ZAWIYAH JAKARTA
KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN
Seri 1: Dakwah dan Transformasi Dunia
๐ *KETIKA DUNIA BERUBAH, DI MANA POSISI UMAT ISLAM?*

ZAWIYAH JAKARTA
KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN
Seri 1: Dakwah dan Transformasi Dunia
๐ *KETIKA DUNIA BERUBAH, DI MANA POSISI UMAT ISLAM?*
Memahami perubahan kekuatan dunia, potensi umat Islam, dan tantangan dakwah dalam membangun masa depan peradaban.
Dunia sedang mengalami perubahan besar. Negara-negara berlomba menguasai teknologi, kecerdasan buatan berkembang dengan cepat, persaingan ekonomi semakin ketat, dan konflik geopolitik memengaruhi kehidupan jutaan manusia.
Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan:
Di manakah posisi umat Islam dalam menentukan arah masa depan dunia?
Pertanyaan ini penting karena umat Islam bukan kelompok kecil. Mereka memiliki jumlah penduduk yang besar, sejarah peradaban yang panjang, sumber daya alam yang melimpah di berbagai negara, serta ajaran agama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, keadilan, dan kehidupan manusia.
Namun, besarnya jumlah penduduk tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan membentuk perkembangan dunia.
1. UMAT ISLAM BESAR DALAM JUMLAH, TETAPI BAGAIMANA DENGAN PENGARUHNYA?
Laporan Pew Research Center yang diterbitkan pada Juni 2025 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia mencapai sekitar 2 miliar jiwa pada 2020, atau 25,6 persen dari populasi dunia.
Sepanjang 2010โ2020, jumlah Muslim bertambah sekitar 347 juta jiwa. Islam menjadi kelompok agama besar dengan pertumbuhan paling cepat pada periode tersebut.
Menariknya, kawasan Asia-Pasifik menampung jumlah Muslim terbesar di dunia, bukan Timur Tengah sebagaimana sering dibayangkan.
Artinya, masa depan umat Islam tidak hanya ditentukan oleh negara-negara Arab. Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan berbagai komunitas Muslim di dunia juga memiliki peran penting.
Namun, jumlah penduduk hanyalah salah satu unsur kekuatan peradaban.
Kekuatan suatu masyarakat juga ditentukan oleh kualitas pendidikan, penguasaan teknologi, kemampuan menghasilkan ilmu pengetahuan, produktivitas ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan kerja sama internasional.
Di sinilah muncul persoalan mendasar:
Bagaimana mengubah jumlah umat Islam yang besar menjadi kekuatan ilmu pengetahuan, kesejahteraan, dan kemanusiaan?
2. DUNIA TIDAK LAGI DITENTUKAN OLEH SATU KEKUATAN
Setelah berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat menjadi kekuatan yang sangat dominan dalam politik internasional.
Namun, perkembangan Tiongkok, meningkatnya pengaruh India, peran Rusia, serta penguatan kerja sama negara-negara berkembang memperlihatkan perubahan distribusi kekuatan dunia.
Perubahan ini sering disebut sebagai kecenderungan menuju multipolaritas, yaitu terbentuknya beberapa pusat kekuatan global yang saling bersaing sekaligus bekerja sama.
Sebagai gambaran, data Bank Dunia untuk tahun 2025 menunjukkan besarnya ekonomi beberapa negara:
โข Amerika Serikat: sekitar US$30,77 triliun.
โข Tiongkok: sekitar US$19,5 triliun.
โข India: sekitar US$3,96 triliun.
Angka tersebut menunjukkan perbedaan kapasitas ekonomi. Namun, kekuatan suatu negara tidak hanya diukur melalui produk domestik bruto (PDB). Kemampuan teknologi, pertahanan, diplomasi, pendidikan, dan jaringan internasional juga sangat menentukan.
Bagi dunia Islam, perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan.
Negara-negara Muslim dapat memperluas kerja sama pendidikan, perdagangan, energi, dan teknologi. Namun, mereka juga menghadapi risiko ketergantungan ekonomi dan tekanan persaingan antarnegara besar.
Karena itu, memahami geopolitik bukan hanya urusan pemerintah dan diplomat.
Ulama, akademisi, lembaga pendidikan Islam, dan para pendakwah juga perlu memahami perubahan dunia agar dakwah mampu menjawab persoalan masyarakat secara lebih luas.
3. PERADABAN TIDAK DIBANGUN HANYA DENGAN KEKAYAAN
Dalam sejarah Islam, Baghdad pernah berkembang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.
Pada masa Abbasiyah, kegiatan penerjemahan, pengembangan kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat menjadi bagian penting kehidupan intelektual.
Nama-nama seperti al-Khawarizmi, al-Razi, dan Ibn al-Haytham mengingatkan kita bahwa para ilmuwan dalam peradaban Islam pernah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan manusia.
Kemajuan tersebut tidak muncul hanya karena kekayaan ekonomi atau kekuasaan politik.
Ia juga ditopang oleh tradisi belajar, kegiatan ilmiah, dukungan terhadap para ilmuwan, dan keterbukaan terhadap pengetahuan dari berbagai kebudayaan.
Ibn Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah menjelaskan perkembangan masyarakat dan peradaban melalui konsep โumrฤn, solidaritas sosial atau โaแนฃabiyyah, kekuasaan, ekonomi, serta perubahan antargenerasi.
Pemikirannya mengingatkan bahwa peradaban tidak akan bertahan dengan sendirinya.
Ia membutuhkan masyarakat yang memiliki kekuatan sosial, produktivitas, ilmu pengetahuan, dan kelembagaan yang baik.
Pelajaran pentingnya, kebangkitan umat tidak cukup dibangun dengan kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu, tetapi harus diwujudkan melalui kemampuan menciptakan kemajuan pada masa sekarang.
4. KETIKA DUNIA DIGITAL MENJADI RUANG BARU PERADABAN
Perubahan dunia hari ini juga berlangsung melalui teknologi komunikasi.
International Telecommunication Union (ITU) memperkirakan sekitar 6 miliar manusia telah menggunakan internet pada 2025, atau sekitar 74 persen penduduk dunia.
Sementara itu, sekitar 2,2 miliar manusia masih belum terhubung dengan internet.
Perubahan ini memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan memahami agama.
Dahulu, seseorang umumnya memperoleh pengetahuan agama melalui keluarga, guru, pesantren, majelis taklim, atau lembaga pendidikan.
Kini, ceramah agama dapat menjangkau jutaan orang melalui telepon genggam.
Pertanyaan fikih dapat diajukan kepada mesin pencari atau sistem kecerdasan buatan. Potongan video pendek bahkan dapat membentuk persepsi seseorang mengenai ajaran Islam.
Perkembangan ini membawa peluang besar bagi dakwah, tetapi juga menimbulkan persoalan baru.
Bagaimana memastikan kebenaran pengetahuan agama yang beredar?
Bagaimana membedakan otoritas keilmuan dengan popularitas digital?
Bagaimana menjaga tradisi sanad dan kedalaman pemahaman agama ketika informasi semakin cepat dikonsumsi?
Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa dakwah digital tidak cukup hanya menguasai media.
Dakwah juga membutuhkan ketelitian ilmiah, etika komunikasi, kedalaman pemahaman, dan tanggung jawab keagamaan.
5. AL-QUR’AN DAN TANGGUNG JAWAB UMAT TERHADAP DUNIA
Allah Swt. berfirman:
ููููุฐููฐูููู ุฌูุนูููููุงููู ู ุฃูู ููุฉู ููุณูุทูุง ูููุชูููููููุง ุดูููุฏูุงุกู ุนูููู ุงููููุงุณู
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 143)
Konsep ummatan wasaแนญan mengandung tanggung jawab moral yang besar.
Umat Islam tidak cukup hanya menjaga kehidupan keagamaannya sendiri, tetapi juga dituntut menghadirkan nilai keadilan, keseimbangan, dan kebaikan dalam kehidupan manusia.
Allah Swt. juga berfirman:
ููู ูุง ุฃูุฑูุณูููููุงูู ุฅููููุง ุฑูุญูู ูุฉู ูููููุนูุงููู ูููู
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Ayat ini memberikan landasan bahwa risalah Islam memiliki dimensi universal.
Dalam kehidupan modern, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan yang bermutu, perlindungan masyarakat rentan, pengembangan ilmu pengetahuan, keadilan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan upaya perdamaian.
Dengan demikian, dakwah tidak boleh dipersempit hanya menjadi kegiatan ceramah.
Dakwah juga mencakup ikhtiar membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, adil, dan mampu menghadirkan kemaslahatan.
6. DARI DAKWAH YANG REAKTIF MENUJU DAKWAH YANG MEMBANGUN PERADABAN
Salah satu tantangan dakwah kontemporer adalah kecenderungan merespons persoalan setelah masalah berkembang luas.
Ketika muncul penyalahgunaan teknologi, dakwah memberikan peringatan.
Ketika terjadi krisis moral, dakwah menyampaikan nasihat.
Ketika terjadi konflik sosial, dakwah mengajak masyarakat kembali kepada nilai agama.
Semua itu penting. Namun, dakwah juga perlu bergerak lebih jauh.
Dakwah perlu ikut membangun kemampuan masyarakat sebelum krisis terjadi.
Pesantren dapat menjadi pusat literasi digital dan pemberdayaan ekonomi.
Perguruan tinggi Islam dapat menghasilkan penelitian yang membantu penyelesaian persoalan sosial.
Organisasi keagamaan dapat memperkuat pendidikan, pelayanan kemanusiaan, dan kerja sama internasional.
Para ulama dapat menghadirkan bimbingan keagamaan yang tidak hanya menjawab persoalan ibadah, tetapi juga memberikan panduan etis terhadap perkembangan teknologi, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan kebijakan publik.
Inilah arah dakwah transformatif, yaitu dakwah yang menghubungkan ajaran Islam dengan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
7. MASA DEPAN UMAT TIDAK DITENTUKAN OLEH JUMLAH SEMATA
Umat Islam memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap masa depan dunia.
Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang hanya melalui kebanggaan terhadap jumlah penduduk, kekayaan sumber daya alam, atau kejayaan sejarah.
Ia membutuhkan pendidikan yang kuat, tradisi keilmuan yang hidup, kepemimpinan yang amanah, kemampuan berinovasi, dan kesediaan bekerja sama demi kemaslahatan manusia.
Perubahan dunia seharusnya tidak hanya membuat umat Islam bertanya bagaimana mempertahankan identitasnya.
Pertanyaan yang lebih jauh adalah bagaimana nilai-nilai Islam dapat menghadirkan ilmu pengetahuan, keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi kehidupan global.
Sebab, peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang mampu mengikuti perubahan, tetapi juga oleh mereka yang mampu memberikan arah bagi perubahan tersebut.
Barangkali sudah saatnya kita tidak hanya bertanya:
“Apa yang sedang dilakukan dunia terhadap umat Islam?”
Tetapi juga:
“Apa yang dapat disumbangkan umat Islam untuk masa depan dunia?”
Karena sesungguhnya, kemajuan umat bukan hanya tentang seberapa besar jumlah kita, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan bagi kehidupan manusia.
REFERENSI DAN BACAAN LANJUTAN
1. Pew Research Center (2025), Muslim Population Change, 2010โ2020.
2. World Bank, World Development Indicators.
https://data.worldbank.org/
3. International Telecommunication Union (2025), Facts and Figures.
https://www.itu.int/itu-d/reports/statistics/
4. Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah.
5. Malik Bennabi, Shurลซแนญ al-Nahแธah (Syarat-Syarat Kebangkitan).
6. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]: 143 dan QS. Al-Anbiya [21]: 107.
ZAWIYAH JAKARTA
Kajian Islam, Dakwah, dan Peradaban
Bersambung ke Seri 2:
Dari Kejayaan Baghdad hingga Dunia Modern: Mengapa Peradaban Bisa Bangkit dan Mundur?
Semoga bermanfaat dan menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesadaran keilmuan, dakwah, dan peradaban umat Islam.
========
Maโhad Aly Zawiyah Jakarta kembali membuka Penerimaan Mahasantri Baru untuk Program Non-Formal:
S1 Ilmu Fiqih โ Durasi 4 Tahun
S2 Ilmu Fiqih & Ushul Fiqih โ Durasi 2 Tahun
Kuliah setiap Sabtu & Ahad
Pukul 07.15 โ 15.30 WIB
Jakarta Timur (offline & full interaksi)
—
Lokasi: Gedung Yayasan Terpadu Shibghatullah
Jl. Budi Harapan No. 40, Cipinang Melayu, Jakarta Timur
Kontak: Ci Mia โ +62 812-1037-5150
