Oleh: Hayat Abdul Latief
*Bertemu Allah Lewat Shalat*
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن أحدكم إذا قام في الصلاة، فإنه يناجي ربه، وإن ربه بينه وبين القبلة
“Sesungguhnya seorang dari kalian saat melaksanakan shalat, maka ia sedang bermunajat kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya Tuhannya ada di antara ia dengan kiblat.” (HR. Al-Bukhari, dari Anas bin Malik Ra.)
Menurut Syaikh Mulla Qari, dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, ungkapan yunaaji rabbahu menunjukkan bahwa shalat adalah sarana terhubungnya hamba dengan Tuhannya. Shalat yang di dalamnya terdapat dzikir, bacaan Al-Qur’an, dan gerakan, segenap itu semua menjadi paket berkomunikasinya seorang hamba dengan Allah.
Shalat merupakan perjalanan ruhani menuju kehadirat Allah. Sebagaimana tidur istirahatnya badan, maka shalat merupakan istirahatnya rohani dari kepenatan dan keruwetan duniawi.
Kita sering mendengar ungkapan:
الصلاة معراج المؤمن
“Shalat adalah mi’raj-nya orang beriman.”
Meskipun ungkapan tersebut masih diperselisihkan statusnya, namun tergambar bahwa jika dikiaskan dengan proses mi’raj yaitu naiknya Nabi Muhammad hingga ke Sidratul Muntaha, maka shalat merupakan sarana naiknya orang beriman bertemu Allah subhanahu wa ta’ala.
*Bertemu Allah di Surga*
Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Siapa suka berjumpa dengan Allah, maka Allah suka berjumpa dengan-Nya. dan siapa yang benci dengan Allah maka Allah benci berjumpa dengannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
*3 persiapan bertemu dengan Allah:*
*Satu,* beramal shaleh dan bertauhid yang benar. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah ke- pada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi : 110).
Asbabun nuzul: Bahwa seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulallah. Aku ini tabah dalam peperangan dan mengharap ridha Allah. Namun aku juga ingin kedudukanku terlihat oleh orang lain.” Rasulullah tidak menjawab sedikitpun, sehingga turun ayat 110 surat Al-Kahfi sebagai pegangan bagi orang yang mengharap ridha Allah. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abin Dun-ya di dalam Kitab Al-Ikhlas, yang bersumber dari Thawus. Hadits ini mursal. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim di dalam Kitab Al-Mustadrak, tapi maushuul, dari Thawus, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Al-Hakim mensahihkannya berdasarkan syarat asy-syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim).
*Dua,* bertakwa. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Qasas: 83)
*Tiga,* akhirat-oriented. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’la: )
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

