Agama Bersumber dari Langit: Menjadi Pemandu Umat Manusia

 

Oleh: Hayat Abdul Latief

Berbeda dengan sistematika penulisan kitab hadis yang lain, Imam Bukhari mengawali kitab kumpulan hadits shahihnya dengan kitab atau pasal permulaan turunnya Wahyu. Seolah-olah memberikan penegasan bahwa asal-usul agama adalah berasal dari langit, berasal dari Wahyu, atau berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.

إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَٰرُونَ وَسُلَيْمَٰنَ ۚ وَءَاتَيْنَا دَاوُۥدَ زَبُورًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. An-Nisa: 163)

Nabi Muhammad merupakan satu diantara rangkaian nabi yang mendapatkan Wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Adalah sebagai perkataan dusta apabila ada orang yang mengatakan Allah tidak pernah menurunkan wahyu kepada siapapun. Allah mengetahui bahwa di kemudian hari ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak pernah menurunkan wahyu. Sebagaimana termaktub dalam ayat berikut:

{وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ}

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, “Allah tidak menurun­kan sesuatu pun kepada manusia.” (QS. Al-An’am: 91)

Berkaitan dengan surat an-nisa ayat 163 di atas, Syeikh Abdurrahman As-Sa’di berkomentar, ” Dalam ayat tersebut terdapat beberapa faedah, di antaranya:

1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah rasul yang baru, bahkan sebelumnya Allah telah mengutus pula para rasul yang jumlahnya banyak. Oleh karena itu, menganggap asing kerasulan beliau tidaklah tepat, dan anggapan seperti itu merupakan kebodohan dan karena sikap keras menolak kebenaran.

2. Allah mewahyukan kepada Beliau sebagaimana Allah mewahyukan kepada rasul-rasul yang lain, berupa ushul (dasar-dasar agama) dan keadilan yang disepakati oleh semua rasul, dan bahwa satu sama lain saling membenarkan.

3. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk para rasul, dakwah Beliau sama dengan dakwah para rasul, akhlak Beliau sama dan tujuannya pun sama.

4. Nasab beliau tidak bersambung dengan orang-orang yang tidak dikenal, orang-orang yang suka berdusta apalagi dengan raja-raja yang zalim.

5. Disebutkan para rasul sebelumnya untuk mengangkat nama mereka dan memuji mereka serta mempelajari hal ihwal mereka. Mereka adalah orang-orang yang berbuat ihsan, dan orang-orang yang berbuat ihsan berhak mendapatkan pujian yang baik di tengah-tengah manusia, sedangkan para rasul berada dalam tingkatan paling atas dalam berbuat ihsan.

Para nabi satu sama lain merupakan mata rantai yang tidak terputus sampai kepada Rasulullah. Diperkuat oleh ayat yang lain bahwa mereka semuanya muslim; tunduk dan patuh terhadap kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam arti Islam sebagai ajaran dan perilaku sudah ada semenjak manusia menapakkan kaki di bumi.

Berbeda dengan agama, budaya dan filsafat merupakan hasil dari akal budi dan pola pikir manusia dengan kata lain adalah produk bumi. Bila agama sumbernya adalah Wahyu sedangkan budaya dan filsafat bersumber dari akal pemikiran manusia.

Agama bertugas membimbing umat manusia, memperbaiki perilaku dan pola pikir untuk tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala pencipta manusia, sangat tahu bahwa manusia adalah lemah perlu regulasi dari dari- Nya, yang menyelamatkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Bukan malah sebaliknya filsafat dan budaya manusia mempengaruhi agama yang pada akhirnya ajaran para nabi yang suci dari langit menjadi ternodai oleh filsafat manusia.

Adanya tahrif, penyelewengan, pengurangan dan penambahan yang terdapat dalam kitab-kitab suci adalah sebagai bukti bahwa ajaran mereka telah ternodai oleh tangan-tangan manusia. Dan itu tidak berlaku terhadap Al-Qur’an, karena Allah berjanji akan selalu menjaganya sampai akhir zaman.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿٩﴾

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sebagai pengandaian, seandainya seluruh manuskrip agama-agama di dunia terbakar atau dibakar dengan sengaja, tanpa tertinggal walaupun selembar, maka hanya tinggal Al-Qur’an yang bisa ditulis dengan sebagaimana mestinya rangkaian surat dan juznya. Mengapa demikian? Karena dari generasi ke generasi zaman ini tidak kosong dari para penghafal Alquran sebagai bukti penjagaan Allah terhadap kitab suci ini.

Al-Qur’an telah memberikan tantangan syarat keotentikan sebuah kitab suci adalah terbebas dari kontradiksi di dalamnya. bila di dalamnya banyak pertentangan di antara ayat satu dengan ayat yang lain dan antara pasal satu dengan pasal yang lain maka bisa dipastikan bahwa kitab suci itu telah ternodai oleh tangan-tangan kotor manusia.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (سورة النساء: 82)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa: 82)

Ada statement yang menarik dari para ulama, apabila umat Islam jauh dari ajaran agamanya maka akan mengalami kemunduran. stagnan dan akan dihinakan oleh bangsa lain. Namun apabila umat agama lain meninggalkan ajaran agamanya maka akan memperoleh kemajuan dalam bidang teknologi dan sains.

Mengapa demikian? Allah subhanahu wata’ala sudah menetapkan sunnatullah bahwa kemuliaan umat Islam hanya dengan agama Islam bukan dengan isme-isme yang lain. Sedangkan umat agama lain dia akan maju dari sisi duniawi karena meninggalkan ajaran keliru yang terdapat dalam kitab sucinya. Dan itu benar adanya bangsa Eropa sekarang maju dalam bidang teknologi dan sains karena mereka meninggalkan ajaran agamanya yang dulu pernah menyiksa para ilmuwan dan scientist dengan alasan yang dibuat-buat bahwa eksperimen itu bertentangan dengan kitab sucinya. Meski maju di bidang teknologi dan sains, pada hakekatnya mereka mundur dalam bidang rohani dan dan falsafah hidup.

*Kesimpulan:*

*Satu,* agama Islam bersumber dari Allah dan tidak ada keraguan di dalamnya. Menjadi mulia dengan berpegang teguh kepadanya dan menjadi hina apabila jauh darinya.

*Dua,* budaya dan filsafat berasal dari pemikiran cipta daya karsa manusia, yang sangat terbatas dalam mengetahui bidang rohani dan penuh ketimpangan dalam mengatur regulasi kehidupan.

*Tiga,* agama yang seharusnya mempengaruhi budaya dan filsafat manusia, bukan sebaliknya. Posisi Wahyu harus di atas dari pada budi daya karsa dan filsafat manusia.

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *