Al-‘Āfiyah: Nikmat yang Tidak Kita Sadari karena Musibah Itu Tidak Pernah Datang

Al-‘Āfiyah: Nikmat yang Tidak Kita Sadari karena Musibah Itu Tidak Pernah Datang

*Al-‘Āfiyah: Nikmat yang Tidak Kita Sadari karena Musibah Itu Tidak Pernah Datang*

Ada nikmat yang kita rasakan karena ia datang.

Kita bersyukur ketika mendapatkan rezeki.
Kita bahagia ketika memperoleh keberhasilan.
Kita lega ketika penyakit disembuhkan.
Kita bersujud ketika sebuah masalah akhirnya selesai.

Tetapi ada jenis nikmat yang jauh lebih sunyi.

Nikmat karena sesuatu tidak pernah terjadi.

Kita tidak mengalami kecelakaan hari ini.
Tubuh kita tidak tiba-tiba kehilangan fungsinya.
Rumah yang kita tinggalkan masih utuh ketika kita kembali.
Orang-orang yang kita cintai masih dapat kita hubungi.
Aib kita tidak tersingkap.
Fitnah yang mungkin menghancurkan hidup kita tidak sampai kepada kita.

Kita sering tidak mengucapkan syukur untuk semua itu.

Sebab kita bahkan tidak tahu bahwa kita sedang diselamatkan.

Inilah salah satu kedalaman makna:

> العَافِيَةُ — al-‘āfiyah

 

🌿 Apa sebenarnya al-‘Āfiyah?

Abū Hilāl al-‘Askarī (w. 395 H) memberikan definisi yang sangat menarik:

> دَفْعُ اللَّهِ ـ سُبْحَانَهُ ـ الْأَسْقَامَ وَالْبَلَايَا عَنِ الْعَبْدِ

“Allah—Mahasuci Dia—menolak penyakit-penyakit dan berbagai bala dari seorang hamba.”

 

Perhatikan kata yang digunakan:

> دَفْعُ اللَّهِ

Allah menolak, menahan, menjauhkan.

 

Maka ‘āfiyah tidak identik dengan الشفاء — kesembuhan.

Kesembuhan kita sadari karena sebelumnya kita sakit.

Tetapi ‘āfiyah sering tidak kita sadari, karena Allah menjaga agar sakit dan bala itu tidak sampai kepada kita sejak awal.

Di sinilah ‘āfiyah menjadi salah satu nikmat Allah yang paling tersembunyi.

Kita mengetahui musibah yang datang, tetapi tidak mengetahui musibah yang Allah palingkan

Bayangkan seseorang berangkat bekerja seperti biasa.

Ia pulang dengan selamat.

Baginya, hari itu mungkin terasa:

> “Tidak ada sesuatu yang istimewa hari ini.”

 

Padahal ia tidak mengetahui berapa banyak kemungkinan buruk yang tidak terjadi.

Berapa banyak keputusan kecil yang Allah arahkan.

Berapa banyak bahaya yang tidak berpapasan dengannya.

Berapa banyak penyakit yang tidak berkembang dalam tubuhnya.

Berapa banyak fitnah yang tidak sampai kepadanya.

Berapa banyak kesalahan yang hampir ia lakukan tetapi Allah mengurungkan langkahnya.

Karena itulah ada nikmat yang mudah dihitung, dan ada nikmat yang mustahil kita hitung karena kita tidak pernah melihatnya.

Al-Qur’an mengingatkan:

> وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrāhīm: 34)

 

Mungkin salah satu sebabnya adalah karena sebagian nikmat itu memang terlihat.

Tetapi sebagian lainnya berupa penjagaan Allah yang tidak pernah kita ketahui.

Mengapa Rasulullah ﷺ begitu sering meminta al-‘āfiyah?

Ada doa Nabi ﷺ yang sangat indah:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu al-‘afw dan al-‘āfiyah di dunia dan akhirat.”

 

Kemudian doa itu menjadi semakin luas:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan ‘āfiyah dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.”

 

Ini luar biasa.

Nabi ﷺ tidak hanya meminta keselamatan tubuh.

Beliau meminta ‘āfiyah untuk:

agama, kehidupan dunia, keluarga, dan harta.

Berarti ‘āfiyah jauh lebih luas daripada kesehatan fisik.

‘Āfiyah agama

Ada orang tubuhnya sehat, tetapi imannya perlahan sakit.

Dahulu mudah menangis ketika membaca Al-Qur’an, sekarang tidak lagi.

Dahulu takut melakukan dosa, kemudian dosa menjadi biasa.

Dahulu menjaga shalat, kemudian mulai meremehkannya.

Maka salah satu ‘āfiyah terbesar adalah ketika Allah menjaga hati kita tetap mengenal-Nya.

‘Āfiyah keluarga

Kadang kita menganggap rumah yang tenang sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal rumah yang tidak dipenuhi pertengkaran adalah nikmat.

Anak yang masih mau berbicara kepada orang tuanya adalah nikmat.

Pasangan yang masih saling menjaga adalah nikmat.

Keluarga yang tidak diterpa musibah besar adalah nikmat.

Kita baru memahami nilainya ketika melihat orang lain kehilangan apa yang selama ini kita anggap biasa.

‘Āfiyah harta

Tidak semua nikmat harta berupa bertambahnya uang.

Kadang ‘āfiyah justru berbentuk:

tidak tertipu, tidak kehilangan, tidak terlilit utang, tidak tergoda mengambil yang haram, dan tidak menjadikan kekayaan sebagai sebab kehancuran diri.

Maka penjagaan terhadap harta terkadang lebih besar nilainya daripada penambahan harta.

Bahkan keselamatan dari dosa adalah ‘āfiyah

Ini mungkin lapisan yang lebih dalam.

Kita biasanya menganggap ‘āfiyah sebagai perlindungan dari sesuatu yang dilakukan kepada kita.

Padahal kita juga membutuhkan perlindungan dari keburukan yang mungkin kita lakukan sendiri.

Ada ucapan yang hampir keluar tetapi Allah membuat kita diam.

Ada kemarahan yang hampir menjadi kezaliman tetapi Allah meredakannya.

Ada kesempatan bermaksiat tetapi tiba-tiba jalannya tertutup.

Ada keputusan buruk yang hampir kita ambil tetapi entah mengapa hati kita mengurungkannya.

Jangan selalu menganggap pintu yang tertutup sebagai kegagalan.

Kadang pintu itu ditutup karena di belakangnya terdapat sesuatu yang sedang Allah jauhkan dari kita.

العفو dan العافية: dua permohonan yang sangat indah

Abū Hilāl al-‘Askarī membedakan keduanya.

العفو — al-‘afw adalah ketika Allah melewati dan mengampuni kesalahan.

Sedangkan العافية — al-‘āfiyah adalah ketika Allah menjauhkan penyakit dan bala.

Seolah-olah seorang hamba berkata:

> Ya Allah, terhadap keburukan yang telah kulakukan, berikanlah kepadaku العفو.

Dan terhadap keburukan yang belum datang, karuniakanlah kepadaku العافية.

 

Yang telah terjadi, kita serahkan kepada ampunan-Nya.

Yang belum terjadi, kita serahkan kepada penjagaan-Nya.

Betapa lengkapnya doa itu.

Barangkali hidup kita jauh lebih banyak diselamatkan daripada diuji

Kita mengingat satu musibah selama bertahun-tahun.

Tetapi kita tidak mampu mengingat ribuan hari ketika musibah itu tidak datang.

Kita mengingat satu kali sakit.

Tetapi jarang mensyukuri ratusan hari ketika tubuh bekerja tanpa kita memerintahkannya.

Kita menangisi satu kehilangan.

Tetapi sering lupa mensyukuri begitu banyak hal yang masih Allah pertahankan bersama kita.

Maka mungkin kita perlu mengubah cara memandang kehidupan.

Jangan hanya bertanya:

> “Apa yang Allah berikan kepadaku hari ini?”

 

Sesekali tanyakan:

> “Apa yang mungkin telah Allah jauhkan dariku hari ini?”

 

Kita mungkin tidak pernah mengetahui jawabannya.

Dan justru karena tidak mengetahuinya, kita mengatakan:

> الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى الْعَافِيَةِ

Alhamdulillāh atas segala ‘āfiyah.

 

Atas penyakit yang tidak datang.

Atas kecelakaan yang tidak terjadi.

Atas fitnah yang tidak sampai.

Atas dosa yang Allah hindarkan.

Atas keluarga yang masih bersama.

Atas iman yang masih bersemayam di dada.

Atas begitu banyak bala yang mungkin pernah berjalan menuju kita—

lalu Allah berkata kepadanya: jangan sampai kepada hamba-Ku.

🌿 Karena ternyata, tidak semua nikmat hadir dalam bentuk sesuatu yang Allah berikan.

Sebagian nikmat terbesar hadir dalam bentuk sesuatu yang Allah jauhkan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ampunan dan ‘āfiyah di dunia dan di akhirat.

#jejakjiwa
#afiyat

#mahadaly

#zawiyahjakarta

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *