Antara Kumandang Adzan dan Euforia Penyambutan Tahun Baru Masehi

Oleh : Hayat Abdul Latief*

Coba perhatikan lafadz adzan dan terjemahannya berikut,

(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّاالله
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
(١x)اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

Artinya,

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah. Marilah Sholat. Marilah menuju kepada kejayaan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah

Untuk adzan Subuh ditambah lafadz berikut Setelah hayya ‘alal falaah,

اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Sholat itu lebih baik dari pada tidur.

Di dalam adzan, ada kandungan berupa kebesaran Allah, kalimat tauhid, ketaatan, perintah salat dan perintah menggapai kemenangan.

*Asal-Muasal Adzan*

Suatu kali seorang Anshar Abdullah ibnu Zaid menceritakan mimpinya pada Nabi Muhammad mengenai seorang lelaki yang mengajarinya suatu metode memanggil orang-orang untuk shalat. Nabi yang mengamini perihal mimpi tersebut lantas memanggil Bilal yang terkenal punya suara merdu untuk berdiri di puncak rumah tertinggi dekat masjid guna memanggil orang-orang supaya shalat.

Azan disyari’atkan di Madinah pada tahun pertama Hijriyah. Inilah pendapat yang lebih kuat. Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadits Ibnu ‘Umar, di mana beliau berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا ، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى . وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ . فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ »

“Kaum muslimin dahulu ketika datang di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkira-kira waktu sholat, tanpa ada yang menyerunya, lalu mereka berbincang-bincang pada satu hari tentang hal itu. Sebagian mereka berkata, gunakan saja lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh Nashrani. Sebagian mereka menyatakan, gunakan saja terompet seperti terompet yang digunakan kaum Yahudi. Lalu ‘Umar berkata, “Bukankah lebih baik dengan mengumandangkan suara untuk memanggil orang shalat.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Bilal bangunlah dan kumandangkanlah azan untuk shalat.” (HR. Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377)

*Tahun Baru Masehi*

Arthur M. Eckstein dalam buku Senate and General: Individual Decision-making and Roman Foreign Relations 264-194 B.C. (1987) menuliskan, tahun 45 SM, tidak lama setelah dinobatkan sebagai kaisar, Julius Caesar memberlakukan penanggalan baru untuk menggantikan kalender tradisional yang sudah digunakan sejak abad ke-7 SM. Julius Caesar dan Senat Romawi kemudian memutuskan tanggal 1 Januari sebagai hari pertama dalam kalender baru itu. Istilah Januari diambil dari nama salah satu dewa dalam mitologi bangsa Romawi, yakni Dewa Janus.

Dijelaskan, Dewa Janus memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Dalam kepercayaan orang Romawi, Janus diyakini sebagai dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Maka, sejak diberlakukan kalender anyar itu, setiap tengah malam jelang pergantian tahun, yakni 31 Desember, orang-orang Romawi menggelar perayaan untuk menghormati Dewa Janus. Mereka membayangkan, satu wajah Janus melihat ke tahun lama dan wajah lainnya menatap hari-hari ke depan di tahun baru.

Yang dilakukan masyarakat dunia, terutama orang Eropa yang Kristiani ketika merayakan tahun baru Masehi yaitu dengan membakar petasan, meniup terompet dan menyalakan kembang api juga tidak tidur untuk menunggu pergantian tahun.

Kalau anak-anak muslim melakukan hal yang sama dengan mereka berarti mereka melakukan tasyabbuh menyerupai dan meniru-niru tradisi umat lain dan itu dilarang dalam Islam. Rasulullah shalla sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” HR. Abu Daud no. 4031

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah SAW, Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi? Beliau menjawab, Selain mereka lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 7319).

Walhasil,
panggilan ibadah untuk orang Nasrani dengan membunyikan lonceng, panggilan ibadah orang Yahudi dengan meniup terompet dan panggilan orang majusi dengan menyalakan api di tempat yang tinggi. Dan perbuatan yang menyerupai hal di atas seperti gebyar kembang api, hiruk-pikuk petasan bersaut-sautan dan meniup terompet semuanya terjadi pada euforia menyambut kedatangan tahun baru Masehi.

Sebagai muslim, kita harus bangga terhadap ajaran agama kita dan tidak boleh meniru tradisi tradisi umat yang lain yang didalamnya ada mitologi syirik dan tradisi hedonisme yang menjauhkan manusia dari Allah subhanahu wa ta’ala dan lalai dari kehidupan akhirat. Dengan Islam hidup kita mulia, di luar Islam hidup kita hina dan celaka. Wallahu a’lam.

Maraji: Al Qur’an, Hadits, dan lainya.

*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *