Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh Rasulullah menjawab pertanyaan orang-orang tentang diri-Nya bahwa Dia Maha Dekat. Firman-Nya,

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

 

Makna ayat: Dikisahkan bahwa sekelompok sahabat nabi bertanya kepada nabi,”Apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami bermunajat (berbisik-bisik) dalam meminta, ataukah jauh sehingga kami harus menyeruNya? Maka Allah ta’ala menurunkan ayat: “Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa.” Makna munajat adalah berkomunikasi dengan suara yang lirih, sedangkan menyeru adalah berkomunikasi dengan suara keras. Dan jawaban Allah dan ajakan kepada hamba Nya adalah mengabulkan permintaannya dan memberikan apa yang diminta. Oleh karena itu, tidak lain yang harus dilakukan oleh hamba adalah menerima panggilan Rabbnya dengan keimanan kepada-Nya dan menaati-Nya dalam melakukan perintah atau meninggalkan larangan. Dengan itu kebenaran mereka menjadi sempurna dan menjadi siap untuk mencapai kesempurnaan serta kebahagiaan di dunia maupun akhirat nanti. (Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)

 

‘Bermesraan’ dengan Allah Ketika Shalat

 

Benarkah kita berdialog mesra dengan Allah ketika shalat? Hadits Qudsi berikut sebagai jawabannya: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.

 

Apabila hamba-Ku membaca, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ = “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

 

Allah Ta’ala berfirman, حَمِدَنِي عَبْدِي = “Hamba-Ku memuji-Ku.”

 

Apabila hamba-Ku membaca, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ = “(Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

 

Allah Ta’ala berfirman, أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي = “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”

 

Apabila hamba-Ku membaca, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ = “(Allah) Penguasa hari pembalasan.”

 

Allah Ta’ala berfirman, مَجَّدَنِي عَبْدِي = “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.”

 

Dalam riwayat lain, Allah berfirman, فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي = “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”

 

Apabila hamba-Ku membaca, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ = “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”

 

Allah Ta’ala berfirman, هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ = “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”

 

Apabila hamba-Ku membaca, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ = “Bimbinglah kami ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga bukan Jalan orang-orang yang tersesat.”

 

Allah Ta’ala berfirman, هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل = “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.” (HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

 

‘Bermesrahan’ dengan Allah Ketika Berzikir

 

Kami meriwayatkan dalam kitab Ibn as-Sunni dari Ummi Rafi’ i bahwa dia berkata,

 

يَا رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ يَأْجُرُنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: يَا أُمَّ رَافِعٍ! إِذَا قُمْتِ إِلَى الصَّلاَةِ؛ فَسَبِّحِي اللهَ تَعَالَى عَشْرًا، وَهَلِّلِيْهِ عَشْرًا، وَاحْمَدِيْهِ عَشْرًا، وَكَبِّرِيْهِ عَشْرًا، وَاسْتَغْفِرِيْهِ عَشْرًا، فَإِنَّكِ إِذَا شَبَّحْتِ؛ قَالَ: هذَا لِي، وَإِذَا هَلَّلْتِ؛ قَالَ: هذَا لِي، وَإِذَا حَمِدْتِ؛ قَالَ: هذَا لِيْ، وَإِذَا كَبَّرْتِ؛ قَالَ: هذَا لِي، وَإِذَا اسْتَغْفَرْتِ، قَالَ: قَدْ فَعَلْتُ.

 

“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal di mana Allah memberiku pahala karenanya?” Nabi menjawab, “Wahai Ummi Rafi’, apabila kamu selesai berdiri shalat maka bertasbihlah sepuluh kali, bertahlillah sepuluh kali, bertahmidlah sepuluh kali, bertakbirlah sepuluh kali dan beristighfarlah sepuluh kali. Karena jika kamu bertasbih, maka Allah berfirman, ‘Ini untukKu.’ Jika kamu bertahlil maka Allah berfirman, ‘Ini untukKu.’ Jika kamu bertahmid maka Allah ber-firman, ‘Ini untukKu.’ Jika kamu bertakbir maka Allah berfirman, ‘Ini untukKu.’ Dan jika kamu beristighfar maka Allah berfirman, ‘Aku telah melakukan’.” (Al-Adzkar Imam An-Nawawi)

 

‘Bermesraan’ dengan Allah Melalui Orang-Orang Lemah

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat,

 

يَا ابْنَ آدَمَ ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي ! قَالَ : يَا رَبِّ ، كَيْفَ أعُودُكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمِينَ ؟! قَالَ : أمَا عَلِمْتَ أنَّ عَبْدِي فُلاَناً مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ! أمَا عَلِمْتَ أنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَني عِنْدَهُ ! يَا ابْنَ آدَمَ ، اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمنِي ! قَالَ : يَا رَبِّ ، كَيْفَ أطْعِمُكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمِينَ ؟! قَالَ : أمَا عَلِمْتَ أنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ ! أمَا عَلِمْتَ أنَّكَ لَوْ أطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ! يَا ابْنَ آدَمَ ، اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي ! قَالَ : يَا رَبِّ ، كَيْفَ أسْقِيكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمينَ ؟! قَالَ : اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ ! أمَا أنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ! . رواه مسلم

 

“Wahai Anak Adam! Aku sakit, namun engkau tak menjengukKu!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana aku menjenguk–Mu, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba–Ku, si fulan, menderita sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku di sisinya?”

 

“Wahai Anak Adam! Aku telah meminta makan kepadamu, namun engkau tak memberiKu makan!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana aku memberi–Mu makan, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba–Ku, si fulan, telah meminta makan kepadamu, tapi engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi–Ku?”

 

“Wahai Anak Adam! Aku telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberi–Ku minum!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana aku memberi–Mu minum, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Hamba-Ku, si fulan, telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberinya minum! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya minum, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi–Ku.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

 

Wallahu A’lam. Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Dai An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *