Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Kata-kata bijak Arab menyebutkan,

 

لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ

 

“Janganlah kamu menghina orang yang lebih rendah darimu karena segala sesuatu memiliki kelebihan.”

 

Kata mutiara ini memberikan pengertian bahwa setiap orang memiliki kemampuan, keistimewaan dan keunikan tersendiri.

 

Penemuan teori mutakhir bahwa kecerdasan itu banyak ragamnya, kecerdasan bukan hanya dalam bidang akademik semata. Di bawah ini beberapa kecerdasan qalbiyah:

 

1. Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang memiliki sifat intuitif ilahiyah. Kepekaan terhadap unsur firasat dan prasangka mungkin menjadi daya ukur bagaimana kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh seseorang.

 

2. Kecerdasan Emosional. Yang disebut sebagai kecerdasan emosional adalah pengendalian nafsu ataupun keinginan yang menggebu-gebu dalam diri seseorang. Seseorang yang cerdas emosionalnya dianggap mampu memahami situasi dan mengendalikan hawa nafsunya. Kecerdasan emosional ini menjadi bagian dari qalbiyah yang juga seharusnya sudah ada dalam diri setiap individu.

 

3. Kecerdasan Moral. Bagaimana seorang mampu memahami nilai dan moral yang dibawa dalam dirinya setelah belajar agama. Kebaikan yang diajarkan oleh agama kemudian menjadi sebuah peraturan tidak tertulis yang akan diingat dan menjadi penahan seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang dianggap amoral. Kecerdasan ini juga akan semakin berkembang seiring seseorang itu tumbuh dewasa dan mampu memahami bagaimana keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya.

 

4. Kecerdasan Kalbu. Kalbu di sini dianggap sebagai sesuatu yang mungkin tidak bisa dilihat secara langsung, akan tetapi ada dalam pikiran dan jiwa manusia. Kualitas batin seseorang akan ditunjukkan dengan kecerdasan kalbu yang dimilikinya. Seseorang mungkin akan menjadi lebih memahami apa saja hal-hal yang semestinya ia lakukan untuk meningkatkan kualitas batinnya melalui pendekatan-pendekatan keagamaan. Ketenangan batin merupakan hasil yang diharapkan ketika seseorang semakin tahu tentang kecerdasan kalbu.

 

5. Kecerdasan Beragama. Seseorang mampu memahami konsep ketuhanan dengan baik. Ia meyakini bahwa apa yang ada di dunia ini, termasuk dirinya adalah berkat kuasa dari Tuhan. Oleh karenanya, pendekatan dengan unsur keagamaan akan semakin kuat terasa di sini. Ia akan belajar mengenai konsep ketaqwaan, yaitu tentang bagaimana berperilaku benar dengan cara menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.

 

Di antara proses menjadi diri sendiri dalam bermedsos adalah usahakan memposting tulisan sendiri atau tulisan orang dirangkum dengan gaya bahasa sendiri. Juga memposting video atau YouTube sendiri, dengan gaya bahasa sendiri. Sebagaimana kita senang membaca tulisan orang dan menonton video orang, demikian juga orang mungkin senang membaca tulisan kita dan menonton video kita sendiri.

 

Masih mengutip kata-kata bijak Arab yang lain,

 

الاعتماد علي النفس أساس النجاح

 

“Percaya diri (berpijak kepada kemampuan sendiri) adalah pondasi kesuksesan.”

 

Menurut KH As’ad Said Ali, salah satu cara Belanda menjajah bangsa Indonesia adalah menanamkan “inferiority complex”, rasa rendah diri dan minder akut karena menganggap bangsa Indonesia sebagai bangsa kuli (babu) yang hanya pantas menjadi budak, pelayan, jongos, sehingga Tidak pantas merdeka, bebas, Dan berkreasi. Dengan Strategi internalisasi “inferiority complex” ini, Belanda berhasil membunuh mental bangsa Indonesia sehingga mereka menerima Apa adanya untuk dijajah Dan dieksploitasi sumber daya Alam Dan manusia secara Tidak berperikemanusiaan. Inilah bahayanya “inferiority complex” Dan urgensi menanamkan “self confidence” kepada bangsa Indonesia agar berani menegakkan kepala Dan harga diri dengan Prestasi.

 

Karakter percaya diri merupakan pengamalan dari Firman Allah,

 

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 139)

 

Atau lebih jauh mengacu pada Firman-Nya,

 

….وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

 

“…. Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan milik orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

 

Beberapa faedah dari tulisan ini:

 

*Satu,* setiap orang memiliki keunikan tersendiri.

 

*Dua,* kecerdasan bukan hanya dalam bidang akademik.

 

*Tiga,* dalam bermedsos, usahakan memposting tulisan sendiri, video sendiri.

 

*Empat,* percaya diri kunci kesuksesan.

 

*Lima,* hidup laksana perang, kalau tidak membunuh pasti dibunuh – kalau tidak mempengaruhi pasti dipengaruhi. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *