAW kita tetap dalam keadaan menyembah batu, hidup tak menentu, karena tanpa cahaya wahyu. Wallahu A’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *