Oleh: Hayat Abdul Latief
Membaca doa sebelum dan sesudah bangun tidur merupakan amalan yang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap muslim. Dengan selalu membaca doa ketika akan tidur sampai nanti kembali bangun, hal ini termasuk salah satu bentuk bersyukur kepada Allah SWT, karena tidur merupakan bagian dari nikmat-Nya.Tak hanya itu, tidur pun memiliki sejumlah adab dan hal itu perlu diamalkan supaya nikmat beristirahat turut mendapat keberkahan dari Allah SWT.
Dalam kitab Al-Adzkar karya Syaikh Abu Zakariya Muhyiddin An-Nawawi dituliskan doa sebelum tidur yang dibaca Rasulullah SAW;
بِاسْمِكَ اللهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوْتُ
“Dengan menyebut nama Allah yang menghidupkan dan mematikan.”
Sesudah bangun tidur, beliau berdoa;
الحَمْدُ لِلهِ الًّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْر
“Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menghidupkan kami setelah ia mematikan kami. Kepada-Nyalah kebangkitan hari kiamat.”
Redaksi lain doa sebelum tidur;
باسمك ربي وضعت جنبي ، وبك أرفعه ، إن أمسكت نفسي فارحمها ، وإن أرسلتها فاحفظها ، بما تحفظ به عبادك الصالحين
“Dengan menyebut nama-Mu ya Robbi kuletakkan tubuhku ini, dengan pertolongan-Mu aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku ini, maka berikanlah rahmat-Mu kepadanya. Kalau Engkau membiarkannya hidup, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamab-Mu yang shalih ” (HR. Bukhari, no. 6320 dan Muslim, no. 2714)
Tidur sama dengan mati?
kalau kita perhatikan dalam doa sebelum dan sesudah tidur ada lafadz hidup dan mati, seolah-olah tidur sama dengan mati. Apakah benar demikian? Mari kita perhatikan firman Allah SWT;
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar 42)
Pada ayat ini, Allah menerangkan satu macam kekuasaan-Nya yang sempurna dan sifat-Nya yang mengagumkan, yaitu Dialah yang memegang roh manusia ketika tiba ajalnya dengan memutuskan hubungan roh dengan raganya dan memegang roh orang itu pada lahirnya saja sehingga tidak dapat mengemudikan raganya, akan tetapi hubungan di antaranya tetap masih ada. Allah menahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dengan tidak mengembalikan roh itu, dan melepaskan jiwa yang lain dengan mengembalikan jiwa ke dalam raganya, sehingga ia dapat bangun dari tidurnya sampai kepada waktu yang ditentukan. Orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya dan orang yang belum mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali ke raganya lagi.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa dalam tubuh manusia itu ada jiwa dan roh yang hubungannya seperti sinar matahari (dengan terangnya bumi -red). Akal dan jiwa dapat berpikir dan menentukan pilihan, sedang rohnya yang menyebabkan ia dapat hidup dan bergerak. Kedua-duanya dimatikan ketika tiba ajalnya, dan dimatikan jiwanya saja ketika ia tidur, sedang rohnya tetap masih ada.
Masuk Islam karena ‘tidur’!
Profesor Arthur Alison, seorang Kepala Departemen Teknik Listrik dan Elektronik di Universitas London Inggris, seperti yang diunggah SUMEKS.CO, tiba-tiba mengejutkan publik. Betapa tidak, Profesor Arthur Alison tiba-tiba mantap masuk Islam. Alasannya, sungguh membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang mendengarnya. Alasan Profesor Arthur Alison memeluk Islam lantaran meneliti tidur manusia, serta mendalami Al-Quran Surat Az-Zumar ayat 42 di atas. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

