Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Yang dimaksud dengan kepala bisa anggota badan atau juga pemimpin. Tidak bisa dibayangkan kalau ada tubuh tanpa kepala atau kalau ada komunitas yang tidak ada pemimpinnya. Berikut ini penggunaan kata kepala dalam arti anggota tubuh atau pemimpin:

 

Satu, pemimpin atau pejabat publik laksana kepala, maka berbuat adillah!. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ فأَخْفَاها، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاه. (متفق عليه)

 

“Tujuh golongan akan dinaungi oleh Allah, dalam naungan-Nya, pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya; Imam yang adil, pemuda yang hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak wanita yang kaya dan cantik untuk berzina, maka laki-laki itu berkata : aku takut kepada Allah, seorang yang bersodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya, seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian sehingga matanya meneteskan air mata”. (Muttafaqun alaihi)

 

Dua, shalat laksana kepala atau pemimpin amalan, maka perbaikilah cara, waktu, tempat dan kekhusyu’annya! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ”

 

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim, Baihaqi. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

 

Sesuai makna dengan hadits di atas, Ali bin Abi Thallib berkata, “Kedudukan shalat dalam Islam sebagaimana kedudukan kepala di badan”.

 

Tiga, imam shalat laksana kepala, maka ringankanlah shalatnya! Berkenaan dengan imam shalat yang bijak, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

إِذَا صَلَّـى أَحَدُكُمْ لِلنَّـاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الضَّعِيْفَ وَالسَّقِيْمَ وَالْكَبِيْرَ، فَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.

 

“Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan orang tua. Namun, jika dia shalat sendirian, maka dia boleh memperpanjang sesuka hatinya.” (HR. Jama’ah)

 

Empat, hati laksana raja yang memimpin seluruh anggota tubuh, maka perbaikilah! Sesungguhnya unsur terpenting dalam diri manusia adalah hati. Hati diibaratkan seperti raja dan seluruh anggota badan adalah para pengawal dan prajuritnya. Sebagai seorang raja yang senantiasa dilayani oleh para pelayannya dan memerintah dengan segala kehendak hatinya, serta mengatur kebijakan untuk kesejahteraan rakyatnya, maka demikian pula fungsi hati yang sesungguhnya. Hati merupakan raja bagi seluruh anggota badan manusia. Satu manusia adalah satu kerajaan. Semakin banyak manusia, semakin banyak pula kerajaan. Dan tentu saja, setiap kerajaan itu berbeda dengan lainnya, bergantung pada kualitas raja atau hatinya masing-masing. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

 

“Sesungguhnya, di dalam badan ini terdapat sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh ba dan, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Sesungguhnya, ia adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Lima, kepala merupakan anggota penting dalam badan, tanpa kepala tanpa kehidupan, maka rawatlah! Berbicara tentang kepala dikaitkan dengan rasa malu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

استحيوا من الله حق الحياء قال فقلنا يا نبي الله انا نستحي قال ليس ذلك استحياء ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما حوى والبطن وما وعى وليذكر الموت والبلا ومن اراد الاخرة ترك زينة الحياة الدنيا واثر الاخرة على الاولى فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله تعالى حق الحياء

 

“Malulah kalian pada Allah dengan sebenar-benarnya. Para sahabat berkata, Wahai nabiyallah, kami sudah memiliki rasa malu. Nabi bersabda lagi, bukan malu itu yang dimaksud. Akan tetapi barangsiapa yang benar-benar malu pada Allah, maka niscaya dia akan menjaga kepala dan sesutau yang dikandungnya, dan menjaga perut beserta yang ditampungnya. Dia pasti akan selalu teringat pada kematian dan kebinasaan. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia akan meninggalkan gemerlap kehidupan dunia. Ia akan lebih memilih kehidupan akhirat. Barangsiapa yang melakukan itu semua, berarti ia malu pada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (HR. At-Tirmidzi)

 

Hadits di atas berbicara tentang rasa malu yang benar dengan menjaga kepala dan sesuatu yang dikandungnya dan seterusnya. Apa saja yang ada di kepala?

 

1. Mata. Jagalah mata dari apa-apa yang diharamkan bila mengaku malu pada Allah subhanahu wa taala.

 

2. Mulut. Jika benar-benar malu pada Allah, hindari caci maki, cemooh, sumpah serapah, dan menggunjing orang lain. Buatlah mulut kita basah dengan dzikrullah dan berkata baik.

 

3. Telinga. Jika merasa malu kepada Allah subhanahu wa taala, hindarkan diri dari mendengar perkara maksiat, dengarkanlah nasehat dan perkataan baik.

 

4. Otak. Jika merasa malu kepada Allah, fungsikan otak untuk kemaslahatan diri dan umat.

 

Faedah:

 

Satu, pemimpin atau pejabat publik laksana kepala, maka berbuat adillah!.

 

Dua, shalat laksana kepala atau pemimpin amalan, maka perbaikilah cara, waktu, tempat dan kekhusyu’annya!

 

Tiga, imam shalat laksana kepala, maka ringankanlah shalatnya!

 

Empat, hati laksana raja yang memimpin seluruh anggota tubuh, maka perbaikilah!

 

Lima, kepala merupakan anggota penting dalam badan, tanpa kepala tanpa kehidupan, maka rawatlah! Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *