30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ : Hari 03 — Mengapa Rasulullah ﷺ Memilih Kesunyian Hira?

30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ : Hari 03 — Mengapa Rasulullah ﷺ Memilih Kesunyian Hira?

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*

*Hari 03 — Mengapa Rasulullah ﷺ Memilih Kesunyian Hira?*

Sebelum menerima wahyu, Rasulullah ﷺ belajar berada dalam sunyi.

Ketika kehidupan Makkah dipenuhi hiruk-pikuk perdagangan, persaingan kabilah, dan praktik kemusyrikan, Muhammad ﷺ justru sering menjauh sejenak.

Beliau pergi ke Gua Hira.

Bukan karena membenci manusia.

Bukan pula karena hendak meninggalkan kehidupan.

Tetapi beliau melakukan taḥannuth—beribadah dan berkhalwat selama beberapa malam.

Sayyidah ‘Āisyah رضي الله عنها meriwayatkan:

«ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ

“Kemudian beliau dibuat mencintai kesunyian. Beliau berkhalwat di Gua Hira dan beribadah di sana.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)»

Perhatikan kalimatnya:

حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ

“Dijadikan beliau mencintai kesunyian.”

Ada masa ketika manusia membutuhkan keramaian.

Tetapi ada pula masa ketika jiwa membutuhkan ruang untuk tidak mendengar siapa-siapa selain suara hatinya sendiri.

Rasulullah ﷺ membawa bekal dan tinggal di Hira beberapa malam. Setelah itu beliau kembali kepada Khadijah رضي الله عنها, mengambil bekal lagi, kemudian kembali.

Jadi kesunyian Nabi ﷺ bukanlah pelarian.

Beliau pergi ke Hira, lalu kembali kepada kehidupan.

Itulah yang menarik.

🌱 Tidak semua menjauh berarti meninggalkan

Kadang kita terlalu lama berada di tengah suara manusia.

Pendapat orang.

Pujian orang.

Kritik orang.

Berita.

Pesan.

Layar.

Percakapan yang tidak pernah selesai.

Sampai akhirnya kita mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi semakin sulit mendengar apa yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.

Hira mengajarkan sesuatu yang semakin mahal pada zaman kita:

kemampuan untuk berhenti.

Bukan berhenti dari tanggung jawab.

Tetapi berhenti sejenak dari kebisingan agar hati kembali mengetahui arah.

Sebab ada pertanyaan yang jawabannya tidak ditemukan dengan semakin banyak berbicara.

Ada kegelisahan yang tidak selesai dengan semakin banyak membuka layar.

Dan ada kejernihan yang baru datang ketika manusia bersedia duduk sebentar bersama dirinya di hadapan Allah.

Namun ada hal yang jauh lebih indah.

Rasulullah ﷺ tidak mengetahui bahwa di tempat sunyi itulah sejarah manusia akan berubah.

Beliau belum mengetahui bahwa suatu malam Jibril عليه السلام akan datang membawa:

«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. al-‘Alaq [96]: 1)»

Hira yang sunyi ternyata sedang menjadi tempat persiapan bagi sebuah amanah yang sangat besar.

🌿 Jejak Jiwa

Mungkin kita pun pernah mengalami masa ketika hidup terasa sepi.

Orang-orang menjauh.

Kesibukan berkurang.

Rencana tertunda.

Pintu yang kita harapkan belum terbuka.

Jangan terlalu cepat menganggap setiap kesunyian sebagai kekosongan.

Boleh jadi ada masa ketika Allah mengurangi suara di sekitar kita agar hati kita lebih siap menerima petunjuk-Nya.

Tentu kita bukan Rasulullah dan tidak ada wahyu setelah beliau ﷺ.

Tetapi kita tetap membutuhkan saat-saat untuk kembali kepada Allah: melalui salat, tilawah, dzikir, tafakkur, doa, dan muhasabah.

Bukan untuk melarikan diri dari dunia.

Justru agar ketika kembali kepada dunia, kita membawa hati yang lebih jernih.

Renungan hari ini

Cobalah memberi diri kita beberapa menit tanpa layar.

Tanpa percakapan.

Tanpa keinginan untuk segera membagikan apa pun kepada siapa pun.

Duduklah.

Berdzikirlah.

Lalu tanyakan perlahan:

“Di tengah begitu banyak suara yang selama ini kudengar, apakah aku masih menyediakan ruang untuk mendengar apa yang Allah ajarkan kepada hatiku?”

Rasulullah ﷺ memasuki Hira dalam kesunyian.

Kemudian beliau turun membawa cahaya yang mengubah dunia.

Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak keramaian.

Mungkin hati kita hanya membutuhkan sedikit ruang untuk kembali kepada Allah.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #zawiyahjakarta #mahadaly

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *