Oleh: Hayat Abdul Latief
Ilmu merupakan sifat yang tidak bisa dipisahkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Maha ‘Alim. Arti Al-‘Alim dalam asmaul husna adalah Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, atau mengetahui apa-apa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Cara seorang muslim meneladani nama Alimnya Allah adalah dengan rajin menuntut ilmu. Dengan mencari ilmu, hamba Allah SWT bisa menunjukkan bahwa dirinya mencintai Sang Khaliq, juga dapat membuktikan bahwa dirinya ingin selalu dekat dengan Allah.
Begitu tinggi kedudukan ilmu dan ahlinya dalam pandangan Allah SWT sebagaimana dalam Firman-Nya berikut;
شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
Rasulullah SAW pun menegaskan dalam sabdanya;
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam (masalah) agama.” (HR. Bukhari)
Masjid
Masjid merupakan tempat yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;
أحَبُّ البلاد إلى الله مَساجِدُها، وأبغض البلاد إلى الله أسْوَاقُها (رواه مسلم)
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasarnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)
Karena Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi, maka Rasulullah memotivasi umat Islam untuk membangun masjid. Sabdanya;
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa membangun masjid dengan mengharapkan wajah Allah, sungguh Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di jannah (surga).” (HR. Bukhari-Muslim dari Utsman bin Affan r.a)
Setelah masjid dibangun, maka kewajiban kaum muslimin untuk memakmurkannya. Allah SWT berfirman;
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Amalan (Kegiatan) Masjid
Pribadi Rasulullah merupakan teladan terbaik sepanjang masa dalam segala hal. Istri-istri beliau menjadi teladan bagi istri-istri kaum muslimin. Anak-anak beliau menjadi teladan bagi anak-anak kaum muslimin. Sahabat-sahabat beliau menjadi tauladan bagi laki-laki kaum muslimin. Negeri Madinah di zaman beliau menjadi teladan bagi negeri-negeri kaum muslimin seluruh dunia. Demikian juga Masjid Nabawi di zaman beliau menjadi teladan bagi masjid-masjid di seluruh alam.
Lalu apakah rahasianya, sehingga Masjid Nabawi menjadi teladan bagi masing-masing seluruh alam? Setidaknya ada 4 amalan pokok Masjid Nabawi di zaman Rasulullah SAW:
a. Dakwah (mengajak umat manusia) kepada Allah subhanahu wa ta’ala tanpa memandang afiliasi mazhab dan pilihan politik praktisnya. Bukan mengajak kepada semangat fanatisme politik praktis dan fanatisme mazhab tertentu.
b. Kegiatan Keilmuan. Menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan agama dan pusat pengkaderan dai-dai, sehingga masjid melahirkan ulama-ulama dan dai-dai yang mengajarkan Islam ke seluruh dunia.
c. Dzikir-Ibadah. Menjadikan masjid sebagai pusat untuk dzikir dan ibadah umat Islam, seperti shalat berjamaah rawatib, Jum’at, tilawah Al-Qur’an dan seterusnya. Jangan jadikan masjid sebagai tempat kepentingan kelompok tertentu.
d. Layanan masyarakat. Memaksimalkan masjid sebagai tempat pelayanan untuk orang-orang yang punya masalah keduniawian seperti ekonomi dan masalah agama.
Kegiatan Keilmuan
Kegiatan keilmuan di Masjid Nabawi di masa Rasulullah telah terbukti mengeluarkan lulusan-lulusan sahabat yang berilmu. Dan khusus bagi pelajar yang tidak memiliki tempat tinggal Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menyiapkan emperan masjid sebagai tempat tinggal mereka atau yang dikenal dengan Ashabul Suffah – di antara Ashabul Suffah adalah Abu Hurairah radhiallahu’anhu perawi hadits terbanyak dari kalangan sahabat Rasulullah.
Mencari ilmu memiliki keutamaan tersendiri, memakmurkan masjid memiliki keutamaan sendiri. Apabila kegiatan keilmuan dilaksanakan di masjid, maka memiliki gabungan Fadilah yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda;
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ
“Barangsiapa berangkat ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali untuk mempelajari satu kebaikan atau mengetahui ilmunya, maka ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna.” (HR. Ath-Thobarani dalam Al-Kabir dan Al-Hakim dari Abu Umamah r.a)
Rasulullah SAW juga bersabda;
مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا، أَوْ لِيُعَلِّمَهُ، كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Barangsiapa masuk ke masjid kami untuk mempelajari satu kebaikan atau mengajarkannya maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Kegiatan keilmuan lebih utama dari amalan sunnah lain, apalagi kalau kegiatan keilmuan itu diadakan di masjid. Berkenaan dengan ini, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata;
لأَنْ أَجْلِسَ سَاعَةً فَأَفْقَهُ فِي دِينِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْيِيَ لَيْلَةً إِلَى الصَّبَاحِ
“Aku duduk sesaat untuk memahami agamaku lebih aku cintai daripada beribadah sepanjang malam.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi: 85)
Abu Darda radhiyallahu’anhu juga berkata;
مَنْ رَأَى الْغُدُوَّ وَالرَّوَاحَ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ عَقْلُهُ وَرَأْيُهُ
“Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu pagi dan sore bukanlah jihad maka berkurang akal dan pikirannya.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi: 124)
Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata;
والحاصل أنهم متفقون على أن الاشتغال بالعلم أفضل من الاشتغالات بنوافل الصوم، والصلاة، والتسبيح، ونحو ذلك من نوافل عبادات البدن، ومن دلائله سوى ما سبق أن نفع العلم يعم صاحبه والمسلمين، والنوافل المذكورة مختصة به
“Kesimpulannya adalah, para ulama sepakat bahwa sibuk dengan ilmu lebih baik dari pada sibuk dengan amalan-amalan sunnah seperti puasa, sholat, tasbih dan berbagai amalan badan yang sunnah lainnya. Diantara dalilnya selain yang telah disebutkan adalah, bahwa manfaat ilmu untuk diri sendiri dan kaum muslimin, adapun manfaat ibadah-ibadah sunnah tersebut hanya untuk diri sendiri.” (Al-Majmu’, 1/44)
Faedah:
Satu, Allah SWT ‘Alim Maha Berilmu dan cara seorang muslim menyerap nama-Nya tersebut dengan rajin mencari ilmu.
Dua, 4 amalan masjid Nabawi di zaman Rasulullah yang patut ditiru dan dimaksimalkan oleh masjid-masjid seluruh alam; kegiatan dakwah, kegiatan keilmuan, dzikir-ibadah dan pelayanan masyarakat.
Tiga, kegiatan keilmuan di Masjid Nabawi di zaman Rasulullah melahirkan sahabat-sahabat berilmu yang dibutuhkan oleh umat sampai akhir zaman.
Empat, fadhilah kegiatan keilmuan yang diadakan di masjid akan mendapatkan pahala haji yang sempurna dan dinilai seperti orang yang berjihad dijalan Allah SWT.
Lima, kegiatan keilmuan lebih utama dari amalan sunnah lain, apalagi kalau kegiatan keilmuan itu diadakan di masjid. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

