Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Cinta perlu dibuktikan dengan pengorbanan dan kesungguhan. Demikian juga cinta kepada Rasulullah SAW tidak cukup diucapkan dengan mulut semata, tidak cukup retorika berbalut dusta dan tidak cukup kata-kata tanpa bukti nyata. Di bawah ini ada tiga bukti bahwa seseorang berhak dikatakan mencintai Rasulullah SAW:

 

a. Mengikuti Sunnah-sunnahnya.

 

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

 

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

 

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir mengetengahkan tiga asbabun nuzul Surat Ali Imran ayat 31 ini:

 

1. Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Hasan Al Bashri, ia berkata, “Pada masa Rasulullah SAW ada beberapa kaum berkata, “Wahai Muhammad, sungguh demi Allah, kami mencintai Tuhan kami.” Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

 

2. Muhammad bin Ja’far bin Zubair berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan utusan kaum Nasrani Najran yang menganggap bahwa apa yang mereka asumsikan tentang diri Nabi Isa ‘alaihis salam merupakan sebuah wujud kecintaan kepada Allah SWT.”

 

3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika kaum Yahudi mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak Allah SWT dan para kekasih-Nya, maka Allah SWT menurunkan ayat ini. Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan ayat ini kepada kaum Yahudi tetapi mereka menolaknya.”

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

 

“Tak akan sempurna iman kalian, hingga hawa nafsu kalian tunduk terhadap risalah yang saya sampaikan.”

 

Hadits ini dibawakan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Arba’iin, yang masyhur dengan sebutan Arba’iin An-Nawawiyyah. Beliau mengatakan,” Hadits ini Shahih.” Begitu pula Abu Nu’aim membawakan hadits ini dalam kitabnya Al-Arba’iin. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Tabrani dan yang lainnya. Matan hadits ini sesuai dengan firman Allah SWT:

 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

” Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

 

b. Banyak menyebut namanya dalam shalawat. Semua perintah agama, tidak perlu Allah sendiri yang mencontohkannya kecuali dalam hal shalawat kepada Rasulullah. Firman-Nya:

 

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

 

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

 

Pada bulan Sya’ban peristiwa perpindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram Makkah terjadi. Selain peristiwa itu, terdapat sebuah peristiwa agung yang perlu diketahui oleh umat muslim yakni turunnya Surah Al-Ahzab ayat 56. Peristiwa ini terjadi menjelang akhir bulan Sya’ban sebagai momentum diturunkannya perintah selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Penjelasan tentang sejarah turunnya ayat di atas salah satunya terdapat dalam Kitab Madza fi Sya’ban dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Terkait dengan pahala orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad, terdapat banyak riwayat yang menerangkannya. Rasulullah SAW bersabda:

 

مَنْ صَلَّى عَليَّ صَلاةً واحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرا

 

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radiallahu ‘anhu)

 

c. Mencintai para ulama sebagai pewaris para nabi. Perhatikan sabda Nabi:

 

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

 

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak”. (HR. At-Tirmidzi no. 2681)

 

Mengapa mencintai ulama bagian dari mencintai Rasulullah? Karena kita mendapatkan ilmu agama seperti cara berwudhu, shalat, zakat, puasa, haji dan seterusnya; kita peroleh dari para ulama yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘laihi wasallam. Merupakan sebuah kehinaan apabila umat ini jauh dan dijauhkan dari para ulama.

 

Faedah:

 

Satu, di antara bukti mencintai Rasulullah; mengikuti sunah-sunahnya, banyak bershalawat atasnya dan mencintai para ulama sebagai pewaris para nabi.

 

Dua, mengaku mencintai Allah namun tanpa mengikuti Rasulullah merupakan cinta yang dusta.

 

Tiga, semua perintah agama, tidak perlu Allah SWTsendiri yang mencontohkannya kecuali dalam hal shalawat kepada Rasulullah SAW.

 

Empat, merupakan sebuah kehinaan apabila umat ini jauh dan dijauhkan dari para ulama. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *