BIOGRAFI LENGKAP AL-IMAM AL-HABIB UMAR BIN ABDURAHMAN AL-ATHOS
(SHOIBUL RATIB AL-ATHOS)
Disusun oleh : Rohman

• Al-Habib Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdurrahman Al-athos

• Ayah beliau Bernama Al-Habib Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdurahman Al-athos
• Ibunda beliau Bernama Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri
Beliau berasal dari keluarga Al-athos, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur cucunya, Imam Husain bin Ali. Seluruh marga Al-athos bersambung secara nasab kepada beliau.

• Lahir: Tahun 992 H / 1584 M di desa Lisk dekat Kota Inat Hadramaut, Yaman
• Wafat: 23 Rabiulakhir 1072 H / 1652 M
• Dimakamkan: Desa Nafhun, dekat Huraidhoh, Hadramaut, Yaman

• Sejak kecil, Habib Umar mengalami kebutaan. Namun, hal ini tidak menghalangi semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia dikenal sebagai pribadi yang khumul (rendah hati) dan tidak menonjolkan diri. Beliau belajar dari ayahnya, Al-Habib Abdurrahman bin Aqil, serta ulama-ulama setempat lainnya seperti Syekh Umar bin Isa, Syekh Abu Bakar bin Salim, dan Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim.

Guru-guru beliau:
• Ayahnya sendiri, Al-Habib Abdurrahman bin Aqil
• Syekh Umar bin Isa
• Syekh Abu Bakar bin Salim
• Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Murid-murid beliau:
• Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad: Penyusun Ratib Al-Haddad
• Syekh Ali bin Abdullah Bara’as: Penyusun syarah Ratib Al-Aththas dalam kitab Tanbih al-Ghafil wa Taraqqi al-Washil

• Ratib Al-Aththas adalah susunan dzikir dan doa yang terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa ma’tsur (diriwayatkan dari Rasulullah SAW). Karya ini menjadi amalan induk marga Al-Aththas dan diamalkan secara turun-temurun, serta diijazahkan secara umum oleh para habaib saat berkunjung di berbagai tempat yang menjadi tujuan dakwah mereka.

• Ratib Al-Aththas telah menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, India, dan Afrika. Di Indonesia, ratib ini banyak diamalkan di pesantren-pesantren, majelis taklim, dan zikir tarekat, khususnya di kalangan tarekat Alawiyyah.

Ratib Al-Aththas dipercaya memiliki banyak keutamaan, antara lain:
• Memberikan perlindungan dari sihir, jin, dan kejahatan manusia
• Mendatangkan ketenangan hati dan kekhusyukan dalam beribadah
Menjadi wasilah mendekatkan diri kepada Allah SWT Dalam keadaan khusus dan mendesak, ratib ini bisa dibaca tujuh hingga 41 kali berturut-turut.

• Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas adalah sosok sufi agung dan mursyid kamil yang warisan spiritualnya masih hidup hingga hari ini. Ratib Al-Aththas menjadi bukti kecintaan beliau kepada Allah, Rasul-Nya, dan umat Islam, serta menjadi wasilah mendekatkan diri kepada Allah SWT bagi jutaan kaum Muslimin.

• Menjelang wafat, Habib Umar tetap menjaga sunnah Rasulullah SAW. Beliau meminta muridnya, Syekh Abbas bin Abdillah Bahafash, untuk memandikannya, dan saat berwudhu, beliau mengingatkan agar menyela-nyela janggutnya, meskipun dalam kondisi lemah dan tidak bisa berbicara. Beliau wafat dalam keadaan berdzikir, diiringi suara dzikir dari orang-orang di sekitarnya.
• Setelah wafatnya, banyak ulama dan penyair mengekspresikan duka mereka melalui puisi dan tulisan. Salah satu murid beliau, Syekh Ali bin Abdullah Baras, dalam mimpi setelah wafatnya, bertemu Habib Umar di dekat Arsy Allah, menandakan kedudukan spiritual tinggi yang dimiliki beliau.
• Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas meninggalkan warisan spiritual yang besar melalui Ratib al-Atthas, yang hingga kini terus diamalkan oleh banyak umat Islam sebagai bentuk dzikir dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *