Oleh: Hayat Abdul Latief
*Husnudzon kepada Allah SWT*
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih)
Husnudzon merupakan ibadah hati yang bernilai besar. yakni membangun keyakinan yang benar kepada Allah sesuai dengan keagungan-Nya, Dia Maha Pengampun, Dia menerima taubat dan Dia Tempat Bernaung. Husnudzon kepada Allah mendorong seseorang untuk beramal. karena hakikatnya husnudzon membangun sebuah harapan yang besar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan-amalan baiknya.
*Yang Tertipu dengan Husnudzonnya*
Ketika seorang berhusnudzon kepada Allah mengharap pahala darinya sementara dia tidak beramal atau terus melakukan maksiat maka keyakinan ini keliru bertentangan dengan spirit dari husnudzon itu sendiri. Contoh-contoh berikut ini adalah orang yang tertipu dengan dzonnya:
1. Yakin Allah Maha Pengampun tetapi tidak bertaubat dan tetap bertahan dalam kubangan maksiat.
2. Yakin Allah Maha pemberi tapi tidak mau berdoa kepada-Nya.
Di sini jelas sekali perbedaan antara husnudzon yang benar dengan orang yang tertipu. Husnudzon hakekatnya adalah memberikan motivasi untuk beramal karena mengharap rahmat kepada Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan orang yang tertipu adalah dia berharap kepada Allah namun tanpa mengiringi dengan amalan-amalan.
*Su’udzon kepada Allah SWT*
kita diperintahkan untuk menjauhi buruk sangka kepada Allah subhanahu wata’ala. Contoh-contoh buruk sangka kepada Allah subhanahu wata’ala:
1. Tidak mau bertaubat, karena berprasangka Allah tidak menerima taubat hamba-Nya.
2. Tidak mau beramal karena berprasangka Allah tidak menerima amalnya.
3.Tidak mau berobat karena berprasangka bahwa Allah tidak menyembuhkan penyakitnya.
Kerugian orang yang berprasangka buruk kepada Allah yaitu pesimis dalam menghadapi hidup dan kehidupan dan tidak mendapat pertolongan dari-Nya.
*Kesimpulan:*
*Satu,* Allah tergantung prasangka hamba-Nya
*Dua* prasangka baik kepada Allah mendorong seorang hamba untuk beramal saleh dan mengejar kasih sayang-Nya.
*Tiga,* apabila ada orang yang berprasangka baik kepada Allah tetapi tidak beramal sholeh pada hakekatnya dia tertipu dengan prasangkanya.
*Empat,* kita diperintahkan untuk menjauhi buruk sangka kepada Allah subhanahu wata’ala.
*Lima,* kerugian orang yang berprasangka buruk kepada Allah yaitu pesimis dalam menghadapi hidup dan kehidupan dan tidak mendapat pertolongan dari-Nya Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Pelayan Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

