30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Hari 1 — Sebelum Menjadi Nabi, Beliau Sudah Dipercaya

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
*Hari 1 — Sebelum Menjadi Nabi, Beliau Sudah Dipercaya*
Ada sesuatu yang indah dari kehidupan Rasulullah ﷺ yang sering luput kita renungkan.
Sebelum turun ayat pertama.
Sebelum ada orang yang memanggil beliau Rasūlullāh.
Sebelum beliau berdiri menyampaikan risalah di hadapan manusia.
Masyarakat Makkah telah mengenal Muhammad ﷺ sebagai seseorang yang dapat dipercaya.
Kelak, ketika Rasulullah ﷺ berdiri di Bukit Ṣafā dan bertanya kepada Quraisy:
«أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟»
“Bagaimana menurut kalian, seandainya aku mengatakan bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?”
Mereka menjawab:
«نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا»
“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”
(HR. al-Bukhārī)
Perhatikan.
Yang mengatakan itu bukan para sahabat.
Bukan orang-orang yang sudah beriman kepada beliau.
Justru orang-orang yang beberapa saat kemudian akan menolak dakwahnya.
Mereka dapat menolak pesannya, tetapi sulit menyangkal integritas orang yang menyampaikannya.
Di sinilah ada pelajaran besar tentang dakwah.
Rasulullah ﷺ seakan mengajarkan bahwa akhlak sering kali berbicara jauh sebelum lisan berbicara.
Kita terkadang ingin didengar karena merasa memiliki kebenaran.
Tetapi kehidupan Nabi ﷺ mengajarkan sesuatu yang lebih dalam:
sebelum meminta manusia mempercayai perkataan kita, bangunlah kehidupan yang membuat kita layak dipercaya.
Kejujuran bukan hanya ketika berbicara di mimbar.
Ia hadir ketika tidak ada yang melihat.
Dalam janji yang kecil.
Dalam amanah yang sederhana.
Dalam urusan uang.
Dalam pekerjaan.
Dalam keluarga.
Dalam pesan yang kita kirim.
Bahkan dalam cerita yang kita teruskan kepada orang lain.
Karena seseorang dapat berbicara tentang agama dengan sangat indah, tetapi manusia akan melihat bagaimana ia hidup ketika turun dari mimbar.
Dan barangkali salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ yang paling sunyi adalah ini:
berusaha menjadi manusia yang ketika namanya disebut, orang lain merasa aman.
Aman dari kebohongannya.
Aman dari lisannya.
Aman dari pengkhianatannya.
Aman menitipkan sesuatu kepadanya.
Imam al-Būṣīrī menggambarkan kemuliaan Rasulullah ﷺ:
«مُحَمَّدٌ خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلِّهِمِ»
“Muhammad adalah sebaik-baik seluruh makhluk Allah.”
Tetapi pujian kepada Nabi ﷺ tidak seharusnya berhenti menjadi bait yang kita lantunkan.
Ia perlu turun menjadi akhlak yang kita perjuangkan.
Mungkin kita belum mampu meniru banyak hal dari Rasulullah ﷺ.
Tetapi hari ini kita dapat memulainya dari satu perkara kecil:
Jangan berdusta. Jangan mengkhianati amanah.
Sebab sebelum manusia mengenal Muhammad sebagai seorang Nabi, mereka telah mengenalnya sebagai manusia yang dapat dipercaya.
Dan mungkin di situlah perjalanan cinta kita kepada beliau perlu dimulai.
Bukan hanya dengan semakin banyak menyebut namanya,
tetapi dengan membuat akhlak beliau semakin terlihat dalam hidup kita.
🌱 *Jejak yang dibawa pulang hari ini*
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Jika orang-orang yang paling dekat denganku diminta menggambarkan diriku dalam satu kalimat, apakah mereka akan mengatakan: ia orang yang dapat dipercaya?”
Tidak perlu menjawabnya kepada siapa pun.
Biarkan pertanyaan itu tinggal sebentar di dalam hati.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #zawiyahjakarta #mahadaly
