Berhala adalah objek berbentuk makhluk hidup atau benda yang didewakan, disembah, dipuja dan dibuat oleh tangan manusia.

Kata kerja dari memberhalakan berarti memuja dan mendewakan, bisa pula dijadikan menjadi kata kerja yang artinya berbeda lagi, seperti memberhalakan sesuatu tidak selalu berarti bahwa pemujanya mengatakan “inilah Tuhan yang harus disembah”. Tidak juga berarti bahwa ia mesti bersujud dihadapannya.

Kemudian kalimat memberhalakan pun meluas menjadi dapat diartikan kepada rasa suka seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa sukanya kepada Allah. Misalnya, lebih takut kepada seseorang/ benda dibanding rasa takut kepada Allah, atau lebih mencintai seseorang/ benda dibanding cintanya kepada Allah.

Di dalam Al-Qur’an kata berhala terdapat pada ayat yang berbunyi:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (Q.S Al-A’raf: 191)

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Q.S. An-Nahl: 20)

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya yang berjudul Qashash al-Anbiyya menyebutkan bahwa, berhala yang pertama kali dibuat adalah Wadd, Suwâ’, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr, kesemuanya adalah para ulama yang hidup pada masa antara Nabi Adam AS dan nabi Nuh AS. Dan mereka semua adalah anak dari Nabi Adam AS. Adapun Wadd adalah anak tertua dan paling berbakti kepada Adam AS.

Dikisahkan melalui hadits bahwa bangsa Arab Jahiliyah pun telah meletakkan berhala disekitar Kaabah sebanyak 360 berhala. Berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan nama-nama perempuan atau lelaki.

Dalam perkembangannya bentuk berhala dan proses penyembahan terhadap berhala juga mengalami perubahan baik dari bentuknya, namanya. Dalam sejarah penyembahan terhadap berhala (paganisme), suatu kaum tak pernah melakukannya secara langsung, melainkan secara bertahap. Perubahan tersebut terjadi  baik dari sisi bentuknya, namanya, sumbernya, sejarahnya, dll.

Jika kita bisa klasifikasikan maka berhala itu adalah:

– Patung-patung yang terbuat dari kayu dan batu,
– Benda-benda langit
– Raja-raja atau penguasa yang diagungkan
– Hewan-hewan yang memiliki kekuatan
– Roh halus
– Tumbuhan
– Makanan

Allah mengumpamakan kepercayaan orang-orang musyrik terhadap kekuatan berhala-berhala yang disembahnya sama dengan kepercayaan laba-laba terhadap kekuatan sarangnya, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala-berhala itu, dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, jikalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, sarang itu akan hancur.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (Q.S Al-Ankabut: 41)
Secara historis “Fathul Makkah” Sebagai kemenangan umat islam, yang disimbolkan dengan dilenyapkannya seluruh berhala yang mengitari ka’bah.

Naluri manusia tertarik menyembah berhala modern, yang pada hakekatnya adalah bentuk dari penyembahan diri-sendiri dengan menyandingkan bahkan mengesampingkan Allah sang Pencipta. Berhala adalah segala hal yang membuat persaingan kuasa Tuhan, yang hari ini berkembang dan berevolusi menjadi sesuatu benda, sifat, dan lain-lain dalam bentuk kekuasaan, kekayaan, dan lain-lain yang dianggap mampu memberikan kebaikan dan kemudharatan diri, dan memiliki segala kesempurnaan tanpa cacat, diyakini secara pribadi dan komunal, seperti Tuhan dengan segala kesempurnaan, hakekatnya adalah “tandingan Tuhan” atau bisa dikata sebagai “neo berhala”.

Berhala pada abad ke-21 ini jauh berbeda dari zaman sebelumnya. Pada jaman ini, banyak yang menggantikan Latta, Manna, Uzza, Aykah, dsb dengan gairah yang menggebu-gebu mengejar kekayaan, ketenaran, atau “kesuksesan” menurut dunia. Ada yang berusaha supaya dirinya dihormati orang lain, mengejar kekayaan dan kenikmatan, kenyamanan, dan hal-hal lainnya yang tak berarti.

Sayangnya, masyarakat di sekeliling kita malah menghormati penyembah berhala modern yang demikian. Pada akhirnya, tiada bedanya antara kesenangan hampa yang kita kejar ataupun ilah-ilah palsu yang kita sembah; hasilnya sama — keterpisahan dari Allah Tuhan yang Esa.

Memahami berhala kontemporer dapat membantu kita memahami daya tariknya. Berhala dapat berupa apapun yang kita kedepankan di dalam kehidupan kita, apapun yang menempati tempat Allah dalam hati kita, baik itu harta benda, karir, prestasi, hubungan, hobi, olah-raga, hiburan, tujuan, keserakahan, kecanduan terhadap alkohol/narkoba/judi/pornografi, cinta diri sendiri, gila hormat, sarana prasarana teknologi, dsb.

Bahkan berhala-berhala kontemporer masa kini begitu canggih, rumit segala-galanya, abstrak wujudnya, halus luar biasa dan kadang punya daya tarik yang begitu merangsang. Dia bisa juga merupakan ideologi ataupun pemikiran-pemikiran (: isme-isme). Sembahan baru lainnya adalah premis-premis, simbol-simbol dan norma-norma yang bertentangan. Sesembahan itu mengakar kuat dalam diri manusia. Dan illah-illah ini diciptakan oleh manusia, dan menyembah ciptaan itu tidak lain dari penyembahan berhala. Terkadang, agama dan ayat-ayat suci, diperalat untuk memuaskan kehendak berhala itu.

Berhala-berhala kontemporer atau berhala-berhala modern ini berkembang di luar batas, hingga harkat martabat, etika, moral, norma manusia dan keimanan semakin lama semakin menipis habis. Semua sudah mulai diukur dengan alat-alat modern. Suatu kemajuan diukur dengan pemenuhan alat-alat teknologi, ilmu pengetahuan sains yang sifatnya material. Secara simbolik, berhala terbesar, sebagaimana disimbolkan oleh patung terbesar sesembahan Namrud, tak bisa (atau tak mau dalam konteks berhala batin) menghancurkan berhala-berhala kecil karena mereka adalah penopang eksistensi berhala terbesar itu.

Walau kita tahu egoisme akan menghancurkan diri kita, tetapi karena kita mencintai berhala ego ini, maka kita mencari pembenaran dengan cara berusaha menunjukkan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Orang lain harus lebih salah daripada kita.

Kita harus menjaga diri dari tipuan-tipuan setan yang akan menjerumuskan kita, baik itu setan yang terlihat maupun setan yang tidak terlihat. Kita jangan sampai terpedaya dengan kemajuan zaman. Jangan sampai kita menyembah yang bukan sepatutnya kita sembah. Jangan menyembah sesama manusia atau bahkan menyembah hasil buatan tangan atau akan manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah :

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنْ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah) ‘ (Qs. Al Hajj: 30).

Dan menjadi kepatutan bagi kita untuk tidak hanya menjauhi segala jenis berhala, tetapi juga meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah, agar terjaga dari segala bencana penghambaan diri kepada segala bentuk berhala.

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim :36)

Oleh: Badrah Uyuni

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *